Monday, February 26, 2007

Pilkada Buleleng: Korry Ditantang Westra Bertarung Fair

Seperti diprediksi NusaBali sebelumnya, Nyoman Sugawa Korry akhirnya terpilih sebagai calon bupati Partai Golkar untuk diadu ke Pilkada Buleleng 2007. Kader senior Partai Golkar ini mendominasi 71 persen suara dalam Konvensi Golkar di Singaraja, Minggu (25/2), dengan mengungguli empat tokoh lainnya, termasuk Jro Nyoman Ray Yusha. Kubu PDIP pun mengucapkan selamat, sementara Made Westra (cabup dari PKPB-PKB) tantang Korry bersaing secara fair.

Dalam Konvensi Golkar yang digelar di Sekretariat DPD II Partai Golkar Buleleng kemarin, Sugawa Korry berhasil mendominasi 71 persen suara. Sedangkan Ray Yusha (tokoh independen dari Dinas PU Bali) yang semula diperkirakan akan memberikan perlawanan gigih, harus bertekuk lutut dengan mudah. Tokoh kelahiran Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng ini berada di posisi runner-up dengan hanya menggondol 15 persen suara. Sebaliknya, Luh Kerthianing (aktivis perempuan yang juga Ketua Partai Pelopor Buleleng) berada di peringkat ketiga dengan meraih 8 persen suara. Sedangkan dua kandidat lainnya, Anak Agung Ngurah Mudiptha (kader Partai Golkar) dan Putu Mahendra Perbawa (independen) masing-masing hanya kebagian suara 3 persen. Suara yang diperebutkan dalam Konvensi Golkar kemarin masing-masing dari DPP Partai Golkar (20 persen), DPD I Partai Golkar Bali (30 persen), DPD II Partai Golkar Buleleng (20 persen), Gabungan PK (20 persen), dan Organisasi Sayap-Ormas (10 persen). Dengan terpilihnya Sugawa Korry sebagai calon bupati dari Partai Golkar, berarti kini tercatat sudah ada tiga kandidat yang bakal bertarung di Pilkada Buleleng, 12 Juni 2007. Dua kandidat bupati lainnya yang telah mendapatkan tiket sebelum Korry masing-masing 'sang juara bertahan' Putu Bagiada (calon bupati PDIP) dan I Made Westra (calon bupati koalisi PKPB-PKB). Bagiada akan maju berpaket dengan Made Arga Pynatih (posisi calon wakil bupati), sementara Westra berpaket dengan Ketut Englan. Sedangkan koalisi Pandawa Bersatu, hingga saat ini belum menetapkan calon bupatinya. Atas hasil ini, DPP Partai Golkar, melalui Korwil Bali dan Nusa Tenggara, Enggartiasno Lukito, langsung mengintruksikan kepada jajaran Beringin untuk sesegera mungkin mengawal dan memperkenalkan Sugawa Korry sebagai calon bupati. Harapannya, Korry bisa menang dalam Pilkada Buleleng, 12 Juni 2007 depan. DPP Partai Golkar juga mengingatkan, pemenang Konvensi bukan hanya sebagai kandidat bupati partainya, tapi sekaligus kandidat bupati bagi rakyat Buleleng. Karenanya, komitmen politik antara Korry dan masyarakat Buleleng harus diabangun.

Kandidat bupati dari Partai Golkar harus mampu membawa perubahan bagi Buleleng dan rakyatnya. "Jika ada langkah yang keluar dari komitmen, maka DPP Partai Golkar akan melakukan teguran supaya bupati yang dilahirkan Partai Golkar tetap berjalan di atas komitmen," ujar Lukito dalam sambutannya di hadapan ratusan kader Partai Golkar di Buleleng kemarin. Lukito sendiri kemarin menghadiri Konvensi bersama fungsionaris DPP Partai Golkar lainnya, seperti Nyoman Sumarjaya Linggih alias Demer, serta anggota Fraksi Golkar DPR RI, Ni Nyoman Tisnawati Karna. Siapa yang akan mendampingi Korry di paket calon bupati? Sebagai pemenang Knvensi, Korry berhak mengajukan tiga nama untuk menjadi calon wakil buapti. Namun sejauh ini, kata Korry, dirinya belum memutuskan siapa yang akan dpilih sebagai calon wakil bupati. Korry masih punya waktu seminggu untuk menentukan nama calon wakil bupati dari Partai Golkar. Nantinya, 3 Maret 2007, Partai Golkar akan melaksanakan rapat pleno untuk menentukan calon wakil bupati. "Ya nanti saya akan koordinasi dulu dengan partai. Tentunya saya bersama partai akan mengkaji dan menganalisa setiap tokoh yang mempunyai potensi untuk menjadi calon wakil bupati," jelas Korry yang juga Korwil Buleleng DPD I Partai Golkar Bali. "Dari tokoh non-kader pun berpeluang menjadi pendamping saya," lanjut tokoh Koperasi kelahiran Desa Banyuatis, Kecamatan Banjar, Buleleng ini. Berdasarkan informasi yang selama ini berhembus, Korry telah mengantongi beberapa nama untuk digaet sebagai calon wakil bupati. Dua di antaranya Luh Kerthianing (Partai Pelopor) dan I Gede Wardana (tokoh Kosgoro yang juga Wakil Bupati Buleleng saat ini). Dari gerak-gerik politik selama ini, Kerthianing dan Wardana memang membangun hubungan politik dengan Korry. Indikasinya, Kerthianing selama ini cukup dekat dengan mantan Ketua DPD Partai Pelopor Bali, IGN Wididana alias Pak Oles. Di lain sisi, Pak Oles sendiri punya hubungan dekat dengan Korry. Dari hubungan ini, sangat mungkin, jika Kerthianing punya bargaining politik untuk memposisikan diri sebagai calon wakil bupati mendampingi Korry. Informasi lainnya, jika Ray Yusha yang menang Konvensi, kemungkinan yang dipilih sebagai calon wakil bupatinya adalah Ni Luh Tiwik Ismarheningrum (Ketua DPD II Partai Golkar Buleleng). Tapi, karena Ray Yusha kalah, Tiwik tetap konsentrasi mengabdi dan membesarkan Partai Golkar. Sementara itu, Putu Bagiada (calon bupati PDIP) hingga kemarin petang belum bisa dikonfirmasi NusaBali soal terpilihnya Korry sebagai calon bupati Partai Golkar. Namun, kubu PDIP merasa merasa gembira karena Partai Golkar sudah menelorkan calon bupatinya. Kepada NusaBali, Ketua DPC PDIP Buleleng, Dewa Nyoman Sukrawan, menyatakan secara pribadi dan mewakili partainya, dia mengucapkan selamat atas terpilihnya Korry sebagai kandidat bupati Partai Golkar. Lahirnya kandidat dari partai lain, kata Sukrawan, berarti membuat peta politik di Buleleng semakin jelas. Sebagai partai yang juga mengajukan calon, PDIP pun sudah harus siap langkah dan strategi menghadapi Pilkada. "Tentunya kami sebagai Partai terbesar akan kembali mengambil langkah dan strategi pemenangan Pilkada Buleleng. Partai telah menginstruksikan untuk mengamankan dan memenangkan paket yang kita usung (Bagiada/Pynatih) ketika gong Pilkada Buleleng dimulai," tegas Sukrawan. Dia yakin PDIP yang sangat besar akan tetap menjadi yang terbesar dan bisa memenangkan Pilkada Buleleng. Dihubungi NusaBali secara terpisah, Made Westra (calon bupati PKPB-PKB) merespons positif kemenangan Korry di Konvensi Golkar. Menurut birokrat kelahiran Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng ini, semua kandidat bupati mempunyai peluang sama besar untuk memenangkan Pilkada. Untuk itu, Westra menantang para kandidat dari partai mana pun untuk bersaing secara terbuka, tanpa ada rasa permusuhan. "Semua kandidat layak bersanding untuk memenangkan Pilkada Buleleng. Tapi, mari kita berikan tontonan yang menarik bagi Buleleng dan Bali. Kita maju bersama untuk tujuan yang sama, yakni membangun Buleleng. Marilah bersaing secara fair dan sehat," tegas Westra seolah menantang Korry. "Biarkan masyarakat Buleleng yang memilih sesuai dengan hati nurani mereka, karena saat ini masyarakat sudah bisa memilih dan cerdas menakar siapa tokoh yang diinginkan," lanjut Sekkot Denpasar ini. ov

Sumber: Nusa Bali

Posted by at 08:41:10 | Permanent Link | Comments (0) |

Pilkada Buleleng: Koalisi PKPB-PKB Ngambang

Kendati DPP PKPB sudah menerbitkan rekomendasi untuk paket kandiadat bupati/wabup Made Westra, SH, dan Ketut Englan, namun perjalanan koaliasi PKPB dengan PKB itu belum mencapai kata sepakat. Ketua tim verifikasi kandidat bupati/wabup DPD PKPB Buleleng, Ketut Yasa, menyatakan bahwa hingga saat ini kedua parpol belum melakukan pertemuan-pertemuan signifikan untuk membentuk koalisi dalam pilkada mendatang.

"Kita belum bertemu, dan belum berbicara masalah koalisi," tandas Yasa. Bahkan Yasa menyatakan PKPB masih terbuka pintunya bagi parpol lain yang memiliki misi dan visi yang sama dalam membangun Buleleng lima tahun mendatang. "Kita terbuka bagi siapa saja untuk berkoalisi asalkan memiliki kesamaan misi dan visi," papar Yasa. Bagaimana dengan PKB? Ketua Dewan Suro Wayan Imam Muhajir dikonfirmasi juga menyatakan hal yang sama.

Ia menegaskan bahwa sampai saat ini, kedua belah pihak belum melakukan pertemuan-pertemuan yangmembicarakan koalisi. "Kami belum bertemu untuk membicarakan koalisi. PKB Buleleng siap saja berkoalisi asalkan ada kesamaan misi dan visi," papar politisi asal Pegayaman itu. (frs)

Sumber: Radar Bali

Posted by at 08:27:11 | Permanent Link | Comments (0) |

Monday, February 19, 2007

Soal Hasil ''Polling'' Cagub

Sekalipun polling cagub bukan satu-satunya barometer, anggota DPD-RI Wayan Sudirta yang unggul dengan 24,10% suara dalam polling ramai-ramai didorong maju oleh sejumlah politisi maupun akademisi. Setelah I.B. Suryatmaja (Deperda PDI-P dan Wakil Ketua DPRD Bali), kini giliran Ngakan Kuta Parwata yang Ketua DPRD Bangli dan Ketua DPC PDI-P Bangli serta Dr. Made Titib, dosen senior IHDN Denpasar yang dikenal sebagai ahli Weda sama-sama mendorong mantan advokat vokal ini maju ke bursa cagub. Apalagi dengan UU No. 32/2004, semua parpol harus terbuka terhadap tokoh nonpartai sepanjang tokoh bersangkutan memperoleh dukungan luas di masyarakat.

Sudirta mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas dukungan tersebut. Sepakat dengan Suryatmaja, Ngakan Kuta pun menilai Sudirta sangat pas bila masuk melalui pintu PDI-P. Selain karena PDI-P mengantongi kemenangan di atas 50% pada Pemilu 2004, sosok Sudirta serta KORdEM koalisi 18 eksponen ormas, LSM dan tokoh masyarakat yang mengusungnya pada pemilihan DPD merupakan sinergi mutualistis yang saling memperkuat.

Sementara dilihat dari kapasitas pribadi, dengan track record yang bagus dalam visi perjuangan, Sudirta yang antikorupsi serta pro pada masyarakat marjinal sejalan dengan visi PDI-P untuk memihak wong cilik. Tata ruang, lingkungan serta budaya Bali harus dijaga dan itu memerlukan pemimpin yang lurus.

Doktor Made Titib, ahli Weda yang juga dosen di IHDN, selain melihat hasil polling tersebut menyatakan figur Sudirta memang punya track record yang bagus. Sehingga dikenal sebagai tokoh daerah maupun nasional. Kalau bicara soal pemimpin, masyarakat Bali membutuhkan figur yang punya komitmen untuk memperhatikan orang miskin dan masalah pendidikan.

"Aneh, Bali yang pulaunya kecil dan merupakan pulau internasional kok masih banyak penduduk yang buta aksara dan miskin," katanya. Yang lebih memprihatinkan, sambung Titib, kini semakin langka pemimpin yang sensitif pada kemiskinan. ''Jadi, kita perlu pemimpin yang berani turun ke masyarakat sekaligus mengingatkan kita semua agar menyeimbangkan aspek ritual dan aspek kemanusiaan,'' katanya. (r/*)

Sumber: Balipost

Posted by at 16:52:47 | Permanent Link | Comments (0) |

Pilkada Buleleng: Perempuan Sepuh Nyalon Bupati

Manuver AA Ngurah Mudiptha, tokoh Puri Buleleng, mengambil formulir pendaftaran balon bupati di Partai Golkar, ternyata menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh lain untuk berbuat serupa. Bahkan, Dr Jro A Ketoet Moertini M Ed, 70, seorang tokoh perempuan sepuh, ikut-ikutan nyalon bupati Buleleng lewat Partai Golkar.

Jro Moertini datang mengambil formulir balon bupati ke Sekretariat DPD II Partai Golkar Buleleng di Singaraja, Jumat (16/2) atau berselang dua hari setelah manuver AA Ngurah Mudiptha. Tokoh perempuan asal Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng ini datang sendirian ke Sekretariat DPD II Partai Golkar sekitar pukul 09.00 Wita. Jro Moertini diterima Ketua DPD II Partai Golkar Buleleng, Ni Luh Tiwik Ismarheningrum, dan pengurus DPD II lainnya. Siapa Jro Moertini? Perempuan berusia 70 tahun (Moertini tidak menyebutkan tanggal lahirnya) ini dikenal sebagai tokoh sepuh yang selama puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk dunia pendidikan.

Tapi, selama ini nama Moertini sama sekali tak pernah disebut-sebut dalam setiap isu politik. Berbeda dengan Mudiptha, yang sekalipun pasca reformasi tak pernah masuk isu politik, tapi sebelumnya sempat menjadi anggota Fraksi Golkar DPRD Buleleng 1997/1998. Dengan inisiatifnya mengambil formulir balon bupati untuk ikut Konvensi Partai Golkar guna memilih jago Beringin ke Pilkada Buleleng ini, Jro Moertini pun praktis menjadi tokoh perempuan sepuh pertama di Bali yang berani meramaikan ajang Pilkada. Jro Moertini juga menjadi perempuan pertama sepanjang sejarah di Gumi Panji Sakti yang memberanikan diri nyalon bupati. Kepada NusaBali, Jro Moertini mengaku punya motivasi khusus di balik manuvernya mengambil formulir pendaftaran balon bupati ke Partai Golkar. Semua dilakukan demi menyalurkan semangatnya yang masih menyala-nyala untuk membangun dan mengabdikan tenaganya buat Gumi Panji Sakti. Bila masih dipercaya memimpin dalam usianya yang sudah uzur, Jro Moertini pun meminta restu kepada masyarakat Buleleng dan Partai Golkar untuk bisa menyumbangkan ide dan pikirannya dalam membangun daerah. "Saya masih punya semangat untuk membangun Buleleng," jelas tokoh pendidikan yang dulu menjadi pendiri SMPP (kini berubah jadi SMAN 3 Singaraja) ini. Tentang pilihannya nyalon bupati lewat Partai Golkar, Jro Moertini juga punya alas an spesial.

Tokoh gaek yang sudah melanglang buana ke belahan Eropa dan Timur Tengah urusan pendidikan ini mengakui, hanya Partai Golkar bisa menyalurkan segala otoritas ide dan pemikirannya, termasuk dalam membangun Buleleng. Jro Moertini mengakui, sejak pensiun sebagai Kepala Sekolah SMPP Singaraja beberapa tahun silam, dirinya sudah merasa menjadi orang Golkar, walaupun belum pernah duduk sebagai pengurus Partai Beringin. Dan, kata dia, sejak lama Partai Golkar sudah menjadi pilihanya, karena partai ini adalah tempatnya untuk mengabdi, serta bekerja demi bangsa dan negara, Apalagi, setelah dilindas reformasi, Partai Golkar mampu bangkit dari keterpurukan karena mengusung paradigma baru. "Jadi, saya sangat siap untuk mengikuti dan tunduk pada aturan yang dijalankan Partai Golkar ketika memilih figurnya. Saya juga siap untuk menerima hasil dari semua yang dijalani (siap menang dan siap kalah)," jelas Jro Moertini. Namun, Jro Moertini mengaku masih harus mempelajari semua formulir dan persyaratan yang mesti dipenuhi. Setelah semuanya jelas, barulah dia akan mendaftar sebagai balon bupati guna ikut Konvensi Partai Golkar, 25 Februari depan. "Saya akan pelajari dulu ini, baru nanti saya akan mengembalikan fomulir ini," ujar Jro Moertini didampingi beberapa pengurus Partai Golkar Buleleng. Jro Moertini sendiri selama ini dikenal sebagai tokoh pendidikan. Sebelum mendirikan SMPP Singaraja di tahun 1970-an, latar belakang pendidikannya juga cukup membanggakan. Gelar akademis yang kini disandangnya bahkan diperoleh di Oregon State University, Amerika Serikat. Gelar master pendidikan dia raih sekitar tahun 1970-an. Bahkan, dia sempat kuliah di Michigan State University, AS. Semua gelar yang dia peroleh dibiayai dari UNESCO (badan PBB urusan pendidikan, sosial, budaya) yang memberinya beasiswa, karena prestasi dan keuletannya. Berpuluh-puluh tahun Jro Moertini tinggal di negeri Paman Sam itu, hingga akhirnya berpetualang ke berbagai sudut benua Eropa dan Timur Tengah. Di dua belahan dunia itu, dia melakukan studi banding bersama tokoh pendidikan Amerika yang sezaman dengannya. Jro Moertini lupa, tahun berapa dia melakukan perjalanan keliling Eropa dan Timur Tengah. Yang dia ingat, total perjalanannya selama 5 tahun, hingga akhirnya pulang ke Bali dan mendirikan SMPP (Sekolah Menengah Pembangunan Pendidikan) di Penarukan, Singaraja. Hingga akhirnya SMPP berubah nama jadi SMAN 3 Singaraja dan kini menjadi salah satu sekolah favorit. Jro Moertini mempunyai dua anak, Manumurti, 40, dan I Gede Segara Muda Vedoma---yang kini menetap di AS. Sementara itu, Ketua DPD II Partai Golkar Buleleng, Tiwik Ismarheningrum, merasa bangga atas inisiatif tokoh sepuh Jro Moertini. Sebab, di usianya yang sudah sangat sepuh, masih punya semangat ikut membangun Buleleng. "Tentunya ini membuat saya iri ya, karena beliau yang sudah sangat berpengalaman tentang hidup, tapi masih mempunyai semangat yang tidak kalah dengan penerus seperti saya. Secara pribadi, mungkin ini akan menjadi pengalaman hidup dan inspirasi untuk saya," ujar Tiwik. Tiwik menambahkan, sama dengan para pendaftar balon bupati lainnya, untuk mengikuti Konvensi Partai Golkar, Jro Moertini tentunya harus taat pada sistem dan mekanisme yang berlaku. Tiwik berharap, apa pun hasil Konvensi nanti, Jro Moertini tetap menjadi bagian dari Partai Golkar. "Partai yang saya pimpin membutuhkan sentuhan masukan dan pengalaman dari seorang tokoh seperti Jro Moertini," jelas sarjana pertanian FP Unud angkatan 1985 ini.

Sumber: Nusa Bali

Posted by at 16:14:09 | Permanent Link | Comments (0) |

Tuesday, February 13, 2007

Humor: Anunya Dikasih Tinta Pemilu

Pak Dogler asal buleleng yang terkenal karena berpoligami, kaget dan bingung seusai memberikan nafkah batin pada istrinya yang ke-4,karena "anu-nya" di berikan tanda tinta pemilu oleh istrinya itu,lalu si istri berkata :

"Biar Bapak gak bisa NYOBLOS lagi di TEMPAT lain...!!!"

e-ketawa

Posted by at 07:45:55 | Permanent Link | Comments (0) |

Pilkada Buleleng: Bengkala Sudah Dikapling Bagiada-Arga

Kandidat Lain Dilarang Masuk ke Bengkala
BENGALA - Memasuki pekan kedua bulan Februari atmosfir politik di Bulelneg mulai meninggi. Paket kandidat bupati.wabup dari PDIP Drs.Putu Bagiada,MM, dan Drs.Made Arga Pynatih terus menyusup ke pelosok desa-desa di Kabupaten Buleleng melalui tim suksesnya yang diketuai langsung Ketua DPC PDIP Buleleng Dewa Nyoman Sukrawan.

Kemarin tim sukses yang dikendalikan Dewa Sukrawan merambah sayapnya ke Desa Bengkala,Kecamatan Kubutambahan. Di desa yang dikenal sebagian warganya adalh kolok alias tuli bisu itu, tim sukses yang didampingi pula kandidat wabup Made Arga Pynatih melakukan sosialisasi "jago"-nya kepada masyarakat setempat. Desa ini menjadi sasaran utama sosialisasi bisa dimaklumi lantaran Kades Bengkala Astika termasuk salah satu kades kesayangan Bupati Putu Bagiada.

Ternyata Desa Bengkala sudah "dikapling" kandidat bupati/wabup Bagiada-Arga. Ini dibuktikan dengan pendeklarasian Bengkala Bemper Bagiada (BBB). Deklarasi spontan yang diserap dari tiga kelompok subak yakni Subak Abian Tibah, Langkaan dan Bongkang yang ada di di Dusun Tibah Desa Bengkala itu diungkap Kades Bengkala, Made Astika Minggu (11/2) kemarin pada acara paruman Subak di rumah milik Ponidi, di Dusun Tibah.

Bukannya pendeklarasian BBB itu melainkan Bengakala pun sudah "tertutup" bagi kandidat lain. Di hadapan kandidat Wabup PDIP, Made Arga Pynatih dan Ketua DPC PDIP Buleleng, Dewa Nyoman Sukrawan, krama subak meminta agar Kades Bengkala, Made Astika bersikap untuk menolak kandidat lain selain Bagiada-Arga Pynatih masuk Desa Bengkala. "Saya minta Pak Kades tegas menolak kandidat lain masuk Desa Bengkala. Hal ini penting agar warga desa tidak mecongkrah," usul Sukaca yang mantan Kades Bengkala.

"Kades harus tegas, menolak kandidat lain masuk desa Bengkala demi kondusifnya warga," tandas sejumlah krama subak lainnya.

Atas desakan sejumlah krama subak dan permintaan anggota DPRD Bali, Kesuma Putra agar krama mendukung paket Bagiada-Arga itulah Kades Astika kemudian secara spontan mendeklarasikan BBB. "Kalau semua sepakat, saya deklarasikan Desa Bengkala Bemper Bagiada," ungkap Astika yang langsung mendapat dukungan penuh dari krama subak.

Sementara, rombongan kandidat Wabup Made Arga Pynatih yang diminta untuk memperhatikan pengairan subak tampak tersenyum simpul melihat antusias puluhan krama subak yang hadir siang itu. Dikatakan Arga, dia salut atas semangat krama subak. Namun demikian, masalah air yang semakin langka adalah kehendak Tuhan."Kami akan perhatikan, namun semua berpulang pada kehendak Tuhan," menjawab mantan Ketua Komisi C DPRD Buleleng itu.

Bagaimana komentas Ketua DPC PDIP Buleleng, Dewa Nyoman Sukrawan? Politisi yang dilengserkan DPD PDIP Bali dari dewan beberapa pekan lalu ini menampik kalau pertemuan itu bukan merupakan kampanye."Tidak, ini semata acara temu wirasa antara kami dengan akar rumput PDIP. Kami ini dibesarkan wong cilik, sudah sepantanya kami datang bertemu mereka menyerap aspirasi," elak Dewa Sukrawan.

"Ini, ada juga anggota DPRD Bali bersama kami, bukan kampanye. Kalau ada aspirasi seperti BBB, itu spontan dan itulah aspirasi masyarakat di bawah," ujar Dewa Sukrawan diplomatis. (frs)

Sumber: Radar Bali

Posted by at 07:38:07 | Permanent Link | Comments (0) |