Saturday, September 8, 2007

Winasa Isyaratkan Gandeng Alit Putra

Negara, Bupati Jembrana, I Gede Winasa yang mencalonkan diri menjadi kandidat Gubernur Bali dari kubu PDI Perjuangan pada Pilgub Bali 2008 nampaknya akan menggandeng Ketua DPD Partai Demokrat Bali, IGB. Alit Putra.

Hal tersebut terungkap ketika Winasa dan Alit Putra bertemu dalam satu meja saat peringatan hari lahirnya Partai Kebangkitan Bangsa di Pondok Pesantren Nurul Ikhlas, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara. Selain Winasa dan Alit Putra, Ketua DPW PKB, HS. Abdul Wahab pun tampak hadir pada acara tersebut.

Winasa yang dikonfirmasi mengatakan pertemuannya dengan Ketua DPD Partai Demokrat yang juga akan mencalonkan diri sebagai kandidat Calon Gubernur itu hanyalah dalam rangka menghadiri undangan PKB. Terkait kemungkinan koalisi setelah pertemuan tersebut, Winasa tidak menampiknya.

“Tidak ada yang tidak mungkin dalam politik, termasuk menggunakan kendaraan lain. Kalau nantinya terjadi koalisi, hal itu mungkin saja terjadi,” ujar Winasa.

Sementara Alit Putra pun menyampaikan hal yang senada dengan Winasa. Hanya saja Alit Putra menambahkan kemungkinan koalisi tesebut haruslah melalui pembicaan dan diskusi-diskusi yang lebih jauh.

Untuk sekedar diketahui, Winasa sebelumnya mengatakan akan berjuang melalui PDI Perjuangan untuk merebut kursi Bali 1 dan akan bertandem dengan Alit Kelakan yang juga Wakil Gubernur Bali. Sementara Alit Putra masih mencari-cari kendaraan dan sedang menjajaki kemungkinan di Koalisi Bali Dwipa dan kemungkinan untuk menjadi calon dari jalur independen.(pas)

Sumber: www.beritabali.com 

Posted by at 13:02:30
Comments

4 Responses to “Winasa Isyaratkan Gandeng Alit Putra”

  1. Rade says:

    Blog, Ajum, Lengeh dan Inguh (BALI) saat ini sangat memprihatinkan…. Pemimpin kedepan hendaknya mereka yang paham betul kondisi BALI saat ini dan punya VISI.
    TIGA hal yang mesti dimiliki oleh Pemimpin Bali kedepan yakni 3C (COMITMENT, CONSISTEN dan CERDAS

  2. Anonymous says:

    Pak Winasa,
    Jangan sembarangan mencari pasangan. Alit Putra itu kan sudah dikenal masyarakat luas sebagai seorang koruptor sejati. Jangan-jangan nama Pak Winasa jadi luntur gara-gara orang yang tidak tahu malu ini.

  3. Anonymous says:

    Rade,
    Komentar anda tidak jelas. Kalau bisa cobalah berikan komentar yang effektif. Misalnya :
    - Pemimpin Bali ke depan harus mampu memasang tujuan Bali ke depan ( konstruksi ataupun berdasarkan bentuk visioner ).
    - Visi untuk mencapai tujuan
    - Mapan dalam pengetahuan kebudayaan Bali sehingga berani merubah mental orang Bali menjadi lebih on the track untuk mencapai tujuan dengan cara empirik, bukan simbolik
    - Kemampuan entreprenership

    Dengan dasar itu saja akan muncul :
    - Kedisiplinan,
    - Pengabdian,
    - Kebersamaan.

    Dibandingkan dengan Gubernur sekarang yang sama sekali tidak mempunyai karya apapun hanya sebagai juru tulis, jangankan karaya, mempertahankan yang ada saja tidak bisa.
    Ada cerita yang lebih konyol lagi ada Bupati yang pinjam uang 12 miliar untuk membangun pusat perkantoran dalam kondisi masyarakatnya menangis untuk memenuhi kebutuhan hidup ( lack of entreprenership ), dan ada lagi Bupati yang iri kepada daerah lain, sehingga ada usaha dari kabupaten lain untuk menyumbang ke daerahnya malah diusir dengan kasar ( no dedication ), dan sebagainya. 80% bupati di Bali underdog.

  4. agung says:

    Winasa Mencaplok Tanah Umat Hindu dan Korup?
    Winasa adalah sosok yang unik. Langkah-langkah yang diambilnya selama berkuasa di Jembrana selalu menghasilkan kontroversi. Tak sedikit penyimpangan yang dituduhkan padanya. Bebeberapa waktu lalu, misalnya, Forum Gerakan Jembrana (FGJ) melakukan demo ke PHDI, DPRD, dan Kejaksaan Negeri Jembrana membawa fakta-fakta “kecurangan” yang dilakukan Winasa. Mereka juga menduga PHDI telah bermain mata dengan Winasa.
    FGJ, antara lain, menggugat penggunaan tanah milik PHDI (umat Hindu) yang dijadikan lokasi pembangunan Rumah Sakit Dharma Sentana. Menurut mereka, hal ini merupakan bentuk perampasan sewenang-wenang yang dilakukan Winasa terhadap tanah milik umat. Pendemo malah menuduh Winasa telah mengangkangi tanah milik umat Hindu sejak tahun 1987. Karena itu, mereka pun memancangkan papan bertuliskan “Tanah Milik Umat Hindu” di lokasi RS Dharma Sentana itu.
    Selain persoalan perampasan tanah millik umat itu, Winasa juga dituduh melakukan mark up pembelian mesin dalam proyek “Air Megumi”. Mereka menyatakan, ada tiga dugaan penyimpangan dalam proyek itu.
    Pertama, dugaan adanya penyimpangan atas pengadaan mesin yang tidak sesuai dengan Kepres yang berlaku.
    Kedua, mesin yang dibeli itu merupakan mesin bekas yang dibeli dengan harga Rp 6,1 miliar. Itu harga yang sangat tidak pantas. Mereka membuktikan, faktur pembelian nyata-nyata mengatakan bahwa mesin itu merupakan mesin bekas.
    Ketiga, ada dugaan kolusi. Sebab, anak Winasa bernama Patria, adalah salah satu direktur PT Dairin di Indonesia yang menjadi pemasok mesin bekas itu.
    Pendemo juga menuduh Winasa melakukan pembukuan APBD ganda. Mereka mengemukakan fakta, pembukuan APBD ganda itu dibuat bertanggal sama, mencantumkan sumber pendapatan dan pengeluaran yang sama, tetapi pos-pos dan sub-sub pembelanjaan berbeda.

Leave a Reply