Mega-Pastika Bertemu Empat Mata
Info gres muncul dari Vila Cucukan, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar. Salah satu kandidat Gubernur Bali dari kalangan independen, Komjen Made Mangku Pastika, secara khusus diundang Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri untuk bertemu empat mata di Vila Cucukan, Senin (15/10).
Inikah isyarat bahwa Pastika akan mendapat rekomendasi untuk maju sebagai Calon Gubernur Bali dari PDIP? Informasi yang diperoleh NusaBali, Pastika datang ke Vila Cucukan yang notabene milik keluarga Megawati, Senin pagi sekitar pukul 10.00 Wita. Tak jelas, apa agenda utama pertemuan mantan Kapolda Bali yang kini menjabat sebagai Kalakhar BNN ini dan Megawati. Yang pasti, Mega dan Pastika sempat bertemu empat mata. Pertemuan berlangsung selama 1,5 jam hingga pukul 11.30 Wita. Namun, mengingat sekarang ini sedang gencar-gencarnya isu seputar pemilihan Gubernur (Pilgub) Bali, ada kemungkinan pembicaraan Mega dan Pastika tidak jauh-jauh dari isu Calon Gubernur (Cagub) PDIP. Pastika sendiri, ketika dikonfirmasi NusaBali, membenarkan kalau dirinya memang datang ke Vila Cucukan. Menurut Pastika, dirinya hadir ke Vila Cucukan yang berlokasi di tepi pantai itu karena diminta khusus oleh Megawati. "Beliau (Megawati) meminta saya datang. Saya pun datang memenuhi permintaan itu, bersama dua teman," jelas Pastika. Apa agenda pertemuannya? "Yah, hanya sarapan pagi saja. Kebetulan, beliau 'kan liburan di Bali. Namanya diminta, saya diminta dating ya datang," lanjut Jenderal Polisi Bintang Tiga kelahiran Gerokgak, Buleleng ini. Tapi, menurut Pastika, sebelum diberikan kesempatan bicara empat mata dengan Megawati, dirinya sempat ngobrol seraya sarapan pagi dengan dua petinggi PDIP: Taufiq Kiemas (Ketua Dewan Pertimbangan Pusat/Deperpu PDIP yang juga suami Megawati) dan Nyoman Adi Wiryatama (Ketua Bidang Pemenangan Pemilu/Bappilu DPD PDIP Bali yang juga Bupati Tabanan). Khusus saat pertemuan empat mata dengan Megawati, menurut Pastika, mereka bicara masalah keamanan. "Ya, hanya soal pengamanan Bali, kondisi Bali, dan ke depan bagaimana? Itu saja. Kita berdiskusi," terang Pastika.
Dihubungi terpisah, Ketua Bappilu DPD PDIP Bali Adi Wiryatama juga membenarkan kalau Pastika bertemu Megawati di Cucukan. "Apa (Pastika) memang dipanggil (Megawati), saya tidak tahu. Memang dia ke Cucukan, kebetulan saya ada di sana," jelas Wiryatama. Ditanya apakah hal ini sebuah indikasi bahwa rekomendasi Megawati untuk Cagub PDIP akan jatuh ke tangan Pastika, menurut Wiryatama, tidak seperti itu. "Nggak ada mengarah ke sana. Kita hanya makan pagi. Saya ada di sana dan memang tidak ada dibicarakan masalah rekomendasi," kilah Wiryatama yang juga nyalon Gubernur Bali lewat PDIP. Berbeda dengan Pastika, Wiryatama merupakan kader elite PDIP Bali yang dikenal dekat dengan Megawati. Sejak Megawati mendarat di Bali beberapa hari lalu, Wiryatama sudah menjemput. Setiapkali mantan Presiden RI itu berada di Bali, Wiryatama senantiasa mendampinginya. Menurut Wiryatama, dirinya kali ini berada di Cucukan mendampingi Mega, dalam kapasitasnya sebagai kader PDIP, bukan selaku kandidat Gubernur Bali. "Saya 'kan kader PDIP dan pengurus partai. Jadi, tugas saya, ketika Ketua Umum PDIP berada di Bali, saya sebagai kader, buklan selaku kandidat Cagub," katanya. Pastika sendiri merupakan satu dari empat kandidat dari kalangan independen yang nyalon Gubernur lewat PDIP.
Tiga tokoh non-kader lainnya masing-masing Wayan Sudirta (anggota DPD RI), Prof Dr Wayan Wita (mantan Rektor Unud), dan Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma (Dirut TPI). Sedangkan kandidat dari kader PDP adalah Adi Wiryatama, Gede Winasa (Bupati Jembrana), AA Ngurah Oka Ratmadi alias Cok Rat (Ketua DPD PDIP Bali), Kesuma Putra (anggota DPRD Bali), IGN Alit Kesuma Kelakan (Wagub Bali saat ini), dan Nyoman Dhamantra (Wakil Ketua Bappilu DPD PDIP Bali). Sebetulnya, seluruh kandidat ini sudah diikutkan dalam Rakerdasus PDIP Bali, sebulan yang lalu. Hanya saja, dalam Rakerdasus itu, tak ada ditentukan siapa Calon Gubernur (Cagub) Bali dari PDIP, karena semua kandidat disodorkan ke DPP PDIP untuk direkomendasi. Hingga saat ini, rekomendasi dari Megawati selaku Ketua Umum DPP PDIP belum kunjung turun. Berdasarkan pengalaman, Megawati memberikan sinyal-sinyal khusus untuk kandidat yang akan diberikan rekomendasi. Contohnya, menjelang Pilkada Buleleng lalu, Megawati sempat 'mesra' dan semobil dengan Putu Bagiada di Singaraja. Pada akhirnya, rekomendasi Calon Bupati Buleleng dari PDIP jatuh ke Putu Bagiada. Tak heran jika aksi merapat Pastika-Mega di Cucukan kemarin diterjemahkan sebagai isyarat rekomendasi. Sementara itu, hingga Senin kemarin belum ada tanda-tanda kejelasan, siapa yang akan mengantongi rekomendasi Megawati.
Wakil-wakil rakyat Bali yang duduk di Fraksi PDIP DPR juga menyatakan rekomendasi masih gelap. Hal itu, antara lain, diutarakan Made Urip dan Nyoman Gunawan, menjawab NusaBali di Jakarta kemarin. Mengenai SK DPP yang mengistruksikan agar kader bupati/walikota jangan maju ke Pilgub Bali, menurut Urip, hal itu merupakan langkah bagus. Dengan begitu, kader yang berposisi sebagai bupati/walikota konsentrasi penuh mengurus daerahnya masing-masing. Ditambahkan Urip, kader PDIP yang menjabat sebagai bupati/walikota masa jabatannya masih. Karenanya, DPP PDIP harus mengamankan kadernya agar tetap di posisinya, biar tidak disalahkan rakyat. "Sebagai kader, harus taat dan patuh dengan mekanisme partai," ujar Urip. Namun, kata Urip lagi, tidak masalah jika ada kader bupati/walikota maju ke Pilgub, sepanjang mendapat persetujuan dari DPP PDIP. Urip sendiri mengaku tidak mempunyai calon favorit. Bagi dia, seluruh kandidat Gubernur yang maju melalui PDIP mempunyai potensi, kelebihan, dan kekurangan. Yang jelas, jika hasil survei sudah ada dan diputuskan oleh DPP, Urip siap mendukung calon yang direkomendasikan. "Saya menunggu keputusan dari DPP PDIP. Siapa pun calon itu, saya siap pasang badan," tandas wakil rakyat yang duduk di Komisi IV DPR yang menangani masalah Pertanian, Kehutanan, Perikanan, dan Logistik ini. Nyoman Gunawan juga idem ditto. "Semua kandidat yang maju lewat PDIP berkualitas dan punya peluang. Tapi, bagaimanapun, DPP mempunyai pertimbangan khusus. Untuk itu, saya siap mendukung siapapun yang diberikan rekomendasi oleh DPP," kata mantan lawyer ini. Meski demikian, Gunawan berharap calon Gubernur Bali adalah orang yang berkualitas, tidak cacat hukum, mempunyai track reccord baik, punya komitmen tentang pembangunan Bali, bisa menjaga keamanan Bali, dan dikenal berbagia kalangan baik kelas bawah maupun atas.
Sumber : Nusabali
