Wednesday, October 18, 2006

Fit and Proper Test Kandidat Bupati/Wabup dari PDIP Buleleng

SUASANA sekretariat DPC PDIP Buleleng mendadak riuh. Kader dan simpatisan banteng Den Bukit terlihat tertawa dan sesekali tepuk tangan. Itu bukan ada acara pesta atau syukuran. Tapi, bagian dari penjaringan calon bupati dan wakil bupati Buleleng dari PDIP. Kemarin, para kandidat mengikuti fit and proper test. Di antara para kandidat yang tampil, kandidat wabup Drs.Nyoman Artadana, M.Si, cukup membuat hadirin tertawa. Artadana yang juga sekretaris KPU Bali ini berpaket dengan kandidat bupati Dewa Nyoman Sukrawan.

Di hadapan kader dan pengurus PDIP Buleleng, Artadana melancarkan psycho war untuk menjatuhkan mental kandidat lain. Artadana menyebutkan pasangannya Dewa Nyoman Sukrawan dengan panggilan Bapak Bupati Sukrawan. Kemudian ia meminta audiens menilai apakah cocok Sukrawan disebut Bapak Bupati Sukrawan. Audiens yang adalah kader dan simpatisan PDIP langsung menyambut dengan pekikan cocok disambung dengan aplaus. "Kenapa saya sebut bapak bupati Sukrawan? Ini untuk membiasakan lidah kita menyebut beliau Bapak Bupati Sukrawan," dalih Artadana lagi-lagi disambut pekikan dan tepuk tangan riuh dari kader dan simpatisan PDIP yang hadir.

Dengan bahasa kampanye, Artadana membakar semangat, loyalitas dan militansi para kader PDIP untuk memenangkan paket Dewa Sukrawan-Artadana pada rakercabsus mendatang. "Mustahil kalau seorang ketua DPC PDIP tidak lolos rakercabsus," tandas Artana bak orator ulung.

Dengan bahasa meledak-ledak, Artana kembali mengingatkan kader PDIP untuk memilih kandidat bupati/wabup bukan karena kekuasaan melainkan karena loyalitas dan militan. "Kalau saudara-saudara ingin uang maka memilih kekuasaan dan itu hanya sesaat. Tapi karena loyalitas dan militan berarti lima tahun yang akan datang pun tetap akan memilih," tegasnya.

Sementara itu, kandidat bupati Sukrawan menegaskan bahwa apabila terpilih sebagai bupati, dirinya tetap berada di DPC PDIP. Demikian pula bila tidak terpilihpun Sukrawan akan tetap di DPC PDIP karena dirinya mengaku dilahirkan dan dibesarkan PDIP.

"Selama ini semua berpikir untuk menang, mereka tidak pernah bepikir untuk kalah. Kalau saya justru sebaliknya, kalau saya tidak terpilih, saya akan tetap di tengah-tengah saudara-saudara di DPC PDIP Buleleng. Jika saya terpilih, saya akan tetap bekerja membesarkan PDIP," janji Sukrawan dengan roman muka tenang dan menyejukan.

Sedangkan, kandidat bupati Drs.Nyoman Sudharmaja Duniaji juga mengingatkan kader-kader PDIP untuk hati-hati memilih figur untuk menjadi kandidat bupati/wabup dari PDIP. "Pilihlah figur yang bermoral dan pernah berjuang untuk PDIP. Jangan memilih para kutu loncat dan oportunis. Jangan memilih kucing dalam karung," tandasnya.

Kandidat bupati lainnya IGB Harnaya, SH, menyatakan saat ini dirinya sebagai penumpang kendaraan yang bernama PDIP. Nanti kalau sudah terpilih ia meminta izin akan dirinya dijadikan sopir untuk membawa kendaraan bernama PDIP itu.

Namun tokoh puri itu mengingatkan bahwa untuk membesarkan PDIP
perlu kekompakan dan kebersamaan seluruh simpatisan dan kader PDIP di Buleleng. Ini lantaran hasil observasi dirinya di sembilan kecamatan di Buleleng menyebutkan bahwa kendaraan PDIP ini perlu perbaikan di beberapa bagian agar bisa berjalan normal sebagai kendaraan besar. ***

FRANCELINO XXF, Singaraja 

Sumber: Radar Bali 

Posted by at 07:54:11 | Permanent Link | Comments (0) |

Monday, October 16, 2006

Enam Figur Masuk Nominasi Calon Bupati Gianyar

SEJUMLAH tokoh publik terjaring masuk daftar 'Figur Favorit Calon Bupati dan Wakil Bupati Ginyar' versi pembaca NusaBali. Mereka lolos dalam penjaringan setelah memenuhi standar yakni minimal diajukan oleh 500 pendukungnya.

Ada enam figur favorit yang diajukan untuk posisi Buapti dan dianggap layak beradu dalam Pilkada Gianyar, akhir 2007 mendatang. Keenam figur ini masing-masing Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati alias Cok Ace (kini menjabat sebagai Ketua DPD PHRI Bali), Anak Agung Gde Agung Bharata (kini Bupati Gianyar), Tjokorda Gede Raka Kerthiyasa alias Cok Ibah (kini menjabat sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Gianyar), Letkol CAJ Ida Bagus Gaga Ardhana (kini Kapendam IX/Udayana), I Nyoman Partha (kini Sekretaris DPD PDIP Bali), dan Dewa Putu Wardana (Wakil Bupati Gianyar saat ini). Sedangkan empat figur favorit, yang oleh pendukungnya diajukan menempati posisi Wakil Bupati Gianyar, masing-masing I Kadek Diana (tokoh PDIP Gianyar), Ir Made Budiasa (kini Kepala Desa Peliatan dan juga Ketua Maha Gotra Sanak Sapta Resi Kabupaten Gianyar), dan Anak Agung Oka Wisnumurti (tokoh independen yang kini menjabat sebagai Ketua Komisi Pemilihan Umum/KPU Bali). Nama-nama ini diajukan pendukungnya masing-masing, sejak masa penjaringan 'Figur Favorit Calon Bupati dan Wakil Bupati Ginyar' versi pembaca NusaBali digelindingkan, satu setengah bulan yang lalu.

Sebetulnya, di luar 11 figur favorit tadi, sejumlah tokoh publik juga muncul dalam penjaringan NusaBali. Hanya saja, dukungan yang mereka raih belum memenuhi syarat minimal 500 suara sebagaimana yang ditetapkan. Tapi, nama mereka masih bisa lolos penjaringan, jika tambahan suaranya di pekan-pekan berikutnya cukup signifikan dan mampu bersaing. Sejumlah tokoh publik yang diajukan pendukung, tapi belum memenuhi suara minimal tersebut, antara lain, Kusuma Negara (tokoh senior Partai Golkar) dan I Wayan Nuastha (mantan anggota Fraksi PDIP DPRD Bali 1999/2003 asal Desa Petak, Kecamatan Gianyar, yang kini jadi tokoh Partai Golkar). Suara dukungan untuk Kusuma Negara dan Nuastha baru masuk pada saat-saat terakhir menjelang pengumuman, pertengahan Oktober 2006. Perlu dicatat, dari 11 figur yang lolos penjaringan tahap awal, banyak di antaranya yang memiliki suara dukungan jauh di atas standar minimal yang ditetapkan NusaBali. Jumlahnya bahkan mencapai ribuan. Nah, figur seperti ini punya keuntungan tersendiri, karena memiliki tabungan suara yang bisa membantu di pekan-pekan berikutnya. Tapi, ada juga figur yang lolos penjaringan dengan suara dukungan baru mencapai kisaran 800-an. Mereka ini harus berjuang ekstra pada pekan-pekan berikutnya, agar tetap bertahan dalam bursa 'Figur Favorit Calon Bupati dan Wakil Bupati Ginyar' versi pembaca NusaBalii. Asal tahu, pengumuman bursa 'Figur Favorit Calon Bupati dan Wakil Bupati Ginyar' edisi perdana ini, Senin (16/10), belum menggunakan sistem peringkat. Artinya, urutan penempatan figur (dari kiri ke kanan) bukan berdasarkan ranking perolehan suaranya, melainkan berdasarkan urut abjad nama. Itu sebabnya, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati alias Cok Ace ditempatkan di posisi urut satu, karena nama depannya adalah Artha. Demikian pula Dewa Putu Wardana, sementara ditempatkan di urutan terakhir posisi Calon Bupati, karena urut abjadnya (W) memang paling akhir. Tapi, mulai edisi Senin (30/10), dua pekan depan, NusaBali akan mulai menyusun posisi penempatan figur-figur berdasarkan ranking suara komulatif yang dimilikinya. Seharusnya, hasil polling dimulai Senin (23/10). Namun, karena hari itu NusaBali tidak terbit terkait perayaan Hari Suci Idul Fitri, maka ditangguhkan sepekan. Artinya, masyarakat punya waktu lebih lama lagi untuk mnenggenjot suara dukungan buat jagonya.

Karena itu, masyarakat Gianyar dipersilakan berpacu menggelontorkan suara dukungan untuk figur jagoannya masing-masing, baik posisi Calon Bupati maupun Calon Wakil Bupati. Silakan kirim Blanko 'Figur Favorit Calon Bupati dan Wakil Bupati Ginyar' sebanyak-banyaknya, sesuai edisi yang telah disiapkan. Perlu dicatat, Blanko 'Figur Favorit Calon Bupati dan Wakil Bupati Ginyar' versi pembaca NusaBali nantinya akan dimuat tiga kali dalam sepekan, setiap edisi Senin, Rabu, dan Jumat. Khusus untuk edisi Senin, dimuat di halaman Utama (hal 1) NusaBali, bersamaan dengan pengumuman peta persaingan sementara bursa dalam sepekan. Sedangkan untuk edisi Rabu dan Jumat, akan dimuat di halaman Kalungbinar (hal 12) NusaBali. Hasil sementara bursa 'Figur Favorit Calon Bupati dan Wakil Bupati Ginyar' ini hanyalah aspirasi pembaca setia NusaBali, yang belum tentu mencerminkan realitas politik krama Gianyar secara keseluruhan. Pilkada Gianyar sendiri baru akan dilaksanakan setahun lagi. Bursa 'Figur Favorit Calon Bupati dan Wakil Bupati Ginyar' rencananya akan digeber NusaBali hingga ada calon tetap dari partai, kemudian dilanjutkan poling berikutnya dengan figur mengerucut sampai menjelang hari H Pilkada. Perkembangan hasilnya dipublikasikan secara berkala sepekan sekali setiap edisi Senin. Bagi yang ingin berpartisipasi, silakan kirim aspirasi Anda ke redaksi NusaBali Jalan Hayam Wuruk 110 Denpasar dan agen-agen NusaBali terdekat di kota Anda. Figur favorit Anda harus ditulis dalam blanko. Dan, blanko yang dikirimkan harus sesuai dengan nomor edisi. Batas akhir penggunaan blanko adalah hingga tanggal 7 di bulan berikutnya. Misalnya, blanko edisi Oktober hanya berlaku hingga tanggal 7 November. Jika blanko untuk edisi Oktober baru masuk ke redaksi NusaBali setelah tanggal 7 ONovember, maka suara pilihan Anda didiskualifikasi. (nar)

Sumber: Nusa bali

Posted by at 09:27:48 | Permanent Link | Comments (0) |

Thursday, October 12, 2006

Jelang Pilkada Gianyar Akhir 2007


Kendati pemilihan kepala daerah (Pilkada) Gianyar baru akan dilaksanakan akhir tahun 2007, DPD PDIP Bali ternyata telah menggodok skenario untuk diluncurkan sebagai jago partai Banteng Gemuk. PDIP kemungkinan besar akan memasang paket 'juara bertahan' Anak Agung Gde Agung Bharata-Dewa Putu Wardana.

Pemasangan kembali paket Agung Bharata-Wardana ini merupakan salah satu hasil keputusan rapat DPD PDIP Bali, beberapa waktu lalu. Hal itu secara tak terduga disampaikan Sekretaris DPD PDIP Bali, I Nyoman Parta, Rabu (11/10), saat menerima utusan panitia Rakercab DPC PDIP Gianyar, Pande Putu Parwata, di Sekretariat DPD PDIP, Jalan Banteng Denpasar. Parta tidak mau membeberkan nomor surat keputusan soal paket Agung Bharata-Wardana untuk Pilkada Gianyar 2007. Namun, Parta yang didampingi Wakil Ketua Bidang Infokom DPD PDIP Bali, Adenan, menjelaskan ada keputusan seperti itu. Skenario DPD PDIP yang 'dibocorkan' Parta ini terbilang cukup mengejutkan. Soalnya, untuk Pilkada Buleleng yang dijadwalkan Juni 2007 mendatang saja, PDIP melakukan menjaringan paket Calon Bupati (Cabup)/Calon Wakil Bupati (Cawabup), hingga akhirnya muncul 8 paket. Dan, hingga saat ini, PDIP belum memilih siapa di antara 8 paket itu yang bakal diluncurkan ke Pilkada Buleleng. Khusus untuk Pilkada Gianyar 2007, beberapa figur publik juga sudah santer disebut-sebut bakal maju dengan paket sebagai Cabup. Nama Agung Bharata (Bupati Gianyar saat ini) dan Wardana (kini Wakil Bupati Gianyar) juga disebut-sebut akan sama-sama maju dengan paket sebagai Cabup. Wardana punya kans untuk itu, karena punya gerbong massa dalam kapasitasnya sebagai Ketua DPC PDIP Gianyar. Di sisi lain, antara Agung Bharata dan Wardana juga terjadi rivalitas, yang meledak saat pemilihan Ketua DPC PDIP Gianyar lalu. Saat itu, Agung Bharata terdepak oleh Wardana, sehingga hanya kebagian posisi sebagai Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPC PDIP setempat. Soal rivalitas kedua tokoh Gianyar ini, Parta menolak mengomentarinya. "Silakan Anda tanya Wardana dan Gung Bharata. Kursi Bupati Gianyar itu hanya satu. Kalau ada dua, kita bisa bagilah satu-satu untuk Gung Bharata dan Wardana," tegas Parta. "Yang jelas, siapa pun harus didukung, jika memang mendapat rekomendasi dari induk partai," tegas Parta yang juga berasal dari Gianyar. Sementara itu, hasil Rakercab PDIP Gianyar pekan lalu yang berakhir kisruh, sudah diserahkan DPC Gianyar ke DPD Bali, Rabu kemarin. Seperti diketahui, salah satu butir keputusan yang muncul dalam Rakercab PDIP di Balai Budaya Gianyar, Jumat (6/10) lalu itu adalah mosi tak percaya terhadap kepengurusan DPC PDIP Gianyar pimpinan Dewa Putu Wardana.

Menurut Parta, Rakercab kala itu dihadiri fungsionaris DPP PDIP Ni Gusti Ayu Sukmadewi Djaksa. Sementara dari DPD PDIP Bali, antara lain, hadir Ketua DPD AA Ngurah Oka Ratmadi dan Parta sendiri. Parta menolak keputusan Rakercab itu disebut mosi tak percaya, bukan pula mengkritik pribadi Wardana sebagai Ketua DPC, namun evaluasi untuk kinerja seluruh pengurus DPC. "Kepengurusan DPC bukan hanya Wardana, tapi15 orang termasuk Gung Bharata dan Kadek Diana," katanya. Ditambahkan Parta, wajar seorang bawahan dan kader partai mengevaluasi pengurus. DPD PDIP Bali pun siap jika dievaluasi oleh DPC-DPC. Parta menegaskan, PDIP harus sadar ada pihak luar yang memainkan kartu agar situasi di Gianyar menjadi seperti saat ini. "Namun, semuanya akan kelar setelah Pilkada mendatang. Kita harus hati-hati. Di Gianyar sudah biasa kalau perbedaan pendapat berubah menjadi keakuran." (na)

Sumber: Nusa Bali 

Posted by at 07:50:24 | Permanent Link | Comments (0) |

Tuesday, October 10, 2006

Dikhawatirkan, Bantuan Sosial Berbau Pilkada

Rapat gabungan untuk membahas APBD Perubahan 2006 antara legislatif dan eksekutif di Gedung DPRD Buleleng, Senin (9/10), berlangsung panas dan diwarnai aksi gebrak meja. Panasnya rapat itu bermula dari pertanyaan-pertanyaan anggota DPRD mengenai pos bantuan untuk masyarakat yang dikhawatirkan berbau politis yang dipakai untuk kepentingan menjelang pilkada.

Dalam pembahasan tentang pos anggaran bantuan masyarakat itu terjadi perdebatan yang menegangkan antara pihak legislatif dan eksekutif. DPRD menginginkan agar anggaran Rp 4 milyar untuk bantuan sosial yang diusulkan dalam APBD Perubahan ini hanya disetujui sekitar 10 persen. Namun, pihak eksekutif dengan juru bicara Sekkab Ir. Ketut Arda mengeluarkan argumentasi sehingga terjadilah perdebatan yang panjang. Meski rapat itu sempat diskors selama dua jam, namun akhirnya masalah tersebut tak bisa diputuskan. Rapat pun ditunda dan akan dijadwalkan kembali.

Dalam rapat itu, anggota DPRD Putu Mardika menilai pengelolaan anggaran bantuan untuk masyarakat selama ini tidak sesuai dengan kesepakatan awal antara eksekutif dan legislatif yang sebelumnya dilangsungkan di Hotel Melka, Kalibukbuk.

Kesepakatan yang diambil saat itu adalah pengelolaan anggaran bantuan untuk masyarakat berada di tangan DPRD 30 persen dan di tangan eksekutif 70 persen. "Saya tidak mau hal ini dipakai ajang politik, kalau pun saat ini Putu Bagiada misalnya menjadi salah satu calon dari PDI-P, kami juga tidak ingin ini digunakan sebagai trik-trik politik," kata tokoh PDI-P yang akrab disapa Tu Ardi.

Sekkab Arda pun menanggapi tudingan anggota DPRD tersebut. Pada intinya ia menilai banyaknya dana bantuan masyarakat itu karena memang banyak masyarakat yang mengajukan permohonan bantuan. Penilaian Arda kembali mendapat tanggapan sehingga terjadi adu argumentasi yang cukup lama, sampai akhirnya salah seorang anggota DPRD menggebrak meja dan meminta agar debat kusir itu dihentikan. Sehingga rapat diskors dan akhirnya ditunda.

Ketua DPRD Nyoman Mangku Muliartha mengatakan pihaknya harus menunda untuk mencari titik temu dan melakukan evaluasi. Menurutnya, bukan hanya masalah bantuan sosial itu yang perlu dievaluasi, namun semua aspek perlu dilakukan kajian yang cermat dalam pembahasan APBD Perubahan tersebut. "Penundaan dilakukan karena DPRD masih perlu melakukan evaluasi tentang banyak hal yang selama ini masih dirasa mengambang, tidak ada hal lain," tandasnya. (kmb15)

Sumber: Balipost 

Posted by at 08:22:52 | Permanent Link | Comments (0) |

Friday, October 06, 2006

Internet dan Pilkada Bali


oleh: I Putu Agus Swastika, M.Kom *)

Walaupun kalah dalam pemilihan presiden Amerika tahun 2004 beberapa waktu lalu, John F Kerry, senator Partai Demokrat dari Massachusetts memperoleh pujian dari pengamat strategi kampanye. Kerry dianggap memiliki pemahaman yang tepat terhadap pemanfaatan Internet. Memang website Kerry saat itu didukung puluhan website lain yang dibangun oleh para pendukungnya secara sukarela dan terjadi saling interaksi antar mereka. Kerry dinilai telah membuka peluang dan akses agar konstituennya saling berinteraksi dalam mendukung kampanyenya di Internet. Kinipun Kerry masih memanfaatkan websitenya untuk kampanye kesehatan anak-anak.

Internet untuk Media Kampanye

Perkembangan teknologi informasi telah memunculkan berbagai optimisme akan peran pentingnya di masa depan sebagai media komunikasi utama, yang menawarkan berbagai kemudahan di berbagai aspek kehidupan sosial, termasuk politik dan demokrasi. Dalam pasal 56 pada peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 6 tahun 2005 poin c tertulis bahwa kampanye dapat dilaksanakan melalui: penyebaran melalui media cetak dan media elektronik. Dari sini cukup jelas bahwa peran teknologi informasi merupakan kebutuhan yang cukup vital termasuk dalam hal pemilihan kepala daerah.

Sejarah penggunaan teknologi informasi, khususnya Internet untuk kampanye dimulai tahun 1992 ketika Jerry Brown, Gubernur California yang mencalonkan diri menjadi Presiden Amerika memanfaatkan electronic mail (Email) sebagai media kampanye. Tahun 1998 Jesse Ventura menjadi orang pertama yang berhasil menjadi gubernur Minnesota berkat inovasinya memanfaatkan Internet (Sumber: PoliticsOnline.Com). Tahun 2000, Bill Bradley, calon presiden Amerika dari partai Democratic menjadi orang pertama yang berhasil meraih $1 Million untuk dana kampanyenya melalui Internet.

Edward Cone, editor Wired magazine dalam tulisannya pada Baseline Magazine (17/11/2003) berpendapat, Dengan Internet, suatu kampanye efektif menciptakan suatu komunitas yang atas kehendaknya sendiri turut memasarkan kandidat yang dipilihnya. Apabila itu terlaksana dengan baik, sang kandidat tidak akan dapat– atau ingin— untuk mengendalikan itu. Internet jauh lebih efektif apabila digerakkan menurut norma Internet sebagai media yang egaliter, yaitu dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Peran media TV saat ini makin berkurang untuk memperoleh dukungan para Voters, menggalang dana dan komunikasi interaktif dengan publik. Sebaliknya, yang makin berkembang adalah kampanye via Internet Social Networks, seperti Friendster, Website, Blog, dan E-Mail. Sarana Internet juga akan makin banyak digunakan untuk mencapai berbagai segmen voters, mendorong masyarakat untuk mencoblos di TPS-TPS, menggalang dana, dan berinteraksi dengan publik.

Menurut sebuah studi yang diselenggarakan oleh Pusat Survei Dan Analisa Riset di Universitas Connecticut, Pemilih yang menggunakan Internet, dengan mengabaikan keanggotaan partai politiknya, sangat terkait atau berhubungan erat dengan politik secara online. Riset menunjukkan bahwa 68 persen pemilih yang menggunakan Internet tersebut melakukan penelusuran terhadap para calon kandidat secara online.

Pilpres dan Pilkada

Ketika pemilihan presiden Indonesia tahun 2004 digelar, semua calon presiden juga memanfaatkan media Internet untuk kampanye. Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pengguna Internet tahun 2004 mencapai 11 juta lebih dan tahun 2006 diperkirakan mencapai 16 jt (Sumber:www.apjii.or.id), sebuah jumlah yang layak diperhitungkan untuk sasaran kampanye. Tim sukses Susilo Bambang Yudoyono (SBY) salah satu kandidat presiden Indonesia yang akhirnya memenangi pemilihan presiden 2004, sangat menyadari jika setiap media, sekecil apapun peluangnya harus dimanfaatkan untuk merebut hati pemilih. Website sby-oke.com yang dibuat sejak bulan april 2004 berhasil dikunjungi hampir 80 ribu orang dan berhasil menjaring anggota mencapai 6800 orang lebih serta tercatat lebih dari 2700 aspirasi yang diberikan oleh pengunjung pada website tersebut. Di sinilah kedigdayaan Internet menyelipkan pesan politik yang luhur bahwa keberhasilan kandidat memanfaatkannya untuk kampanye justru telah memberi peluang dan mendorong konstituennya untuk menyalurkan aspirasinya. Melihat keberhasilan SBY pada Pemilu 2004, bukan tidak mungkin website www.presidensby.info yang dilaunching setahun yang lalu, dipersiapkan untuk pemilu 2009. Kampanye via Internet di Indonesia akan lebih mendominasi saat pemilu 2009 nanti.

Bagaimana dengan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)? Beberapa daerah yang sudah menggelar pilkada langsung, para kandidatnya juga telah memanfaatkan media Internet, seperti calon walikota Manado dan calon walikota Surabaya. Secara umum isi website calon-calon kepala daerah ini tidak beda dengan website calon presiden di Indonesia maupun di luar negeri, seperti memuat visi misi, profile, kiprah calon selama ini, foto-foto human interest, serta yang terpenting terdapat fasilitas untuk menampung aspirasi dan komunitas pengunjungnya.

Daniel Sparingga, Pengamat Politik dari Universitas Airlangga Surabaya menyatakan bahwa eksistensi seorang kandidat pemimpin daerah paling tidak memiliki empat hal yaitu family tree (asal usul calon), career history (jenjang pekerjaan), personality (kepribadian) dan integrity (integritas), semua ini tentunya dapat disajikan dengan gamblang oleh para calon pemimpin daerah melalui medium Internet sehingga dengan mudah dapat diketahui oleh calon pemilih dimanapun dia berada.

Pilkada Bali

Dalam 2 tahun mendatang, di Bali akan dilangsung 3 pilkada, yaitu pilkada Buleleng tahun 2007, pilkada Gianyar tahun 2007 dan Pilgub Bali tahun 2008. Untuk saat ini memang belum nampak geliat para calon kandidat memanfaatkan Internet sebagai media penunjang mendekatkan diri dengan para calon pemilih.

Walau belum ada data valid tentang jumlah pengguna Internet di Bali, namun ada beberapa fakta yang dapat mengungkapkan bahwa masyarakat Bali cukup melek dengan Internet. Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), hingga tahun 2006 ini tercatat sekitar 20 Perusahaan Internet Service Provider (ISP) yang beroperasi di Bali. Demikian juga keberadaan warnet-warnet yang tersebar di seluruh propensi Bali. Sebuah hasil survey yang dikeluarkan oleh Kantor Pengolahan Data Elektronik dan Komunikasi (KPDEKOM) Pemerintah Kota Denpasar tahun 2006 menyatakan bahwa dari 385 responden masyarakat Kota Denpasar, 83.6% terbiasa menggunakan komputer, 45% dari responden memiliki komputer di rumah dan 52% telah mengenal dan menggunakan Internet.

Pengguna Internet ini bisa dikelompokkan pada kategori Pemilih Rasional (Intelektual), yang prosentasenya jika digabungkan dengan Swing Voters (Non Partisan) bisa mencapai 60% dari total pemilih. Walaupun prosentase pengguna Internet dibandingkan dengan jumlah pemilih di masing-masing kota maupun kabupaten relatif kecil namun pemanfaatan Internet oleh calon kepala daerah dapat mencerminkan perhatian calon tersebut terhadap penggunaan Teknologi Informasi di daerahnya. Dari penelusuran penulis terhadap domain name yang kemungkinan dijadikan nama website oleh para kandidat ternyata hanya beberapa saja yang terdaftar. Lebih disayangkan lagi, beberapa KPUD sebagai penyelenggara pilkada belum memanfaatkan media Internet ini untuk media diseminasi informasi kepada calon pemilih. Jangan sampai ada olok-olok, menirukan iklan di televisi, “Hare Gene Belum Pake Internet!!!”.

*) Dosen STIKOM Surabaya dan Konsultan IT RumahMedia.Com

Posted by at 11:03:37 | Permanent Link | Comments (0) |