Tuesday, April 17, 2007

Opini: Pilkada Buleleng & Internet

Oleh: I Putu Agus Swastika, M.Kom*)

Walaupun kalah dalam pemilihan presiden Amerika tahun 2004 beberapa waktu lalu, John F Kerry, senator Partai Demokrat dari Massachusetts memperoleh pujian dari pengamat strategi kampanye. Kerry dianggap memiliki pemahaman yang tepat terhadap pemanfaatan Internet. Memang website Kerry saat itu didukung puluhan website lain yang dibangun oleh para pendukungnya secara sukarela dan terjadi saling interaksi antar mereka. Kerry dinilai telah membuka peluang dan akses agar konstituennya saling berinteraksi dalam mendukung kampanyenya di Internet. Kinipun Kerry masih memanfaatkan websitenya untuk kampanye kesehatan anak-anak.

Internet untuk media Kampanye

Perkembangan teknologi informasi telah memunculkan berbagai optimisme akan peran pentingnya di masa depan sebagai media komunikasi utama, yang menawarkan berbagai kemudahan di berbagai aspek kehidupan sosial, termasuk politik dan demokrasi. Dalam pasal 56 pada peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 6 tahun 2005 poin c tertulis bahwa kampanye dapat dilaksanakan melalui: penyebaran melalui media cetak dan media elektronik. Dari sini cukup jelas bahwa peran teknologi informasi merupakan kebutuhan yang cukup vital, termasuk dalam hal pemilihan kepala daerah.

Sejarah penggunaan teknologi informasi, khususnya Internet untuk kampanye dimulai tahun 1992 ketika Jerry Brown, Gubernur California yang mencalonkan diri menjadi Presiden Amerika memanfaatkan electronic mail (Email) sebagai media kampanye. Tahun 1998 Jesse Ventura menjadi orang pertama yang berhasil menjadi gubernur Minnesota berkat inovasinya memanfaatkan Internet (Sumber: PoliticsOnline.Com). Tahun 2000, Bill Bradley, calon presiden Amerika dari partai Democratic menjadi orang pertama yang berhasil meraih $1 Million untuk dana kampanyenya melalui Internet.

Edward Cone, editor Wired magazine dalam tulisannya pada Baseline Magazine (17/11/2003) berpendapat, Dengan Internet, suatu kampanye efektif menciptakan suatu komunitas yang atas kehendaknya sendiri turut memasarkan kandidat yang dipilihnya. Apabila itu terlaksana dengan baik, sang kandidat tidak akan dapat– atau ingin— untuk mengendalikan itu. Sedangkan Joe Trippi, ketua Silicon Valley yang pernah menjadi manajer kampanye dari Edward M. Kennedy hingga Howard Dean (USATODAY 14/7/2003) mengatakan “Kita benar-benar sedang memberi lebih banyak peran kepemimpinan dalam kampanye ke orang-orang lokal yang mengorganisasikan sendiri lingkungannya atau melalui Internet”. Internet jauh lebih efektif apabila digerakkan menurut norma Internet sebagai media yang egaliter, yaitu dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Menurut sebuah studi yang diselenggarakan oleh Pusat Survei Dan Analisa Riset di Universitas Connecticut, Pemilih yang menggunakan Internet, dengan mengabaikan keanggotaan partai politiknya, sangat terkait atau berhubungan erat dengan politik secara online. Riset menunjukkan bahwa  68 persen pemilih yang  menggunakan Internet tersebut melakukan penelusuran terhadap para calon kandidat secara online.  

Pilpres dan Pilkada

Ketika pemilihan presiden Indonesia tahun 2004 digelar, semua calon presiden juga memanfaatkan media Internet untuk kampanye. Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pengguna Internet tahun 2004 mencapai 11 juta lebih dan tahun 2005 diperkirakan mencapai 16 jt (Sumber:www.apjii.or.id), sebuah jumlah yang layak diperhitungkan untuk sasaran kampanye. Tim sukses Susilo Bambang Yudoyono (SBY) salah satu kandidat presiden Indonesia yang akhirnya memenangi pemilihan presiden 2004, sangat menyadari jika setiap media, sekecil apapun peluangnya harus dimanfaatkan untuk merebut hati pemilih. Website sby-oke.com yang dibuat sejak bulan april 2004 berhasil dikunjungi hampir 80 ribu orang dan berhasil menjaring anggota mencapai 6800 orang lebih serta tercatat lebih dari 2700 aspirasi atau sumbang saran yang diberikan oleh pengunjung pada website tersebut. Di sinilah kedigdayaan Internet menyelipkan pesan politik yang luhur bahwa keberhasilan kandidat memanfaatkannya untuk kampanye justru telah memberi peluang dan mendorong konstituennya untuk menyalurkan aspirasinya.

Sebuah babakan baru demokrasi di daerah-daerah telah dimulai, pemilihan kepala daerah juga dilakukan secara langsung. Beberapa kandidat kepala daerah telah menyiapkan media Internet sebagai sarana kampanye, seperti yang dilakukan calon walikota di Manado dan Surabaya beberapa waktu silam. Secara umum isi website calon-calon walikota ini tidak beda dengan website calon presiden di Indonesia maupun di luar negeri, seperti memuat visi misi, profile, kiprah calon selama ini, serta yang terpenting terdapat fasilitas untuk menampung aspirasi dan komunitas pengunjungnya.

 

Pilkada Buleleng

Kabupaten Buleleng dalam waktu dekat akan menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah secara langsung, hingga kini sudah terdaftar 4 pasang calon bupati dan wakil bupati. Gerakan-gerakan memikat calon pemilih sudah gencar dilakukan, hal ini nampak pada spanduk-spanduk yang tersebar di Buleleng. Namun sayangnya ada media yang belum dilirik oleh pasangan calon pemimpin daerah tersebut, yaitu Internet. Jika mengacu pada studi yang diselenggarakan oleh Pusat Survei Dan Analisa Riset di Universitas Connecticut, calon pemilih menggunakan Internet untuk melakukan penelusuran terhadap para calon kandidat, sehingga memberikan gambaran tentang calon figur yang kelak akan dicoblos saat pemungutan suara. Penulis melakukan penelusuran terhadap 4 pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati yang akan bertarung pada Pilkada Buleleng tanggal 12 Juni nanti dan ditemukan fakta bahwa, belum satupun pasangan bupati dan wakil bupati yang memiliki personal website atau blog, fakta lain adalah sedikitnya informasi yang ditemukan di Internet terkait dengan figur-figur calon  tersebut. Menggunakan 2 search engine terkemuka saat ini, yaitu Google dan Yahoo, kita dapat mengetahui jumlah webpages yang mengandung informasi tentang figur calon-calon tersebut. Berikut adalah tabel jumlah webpages yg dapat ditemukan lewat Google dan Yahoo, dengan menggunakan keyword sesuai dengan nama calon (bisa jadi ada nama lain yang sama persis ditemukan di Internet), Search engine diakses Sabtu 14 April 2007 :

 

Calon Bupati & Wakil Bupati

Google

Yahoo

Sugawa Korry

42

41

Ni Luh Kerthianing

3

2

 

 

 

Ray Yusha

31

28

Luh Putu Febri Antari

0

0

 

 

 

Gede Dharma Wijaya

13

8

Ida Bagus Djodhi

4

0

 

 

 

Made Westra

58

59

Ketut Englan

24

19

 

 

 

Putu Bagiada

35

90

Made Arga Pynatih

9

11

 

Kebanyakan webpages yang ditemukan bersumber dari pemberitaan calon-calon tersebut di media massa online dan belum ditemukan webpages khusus tentang figur calon-calon tersebut.

Walaupun prosentase pengguna Internet dibandingkan dengan jumlah pemilih di Kabupaten Buleleng relatif kecil namun pemanfaatan Internet oleh Calon Bupati atau Calon Wakil Bupati dapat mencerminkan perhatian calon kepala daerah tersebut terhadap penggunaan Teknologi Informasi di daerahnya. Sedangkan KPUD sebagai penyelenggara pilkada kurang memanfaatkan media Internet ini untuk media diseminasi informasi kepada calon pemilih, dari search engine Google dan Yahoo, ketika keywordnya KPUD Buleleng hanya ditemukan sekitar 29 pages di Google dan 18 Pages di Yahoo, itupun bersumber dari pemberitaan di media massa yang online di Internet. Masa kampanye secara resmi akan berlangsung bulan depan, masih ada waktu untuk para tim sukses dan KPUD untuk menyiapkan website sebagai media pencerdasan politik kepada calon pemilih khususnya pengguna Internet, sehingga jangan sampai ada olok-olok, menirukan iklan di televisi, “Hari Gini Ngga Punya Website!!!”.

*) Dosen STIKOM Surabaya, Konsultan IT di beberapa Pemda

 

Posted by in 02:33:10
Comments

Leave a Reply