
Kemunculan tokoh non-puri dari luar partai (non-partisan) yang akan mewarnai bursa Pilkada Gianyar, akhir 2007 depan, semakin menguak konspirasi politik di bumi seni ini. Salah satu konspirasi yang mulai menyembul adalah kekuatan non-puri, di mana mereka akan mengandalkam soroh sebagai lokomotif pendongkrak perolehan suara.
Ada sejumlah tokoh non-puri yang disebut-sebut berpeluang maju ke Pilkada Gianyar, sekalipun hanya favorit untuk posisi calon Wakil Bupati. Mereka adalah Dewa Putu Wardana (kini Wakil Bupati dan sekaligus Ketua DPC PDIP Gianyar), Nyoman Parta (kini Sekretaris DPD PDIP Bali, red), I Wayan Suryawan (Ketua DPC PNBK Gianyar), I Wayan Nuastha (Wakil Bendahara DPD II Partai Golkar Gianyar), dan Putu Kusuma Negara (fungsionaris DPD I Partai Golkar Bali).
Sedangkan tonoh non-puri yang juga non-partisan yang dianggap berpeluang meramaikan bursa Pilkada Gianyar adalah I Ketut Purwa (pengusaha dan tokoh dari Dewsa Buruan), I Made Sutama (pengsaha dari Desa Celuk, Sukawati), Dewa Putu Sutanaya (adik Gubernur Bali Dewa Made Beratha), Ir Wijana Sangging (mantan Dirut PDAM Gianyar), Made Budiasa (Perbekel Peliatan), dan I Made Suisma (mantan Ketua Forum Perbekel Kabupaten Gianyar).
Hasil pemetaan konspirasi politik pra-Pilkada yang sedang berkembang di Gianyar, beberapa kalangan mengakui bahwa penggalangan dukungan politik calon Bupati/calon Wakil Bupati yang mengandalkan komunitas soroh, klan, keturunan, dan lainnya, rentan pergesekan politik di masyarakat.
Tapi, perburuan posisi politik yang menggunakan soroh sebagai gerbong kekuatan, memang tak bisa dipungkiri. Sebab, sejak zamannya, cara ini merupakan terobosan cukup afdol untuk mengeruk perolehan dukungan suara bagi kalangan politisi di Kabupaten Gianyar, bahkan di gumi Bali umumnya. Karena itu, para tokoh puri, tokoh partai, tokoh non-puri, dan non-partai, yang ingin maju merebut posisi jabatan Bupati, akan melirik pasangannya (calon Wakil Bupati) dengan menimbang kekuatan pendukung dalam soroh-nya.
Salah satu indikasi perjuangan politik di Pilkada Gianyar yang akan memanfaatkan kiblat soroh adalah adanya rencana paruman KDS (Kelompok Dalem Sukawati) tingkat kabupaten. Paruman yang akan dilaksanakan sekitar akhir Agustus 2006 ini, tiada lain untuk menyatukan visi dan misi, serta taktik dan strategi perjuangan KDS dalam suksesi kepemimpinan Gianyar, lewat Pilkada---pasca kepemimpinan Bupati AA Gde Agung Bharata SH.
Apalagi, KDS memiliki dua tokoh yang sama-sama berpengaruh, yakni Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati alias Cok Ace dan Tjokorda Gede Raka Kerthyasa alias Cok Ibah, untuk maju sebagai balon Bupati. Kedua tokoh dari Puri Ubud ini sama-sama memiliki dukungan kuat untuk maju dalam Pilkada Gianyar nanti. Jejak perjuangan politik KDS itu, bisa jadi, akan menjadi inspirasi politik yang mengagumkan bagi para tokoh non-puri untuk ikut berjuang di medan Pilkada Gianyar, melalui komunitas sorohnya masing-masing.
Seperti halnya langkah KDS, tokoh Puri Gianyar yang kini menjabat Bupati, AA Gde Agung Bharata, tentu tak akan kalah sigap untuk memperkuat dukungan melalui jaringan soroh-nya, yakni KDM (Keluarga Dalem Manggis). Di luar KDS dan KDM, di Kabupaten Gianyar juga terdapat Maha Gotra Sameton Tirta Harum yang diketuai Dewa Putu Wardana (kini Wakil Bupati Gianyar, red). Peluang Wardana untuk merebut jabatan Bupati Gianyar makin terbuka lebar, karena politisi kalem asal Ubud ini sedang mengendalikan partai besar, yakni DPC PDIP Gianyar.
Selain itu, Wardana juga punya pengaruh signifikan di kalangan pendukungnya, terutama di Maha Gotra Sameton Tirta Harum. Dihubungi NusaBali, Wardana mengakui perjuangan politik melalui komunitas tradisional soroh di Bali masih sangat kental. Namun, dia mengakui, dalam beberapa kali pertemuan informal maupun formal melalui paruman Maha Gotra Sameton Tirta Harum, belum pernah dibicarakan tentang rencana dirinya meramaikan bursa Pilkada Gianyar tahun depan.
Wardana mengakui, Maha Gotra Sameton Tirta Harum merupakan wadah pakilitan sameton (ikatan persaudaraan) untuk ngayah kepada Ida Batara Kawitan dan sekaligus menjaga agar keluarga besar Tirta Harum yang mencapai 70.000 jiwa lebih tidak sampai terpecah. "Terus terang, saya belum bilang apa-apa sama sameton (Maha Gotra Sameton Tirta Harum, red). Kalau sameton mengetahui saya maju ke Pilkada Gianyar, pasti otomatis akan ada ikatan batin pasemetonan," jelas Ketua DPC PDIP Gianyar ini.
Eksistensi Maha Gotra Sameton Tirta Harum di Bali sendiri telah diakui banyak kalangan, terutama karena mereka memiliki tokoh sentral yakni Dewa Made Beratha. Mantan Sekda Bali itu kini menjabat sebagai Gubernur Bali untuk kedua kalinya. Dewa Beratha juga punya adik kandung yang cukup kuat ketokohannya di pasametonan, yakni Dewa Sutanaya.
Ditanya kemungkinan Dewa Sutanaya juga maju sebagai calon Bupati Gianyar dalam Pilkada mendatang, Wardana mengatakan, pihaknya pasti sama-sama bisa memegang komitmen pakilitan sameton. "Prinsipnya. kami tak akan terpecah hanya karena perhelatan Pilkada Gianyar," tegas Wardana.
Sementara itu, Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) dan Maha Semaya Warga Pande juga tak mustahil menjadi komunitis yang sangat diperhitungkan pada Pilkada Gianyar mendatang. Apalagi, dua komunitas warga ini dikenal sangat solid dalam mengemban perstuan dan kesatuan antar-warganya. Selain itu, MGPSSR dan Maha Semaya Warga Pande adalah warga terbanyak yang menghuni gumi Bali, termasuk Gianyar, dibandingkan komunitas lainnya.
Ketua II MGPSSR Kabupaten Gianyar, Gede Windia Berata, yang dihubungi NusaBali, juga tak menampik bahwa pada saatnya nanti, MGPSSR akan menjadi incaran para kandidat Cabup/Cawabup dari warga Pasek dan non-Pasek untuk memperoleh dukungan politik dalam Pilkada. Laki-laki gede ganggas (bertubuh tinggi besar) asal Desa Sengguan, Gianyar ini menilai sah-sah saja ada harapan politik soroh, sepanjang tidak menimbulkan keretakan, baik internal maupun eksternal.
Windia Berata juga melihat adanya kemungkinan kuat para tokoh non-partai akan melakukan tawaran politik di Pilkada, melalui sorohnya. "Lebih penting lagi, jangan karena ada dukung-mendukung politik di Pilkada ini, lantas terjadi pengkotak-kotakan di masyarakat," ujar Ketua Maha Yowana Maha Gotra Pasek Provinsi Bali ini.
Sumber : Nusa Bali