Wednesday, October 17, 2007

Mega-Pastika Bertemu Empat Mata


Info gres muncul dari Vila Cucukan, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar. Salah satu kandidat Gubernur Bali dari kalangan independen, Komjen Made Mangku Pastika, secara khusus diundang Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri untuk bertemu empat mata di Vila Cucukan, Senin (15/10).

Inikah isyarat bahwa Pastika akan mendapat rekomendasi untuk maju sebagai Calon Gubernur Bali dari PDIP? Informasi yang diperoleh NusaBali, Pastika datang ke Vila Cucukan yang notabene milik keluarga Megawati, Senin pagi sekitar pukul 10.00 Wita. Tak jelas, apa agenda utama pertemuan mantan Kapolda Bali yang kini menjabat sebagai Kalakhar BNN ini dan Megawati. Yang pasti, Mega dan Pastika sempat bertemu empat mata. Pertemuan berlangsung selama 1,5 jam hingga pukul 11.30 Wita. Namun, mengingat sekarang ini sedang gencar-gencarnya isu seputar pemilihan Gubernur (Pilgub) Bali, ada kemungkinan pembicaraan Mega dan Pastika tidak jauh-jauh dari isu Calon Gubernur (Cagub) PDIP. Pastika sendiri, ketika dikonfirmasi NusaBali, membenarkan kalau dirinya memang datang ke Vila Cucukan. Menurut Pastika, dirinya hadir ke Vila Cucukan yang berlokasi di tepi pantai itu karena diminta khusus oleh Megawati. "Beliau (Megawati) meminta saya datang. Saya pun datang memenuhi permintaan itu, bersama dua teman," jelas Pastika. Apa agenda pertemuannya? "Yah, hanya sarapan pagi saja. Kebetulan, beliau 'kan liburan di Bali. Namanya diminta, saya diminta dating ya datang," lanjut Jenderal Polisi Bintang Tiga kelahiran Gerokgak, Buleleng ini. Tapi, menurut Pastika, sebelum diberikan kesempatan bicara empat mata dengan Megawati, dirinya sempat ngobrol seraya sarapan pagi dengan dua petinggi PDIP: Taufiq Kiemas (Ketua Dewan Pertimbangan Pusat/Deperpu PDIP yang juga suami Megawati) dan Nyoman Adi Wiryatama (Ketua Bidang Pemenangan Pemilu/Bappilu DPD PDIP Bali yang juga Bupati Tabanan). Khusus saat pertemuan empat mata dengan Megawati, menurut Pastika, mereka bicara masalah keamanan. "Ya, hanya soal pengamanan Bali, kondisi Bali, dan ke depan bagaimana? Itu saja. Kita berdiskusi," terang Pastika.

Dihubungi terpisah, Ketua Bappilu DPD PDIP Bali Adi Wiryatama juga membenarkan kalau Pastika bertemu Megawati di Cucukan. "Apa (Pastika) memang dipanggil (Megawati), saya tidak tahu. Memang dia ke Cucukan, kebetulan saya ada di sana," jelas Wiryatama. Ditanya apakah hal ini sebuah indikasi bahwa rekomendasi Megawati untuk Cagub PDIP akan jatuh ke tangan Pastika, menurut Wiryatama, tidak seperti itu. "Nggak ada mengarah ke sana. Kita hanya makan pagi. Saya ada di sana dan memang tidak ada dibicarakan masalah rekomendasi," kilah Wiryatama yang juga nyalon Gubernur Bali lewat PDIP. Berbeda dengan Pastika, Wiryatama merupakan kader elite PDIP Bali yang dikenal dekat dengan Megawati. Sejak Megawati mendarat di Bali beberapa hari lalu, Wiryatama sudah menjemput. Setiapkali mantan Presiden RI itu berada di Bali, Wiryatama senantiasa mendampinginya. Menurut Wiryatama, dirinya kali ini berada di Cucukan mendampingi Mega, dalam kapasitasnya sebagai kader PDIP, bukan selaku kandidat Gubernur Bali. "Saya 'kan kader PDIP dan pengurus partai. Jadi, tugas saya, ketika Ketua Umum PDIP berada di Bali, saya sebagai kader, buklan selaku kandidat Cagub," katanya. Pastika sendiri merupakan satu dari empat kandidat dari kalangan independen yang nyalon Gubernur lewat PDIP.

Tiga tokoh non-kader lainnya masing-masing Wayan Sudirta (anggota DPD RI), Prof Dr Wayan Wita (mantan Rektor Unud), dan Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma (Dirut TPI). Sedangkan kandidat dari kader PDP adalah Adi Wiryatama, Gede Winasa (Bupati Jembrana), AA Ngurah Oka Ratmadi alias Cok Rat (Ketua DPD PDIP Bali), Kesuma Putra (anggota DPRD Bali), IGN Alit Kesuma Kelakan (Wagub Bali saat ini), dan Nyoman Dhamantra (Wakil Ketua Bappilu DPD PDIP Bali). Sebetulnya, seluruh kandidat ini sudah diikutkan dalam Rakerdasus PDIP Bali, sebulan yang lalu. Hanya saja, dalam Rakerdasus itu, tak ada ditentukan siapa Calon Gubernur (Cagub) Bali dari PDIP, karena semua kandidat disodorkan ke DPP PDIP untuk direkomendasi. Hingga saat ini, rekomendasi dari Megawati selaku Ketua Umum DPP PDIP belum kunjung turun. Berdasarkan pengalaman, Megawati memberikan sinyal-sinyal khusus untuk kandidat yang akan diberikan rekomendasi. Contohnya, menjelang Pilkada Buleleng lalu, Megawati sempat 'mesra' dan semobil dengan Putu Bagiada di Singaraja. Pada akhirnya, rekomendasi Calon Bupati Buleleng dari PDIP jatuh ke Putu Bagiada. Tak heran jika aksi merapat Pastika-Mega di Cucukan kemarin diterjemahkan sebagai isyarat rekomendasi. Sementara itu, hingga Senin kemarin belum ada tanda-tanda kejelasan, siapa yang akan mengantongi rekomendasi Megawati.

Wakil-wakil rakyat Bali yang duduk di Fraksi PDIP DPR juga menyatakan rekomendasi masih gelap. Hal itu, antara lain, diutarakan Made Urip dan Nyoman Gunawan, menjawab NusaBali di Jakarta kemarin. Mengenai SK DPP yang mengistruksikan agar kader bupati/walikota jangan maju ke Pilgub Bali, menurut Urip, hal itu merupakan langkah bagus. Dengan begitu, kader yang berposisi sebagai bupati/walikota konsentrasi penuh mengurus daerahnya masing-masing. Ditambahkan Urip, kader PDIP yang menjabat sebagai bupati/walikota masa jabatannya masih. Karenanya, DPP PDIP harus mengamankan kadernya agar tetap di posisinya, biar tidak disalahkan rakyat. "Sebagai kader, harus taat dan patuh dengan mekanisme partai," ujar Urip. Namun, kata Urip lagi, tidak masalah jika ada kader bupati/walikota maju ke Pilgub, sepanjang mendapat persetujuan dari DPP PDIP. Urip sendiri mengaku tidak mempunyai calon favorit. Bagi dia, seluruh kandidat Gubernur yang maju melalui PDIP mempunyai potensi, kelebihan, dan kekurangan. Yang jelas, jika hasil survei sudah ada dan diputuskan oleh DPP, Urip siap mendukung calon yang direkomendasikan. "Saya menunggu keputusan dari DPP PDIP. Siapa pun calon itu, saya siap pasang badan," tandas wakil rakyat yang duduk di Komisi IV DPR yang menangani masalah Pertanian, Kehutanan, Perikanan, dan Logistik ini. Nyoman Gunawan juga idem ditto. "Semua kandidat yang maju lewat PDIP berkualitas dan punya peluang. Tapi, bagaimanapun, DPP mempunyai pertimbangan khusus. Untuk itu, saya siap mendukung siapapun yang diberikan rekomendasi oleh DPP," kata mantan lawyer ini. Meski demikian, Gunawan berharap calon Gubernur Bali adalah orang yang berkualitas, tidak cacat hukum, mempunyai track reccord baik, punya komitmen tentang pembangunan Bali, bisa menjaga keamanan Bali, dan dikenal berbagia kalangan baik kelas bawah maupun atas.

Sumber : Nusabali
Posted by at 08:01:48 | Permanent Link | Comments (1) |

Saturday, October 13, 2007

Kader PDIP Gianyar Nyempal ke Cok Ace

  * Warga dari Berbagai Wilayah Sampaikan Aspirasi ke Puri Ubud
Sebutan calon bupati – wakil bupati yang diusung rakyat Gianyar memang sangat
tepat disandang pasangan Ir Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, MSi alias Cok Ace
dan Dewa Made Sutanaya, SH (AS). Buktinya, bukan hanya kader parpol anggota
Koalisi Rakyat Gianyar yang mendukung AS, kader PDIP pun tak sedikit yang berbulat
tekad untuk memenangkan AS dalam Pilkada mendatang.
Hal ini terungkap ketika ratusan warga masyarakat dari berbagai lapisan bertandang
ke Puri Ubud, Jumat (12/10) malam. Diantara massa tersebut ternyata terdapat
sejumlah kader PDIP dari berbagai wilayah, diantaranya Keramas dan Blahbatuh. 
Mereka memang tidak datang atas nama partai, melainkan sebagai pribadi yang merasa
terpanggil untuk mendukung program perubahan yang diusung Cok Ace – Sutanaya.
"Kami datang kesini bukan atas nama partai, melainkan sebagai sameton Arya
Kepakisan. Sedangkan untuk dukung mendukung dalam Pilkada nanti, kami tidak
melihat partai. Yang patut didukung buat kami adalah figur yang layak dan teruji.
Kami menilai Cok Ace-Sutanaya merupakan pilihan yang sangat tepat,” tandas kader
PDIP bernama lengkap I Made Raka.
Dalam pertemuan yang juga dihadiri masyarakat dari Medahan, Belega, Tojan, dan
Sabha itu terjadi dialog yang cukup akrab. Warga menyampaikan aspirasinya tentang
pembangunan di berbagai sektor. Diantaranya keinginan warga tentang pelayanan
kesehatan yang baik di Kabupaten Gianyar.  “Kalau Cok Ace terpilih nanti, kami
berharap agar pelayanan di RSUD Sanjiwani tidak laksana membeli botol dan airnya,
lebih mahal botolnya ketimbang airnya. Maksud kami, biaya ongkos inap lebih mahal
ketimbang membeli obat. Sudah begitu, pelayanannya juga kurang baik. Selain itu,
pelayanan kesehatan untuk rakyat miskin juga terlalu birokratis. Banyak rakyat
miskin yang kesulitas mendapat pelayanan gratis gara-gara tidak memiliki kedekatan
atau hubungan baik dengan aparat,” keluh salah seorang warga kepada Cok Ace.
Warga masyarakat juga menyoroti terkikisnya lahan pertanian akibat proses
pembangunan yang tak terencana dengan baik. Selain itu, tingkat kunjungan
wisatawan asing yang tidak mengalami perkembangan signifikan, juga mendapat
perhatian warga. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah terciptanya pemerintahan
yang adil dan tak pilih kasih. “Sekarang ini hanya masyarakat yang tunduk dan
mengikuti ‘permintaan’ dari penguasa yang mendapat bantuan,” tukas seorang warga
yang ikut hadir.
Dengan membaiknya kondisi perekonomian Gianyar, warga berharap Cok Ace bila menang
nanti bisa menerapkan system pendidikan dan kesehatan gratis, khususnya bagi
rakyat miskin.
Mendengar keluh-kesah tersebut, Cok Ace yang waktu itu didampingi kakandanya,
Tjokorda Putra Sukawati yang juga penasehat Bali Tourism Board (BTB) dan Tjokorda
Ngurah Suyadnya alias Tjok Wah, menanggapinya dengan ramah. Sebagai pengayom dan
pemimpin masyarakat, jelas Cok Ace, sudah seharusnya kalau dirinya memperjuangkan
aspirasi rakyat tersebut. Apalagi apa yang disampaikan warga masyarakat tersebut
memang sesuai dengan visi dan misi yang diperjuangkan Cok Ace – Sutanaya, yakni
kebijakan pembangunan yang berpihak kepada rakyat.
" Kalau rakyat haus berarti mereka membutuhkan air dan ketika rakyat lapar berarti
membutuhkan makanan. Jadi, kalau masyarakat menyuarakan aspirasi seperti itu,
berarti kondisi mereka memang membutuhkan itu. Sudah menjadi tugas pemimpin yang
menjabat untuk melaksanakannya, " kata Cjok Ace.
Pada kesempatan itu, Cok Ace juga menyarankan agar masyarakat tidak segan-segan
menyampaikan saran dan kritinya. "Kami tak akan bisa lepas dari rakyat, karena
kami disini besar karena rakyat, dan kami bisa jadi Calon Bupati juga atas
kehendak rakyat," tuturnya. (asm)
Posted by at 20:26:58 | Permanent Link | Comments (0) |

Disodok, Cabup Lakukan Kebulatan Tekad di Pura

Gianyar, Tim Pemantau Pilkada Gianyar menyodok Cabup-Cawabup yang melakukan kebulatan tekad di tempat suci atau di Pura-Pura (tempat ibadah-red).

Pasalnya, hal ini dianggap menganggu kecucian Pura itu sendiri. Pernyataan ini sendiri disampaikan langsung oleh Tim Pemantau Pilkada Gianyar dari LSM Bali Lestari, I Wayan Rukiasta. Bahkan, pihaknya sangat gerah mendengar atau membaca kandidat yang melakukan kebulatan tekad di Pura ataupun ditempat suci, hal ini menurutnya sangat menganggu kesucian pura.

“ Pura itu tempat melakukan persembahyangan, jangan dikait-kaitkan dengan politik dong, ini khan menganggu kesucian daripada pura itu sendiri, “ kata pria asal Beng, Gianyar ini.

Sambung Rukiasta, kalau kebulatan tekad itu dilakukan diluar areal pura, dirinya sama sekali tak mempermasalahkannya, karena sudah dianggap wajar mensosialisasikan diri. “ Kalau tidak berada di areal pura dan tak melakukan intimidasi ataupun pemaksaan dalam memilih kandidat, saya rasa tak ada masalah, namun kalau sebaliknya kami sangat keberatan, “ ungkapnya. (art)

Sumber: Beritabali.com
Posted by at 20:20:46 | Permanent Link | Comments (0) |

Pilkada Gianyar: PNS Ikut Tim Sukses


Gianyar, Bola aspirasi serta kritikan masyarakat semakin mencuat ke permukaan. Kali ini, PNS (Pegawai Negeri Sipil) ataupun pejabat di jajaran Pemkab Gianyar yang terlibat menjadi tim sukses mulai menuai kritikan pedas.

Kritikan itu sendiri muncul dari salah satu tokoh pengamat pendidikan, Dewa Made Subrata, pria asal Tegal Tugu, Gianyar ini dengan pedas mengkritik PNS yang ikut-ikutan menjadi tim sukses.

“PNS itu merupakan institusi netral, kok ikut-ikutan jadi tim sukses, situasi ini khan membuat suasana tak nyaman,“ ungkapnya.

Bukan hanya itu, selama ini dalam UU No 32 Tahun 2004 utamanya pasal 79 ayat 4 serta PP no 6 tahun 2005 tentang pengangkatan dan pemberhentian Kepala Daerah utamanya pasa pasal 62 telah jelas disebutkan kalau pasangan calon tak boleh melibatkan PNS sebagai Jurkam termasuk didalamnya tim sukses.

“Jika UU saja dilabrak dan tak dihiraukan apalagi rakyat, ini sangat berbahaya,“ ungkapnya.

Lebih jauh, sambung Subrata yang juga salah satu Dosen pendidikan sejarah mengatakan selama ini dirinya sangat menyayangkan kalau demokrasi politik di Kabupaten Gianyar dicederai oleh tangan -tangan yang tak bertanggung-jawab. “Jika begitu terus adanya kapan kedewasaan berpolitik itu muncul,“ katanya. (art)

Sumber: Beritabali.com
Posted by at 20:13:42 | Permanent Link | Comments (0) |

Winasa Dilamar Pemuda Tani

NEGARA - Nama Bupati Jembrana I Gede Winasa tampaknya semakin bersinar sehingga banyak yang ingin melamarnya. Seperti yang dilakukan DPD Pemuda Tani Bali pimpinan Made Yudiasa. Terang-terangan lembaga ini melamar Winasa untuk dijadikan Ketua Dewan Penasehat DPD Pemuda Tani Bali.

Menurut Yudiasa, sebagai sebuah organisasi yang akan diresmikan pada 26 Oktober nanti, DPD Pemuda Tani Bali memerlukan figur penasehat yang betul-betul memiliki komitmen kuat untuk mensejahterakan petani. Pasalnya dari perdiksi Pemuda Tani Bali tahun 2014, Bali akan mengalami krisis petani lantaran generasi muda tidak mau disebut sebagai petani. Mereka merasa jika menjadi petani kesan yangmuncul akan lebih nista dibanding kesan menjadi pegawai hotel atau yang lainnya meski posisinya paling rendah.

"Kami butuh figur panutan yang memiliki visi yang jelas untuk mensejahterakan petani. Kami menilai Pak Winasa sangat cocok untuk itu karena sangat konsen dengan pertanian dan pak Winasa sudah tidak banyak ngomong lagi seperti yang lainnya tapi sudah langsung diaplikasikan di lapangan,"jelasnya.

Menangapi lamaran Pemuda Tani tersebut, Winasa mengatakan dirinya cukup kaget karena tiba-tiba dipinang untuk dijadikan ketua dewan pensehat. Menurut Winasa sebenarnya banyak cara untuk membuat pemuda kita merasa bangga menjadi petani. "Kita harus berpikir komprehensif dalam mengatasi krisis petani itu. Jika saja hasil pertanian Bali bisa memenuhi pasar pariwisata Bali, pasti petani akan sejahtera dan secara otomatis para pemuda kita akan tertarik menjadi petani dan kita tidak akan mengalami krisis petani," ujarnya. (nom)

Sumber : Jawapos
Posted by at 19:11:02 | Permanent Link | Comments (2) |

Calon Gubernur Idola Perempuan

Dengan argumentasi beragam mereka juga menulis nama bakal calon yang tidak akan mereka pilih. Mereka pun sudah memiliki pilihan, sosok perempuan yang pantas digadang-gadang menjadi pemimpin nomor satu di Bali.

Mereka adalah 4188 orang perempuan di Bali yang mengembalikan lembaran jajak pendapat yang diedarkan Koran Tokoh selama bulan Agustus 2007. Beragam pekerjaan/profesi responden.

Mereka berdomisili merata di delapan kabupaten dan satu kota di Bali. Sebagian besar (51 %) berasal dari Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, daerah tempat tinggal sebagian besar bakal calon.

Yang disodorkan dalam lembaran jajak pendapat adalah nama bakal calon yang pernah dipublikasikan media massa di Bali, baik yang menyatakan diri akan menjadi bakal calon maupun yang disebut-sebut/dicalonkan pihak lain. Namun, dibuka kesempatan bagi responden untuk menulis calon lain yang selama ini belum terpublikasikan media massa.

Kualitas (31 %) dan jujur (27%) adalah dasar pertimbangan terbanyak mereka dalam memilih nama bakal calon tertentu. Diasumsikan dasar pertimbangan tersebut sebagai prasyarat yang mereka usulkan agar dipenuhi tiap kandidat.

Pertimbangan/persyaratan yang menempati peringkat berikutnya adalah berwibawa, keluarganya harmonis, peduli terhadap Bali, dan kaya. Ada beberapa petimbangan/persyaratan lainnya, misalnya merakyat/dikenal luas dan berpengalaman sebagai pejabat pemerintah.

Tidak teruraikan memang, apa yang dimaksudkan kualitas. Parameter kualitas bisa bermacam-macam. Dalam dunia politik praktis, juga belum ditemukan parameter kualitas yang terukur, baku, dan seragam. Faktor kepentingan sering berpengaruh dominan dalam menentukan tolok ukur kualitas figur.

Dalam manajemen kualitas (total quality control) dapat kita temukan aspek-aspek yang menentukan bahwa sesuatu itu berkualitas. Ada enam aspeknya.

Di antaranya, mencakup aspek moral, pelayanan, disiplin, dan produk serta proses yang ditempuh dalam melahirkan produk yang berkualitas. Apakah aspek-aspek seperti itu juga tergambar di benak responden ketika mereka memilih pertimbangan/persyaratan kualitas bagi bakal calon gubernur Bali?

Pilihan yang dapat dikategorikan sebagai rasional tersebut ditulis responden yang sebagian besar bekerja/berprofesi sebagai ibu rumah tangga, karyawati perusahaan swasta, dan pegawai negeri sipil yang masing-masing berjumlah di atas 24% dari jumlah reponden.

Ini bisa dijadikan tengara bahwa rata-rata responden tersebut adalah berpendidikan formal (PNS dan karyawati perusahaan swasta) atau memiliki wawasan/pendidikan memadai meskipun mereka sehari-hari hanya berkutat dalam lingkungan pekerjaan domestik (lingkungan rumah tangga).

Pekerjaan/profesi responden lainnya, mahasiswi (9%), siswi (minimal kelas 3 SMA, 8%), pembantu rumah tangga (2%), dan TNI/Polri (0,9%).

Uniknya, lebih dari satu bakal calon mendapat dukungan besar dari responden tertentu dan ditempatkan di kolom ‘calon yang dipilih’, tetapi dengan jumlah yang relatif banyak mereka juga ditempatkan sebagai figur ‘yang tidak akan dipilih’ oleh responden tertentu lainnya.

Uniknya lagi, tiap bakal calon yang disodorkan namanya dalam lembaran jajak pendapat (14 orang) mendapat suara dukungan dan tertera dalam kolom ‘calon yang dipilih’, dan nama tiap bakal calon tersebut juga bertengger dalam kolom ‘yang tidak akan dipilih’ oleh responden lainnya.

Relatif sedikit (11%) responden yang mengisi kolom siapa figur dari kalangan perempuan yang pantas menjadi gubernur Bali. Sebagian responden menulis ‘tidak ada’ atau ‘belum ada’, dan sebagian lagi mengosongkan kolom tersebut.

Yang mengisinya, menulis nama yang beragam. Setelah dijumlah, sungguh fantastis, terdapat 38 nama figur perempuan yang dianggap pantas menjadi gubernur Bali pada masa-masa mendatang. Yang memilih Megawati Sukarnoputri tepat untuk menjadi gubernur Bali juga ada, sebanyak 9 responden.

Apa pun metodenya, tiap jajak pendapat pasti tidak luput dari sisi kekurangan atau perilaku subjektif. Oleh karena itu dalam hasil jajak pendapat Koran Tokoh ini tidak disebutkan perolehan suara masing-masing kandidat, tetapi mereka digolongkan dalam peringkat kelompok.

Kelompok perolehan suara bakal calon gubernur Bali idola perempuan di Bali (nama berdasarkan abjad, bukan berdasarkan perolehan suara) adalah sebagai berikut:
Kelompok I : Budi Argawa, Budi Suryawan, Mangku Pastika, Puspayoga, Winasa. Kelompok II: Alit Putra, Jro Gde Karang, Sudirta, Suwisma, Wita. Kelompok III: Adi Wiryatama, Alit Yudha, Dhamantra, Oka Ratmadi.

Lima figur perempuan yang dianggap pantas menjadi gubernur dan memperoleh suara terbesar (nama berdasarkan abjad, bukan berdasarkan perolehan suara):
Dayu Agung Mas, TIA Kusuma Wardani, Mardhani Rata, Nyoman Masni, L.K. Suryani. – wid/wah – Litbang Koran Tokoh.

Sumber : Tabloid Tokoh
Posted by at 19:09:09 | Permanent Link | Comments (0) |