Tuesday, August 07, 2007

Jadwal Kacau, Pendaftaran Diundur

Kacau! Pendaftaran bakal calon (balon) gubernur Bali yang dibuat PDIP diundur. Molornya pendaftaran calon gubernur dan gubernur tak lepas dari amburadulnya kinerja tim pendaftaran dan juga adanya beda penafsiran surat keputusan (SK) Nomor : 428/DPP/KPTS/XII/2004, tentang petunjuk penjaringan calon kepala daerah dari PDIP.

Di intern pengurus sendiri, ada perbedaan apakah pasangan yang bakal melamar ke PDIP harus menyertakan paket (wakil gubernur) atau tidak. Guna menengahi perbedaan tafsir itu, pihak DPD PDIP Bali pun meminta petunjuk pusat.

"Lebih baik pendaftaran ditunda dulu sambil menunggu DPP. Ini hal biasa di PDIP. Seperti di Buleleng juga mundur dua minggu," aku Ketua DPD PDIP Bali AA Ngurah Oka Ratmadi di sekretariat DPD Jalan Banteng, Denpasar, sore kemarin.

Perbedaan tafsir terkait pendaftaran balon gubernur dari PDIP tak hanya membingungkan intern partai sendiri. Ketidakberanian DPD mengambil sikap guna memutuskan persoalan itu pun membuat kesan "apa kata Mega" atau petunjuk dari atas, masih membayangi kinerja PDIP.

Selain itu balon yang mendaftar pun ragu menyerahkan formulir yang sudah dikantongi. Halnya dialami Wayan Sudirta SH, salah satu balon yang rencananya Senin kemarin, resmi mendaftarkan diri. Akhirnya, lewat timnya membatalkan diri.

Meski memendam polemik, Cok Rat-sapaan akrab AA Ngurah Oka Ratmadi-tetap terlihat santai. Bisa dibilang meminjam istilah Gus Dur "Gitu aja kok repot". Cok Rat malah melihat mundurnya pendaftaran yang seharusnya sudah mulai 2 Agustus lalu bagian dari penjaringan yang dilakukan PDIP.

"Kalau soal ini (pendaftaran, red) saja (balon) sudah pengeng (pusing), bagaimana kalau kampanye? " jawabnya enteng sambil terkekeh. "Tiga hari saja sudah keluar petunjuk dari DPP kok, kita lihat dulu," imbuhnya.
Bagaimana jika balon benar-benar ngambek, apakah PDIP tidak rugi dengan semakin terbukanya kandidat independen? "Itu alasan kecil saja. PDIP sudah biasa kalah menang," tukasnya sembari kembali melempar joke-joke segar ala Cok Rat.

Di bagian lain, I Made Arjaya, wakil ketua DPC PDIP Denpasar menyayangkan soal amburadulnya pendaftaran balon. Ditambah lagi pernyataan-pernyataan intern PDIP yang semakin membuat bingung balon yang akan bertarung pada rakerdasus (rapat kerja daerah khusus) nanti.

Lebih jauh, kata dia, menilik SK 428, sejatinya DPP sudah memberikan wewenang pada DPD. Dengan demikian, keputusan soal maju tidaknya calon menjadi hak prerogatif daerah. Apalagi, DPD PDIP Bali sendiri memiliki tim ahli yang bisa diajak urun rembuk soal aturan main yang akan dijalankan.

Yang terpenting adalah apa pun hasil dari rakerdasus DPP bisa merubah atau pun mengganti pasangan paket pemenang.

Wita Dirikan Posko

Sementara itu, salah satu balon yang juga akan bertarung pada rakerdasus PDIP Bali yakni Prof Dr I Wayan Wita. Sore kemarin juga nongol di sekretariat DPD PDIP Jalan Banteng.
Wita yang masih mengenakan seragam kebesaran putih-putih, warna kebanggaan dokter. Langsung menyampaikan niatnya untuk mendaftar hari ini. Meski Cok Rat secara tegas menyatakan pendaftaran ditunda. "Saya sudah ditanya dan ditelepon orang-orang sudah daftar kok, saya belum," tutur ahli jantung Unud tersebut perihal support konstituennya.

Namun sayang saat disinggung soal berapa besar dukungan yang telah dikantongi, Wita masih ragu menjawab. Hanya saja, beber dia, ada konstituennya dari RS Sanglah, Buleleng dan tempat lain di Provinsi Bali. "Sedang dihitung, kalau kurang kan bisa disusul," jawabnya yang mendapat anggukan Cok Rat.

Begitu juga soal besaran dana yang telah dikantongi untuk berlaga pada bursa pilgub nanti, Wita mengaku hanya bermodal dua buku (tentang perguruan tinggi ) yang dia karang.
Menurut dia, pengetahuan lebih berharga daripada uang. Nah, dua buku itulah yang akan dia bawa saat mengenalkan diri kepada kader PDIP maupun konstituennya. "Waktu penjaringan kan nggak butuh, hanya saat kampanye saja," seloroh Cok Rat yang disambut tawa Wita.

Selain itu, hari ini Wita mengaku akan membuka posko di kediamannya bilangan Jalan Raya Teuku Umar. Tujuannya untuk menampung masukan dari masyarakat. "Saya akan buka posko untuk menampung masukan dari masyarakat," pungkasnya.(gup)

Sumber: Radar Bali 

Posted by at 06:11:50 | Permanent Link | Comments (0) |

I Gede Winasa, Ketua DPC PDIP dan Bupati Jembrana

Prof Dr drg I Gede Winasa, 57, terkenal sebagai Bupati yang memiliki kebijakan pro-rakyat. Dengan kebijakannya itu pula, Bupati Jembrana ini meraih berbagai penghargaan, selain juga mengantongi tujuh rekor Muri (Museum Rekor Indonesia).

Salah satu kebijakan Gede Winasa yang menggelemungkan reputasinya di kancah nasional bahkan internasional adalah program pendidikan gratis dan kesehatan gratis. Tak heran jika Ketua DPC PDIP Jembrana ini disebut-sebut sebagai salah satu kandidat terkuat untuk perebutkan posisi Gubernur Bali 2008-2013. Bahkan, Winasa termasuk di antara 20 tokoh Bali yang masuk bursa DPP Partai Golkar untuk disurvei LSI, buat penjaringan Calon Gubernur dari Partai Beringin. Selain masuk bursa di LSI Partai Golkar, Winasa juga muncul di Koalisi Bali Dwipa (KBD)---koalisi enam partai gurem yang hendak mengajukan Calon Gubernur Bali. Dan, tentu saja, Winasa juga menjadi kandidat unggulan dalam Rakerdasus di partainya untuk memilih Calon Gubernur Bali dari PDIP. Mana yang akan dipilih Winasa?

Sejak awal, Winasa tak mau naik kendaraan lain untuk maju ke Pilgub Bali 2008, selain partainya sendiri. Buat Winasa, logikanya seorang Ketua DPC PDIP ya maju ke Pilgub dengan kendaraan PDIP. Karena itu, Winasa tak ingin maju ke Konvensi Golkar maupun naik kendaraan KBD. "Kita sudah punya kendaraan sendiri, kok bingung pinjam kendaraan orang lain," kata Winasa kepada NusaBali di ruang kerjanya belum lama ini. Kendati demikian, Winasa mengaku tidak keberatan namanya masuk survei LSI versi Golkar. Dia pun menghargai Golkar yang telah memasukkan namanya. Hanya saja, Winasa tak ingin mengikuti Konvensi Golkar, karena sudah punya kendaraan bernama PDIP. Winasa mengaku khawatir ada tuntutan kompensasi khusus yang harus dibayar kepada banyak pihak yang menawarinya untuk naik kendaraan politik itu. "Jangan-jangan yang menawari kendaraan akan meminta kompensasi. Kalau begitu 'kan lebih baik naik kendaraan sendiri," terang pemegang Rekor Muri sebagai Bupati dengan prosentase perolehan suara terbanyak dalam Pilkada langsung ini. Yang pasti, Winasa memang getol ingin maju ke Pilgub Bali. Dia bukan sekadar ingin maju ke Pilgub, tapi 'mau' jadi Gubernur Bali. Niatnya itu dilandasi kenyataan di mana kondisi Bali amburadul pasca dua kali diguncang ledakan bom. Winasa pun ingin mengubah Bali ke arah yang lebih baik.

Winasa tak ingin membuat rasa keadilan dan kesejahteraan rakyat yang hanya dinikmati masyarakat Jembrana saja. Dia ingin berbuat serupa untuk masyarakat Bali secara keseluruhan. "Saya ingin menjadikan Bali lebih dari sekarang. Jika dengan semagat perubahan, Bali akan lebih baik daripada Jembrana sekarang ini. Sebab, sumber daya manusia dan sumber daya alam Bali lebih baik daripada Jembrana," terang Bpati yang juga Sekjen Badan Koordinasi Kabupetan Se-Indonesia ini. Knsep yang ditawarkan Winasa untuk mengubah Bali terbilang sangat sederhana, tapi jika tidak dilandasi kemauan kuat hal itu sulit terwujud. Jika terpilih jadi Gubernur, Winasa akan membuat kebijakan pendidikan gratis dan kesehatan gratis. "Dengan kekayaan alam Bali sekarang, pendidikan dan kesehatan sebetulnya bisa dibuat gratis," terang suami dari Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari ini.

Karenanya, yang pertama-tama akan dilakukan Winasa agar masyarakat Bali merasakan keadilan dan sejahtera adalah mengurangi beban hidup masyarakat. "Kalau beban dasar masyarakat, yakni pendidikan dan kesehatan sudah dikurangi, masyarakat akan sejahtera kok," katanya. Winasa juga ingin meramu sektor-sektor lain di luar pariwisata, yang bisa dikembangkan di Bali. Misalnya, pertainan dan peternakan. Winasa mencontohkan subak, yang menjadi kekayaan Bali. Menurut Winasa, harus dilakukan konservasi terhadap subak. "Jika subak dikonservasi, bisa menjadi penunjang pariwisata. Sebab, orang hanya bisa melihat subak di Bali. Jadi, petani mendapatkan imbas dari pariwisata," terang Winasa, yang bersama Ratna Ani Lestari, menyandang Rekor Muri sebagai Suami-Istri Bupati Pertama di Indonesia. Karena Bali sebagai pulau internasional, maka perubahan yang akan dilakukan Winasa adalah terlebih dulu memulihkan kepercayaan turis yang akan berkunjung. "Jangan sampai kita bilang di media Bali aman, tapi malah muncul ancaman teror. Karena itu, ciptakan rasa aman terlebih dulu, pariwisata otomatis akan tumbuh pesat," katanya.

Sektor lain yang juga akan dikembangkan Winasa adalah peternakan. Bali selama ini dikenal dengan sapi Bali yang kualitas dagingnya sangat bagus. "Orang Australia itu 'kan suka dengan steak, kenapa kita tak berdayakan steak sapi Bali? Bisa kok sapi Bali digunakan steak. Jadi, peternak Bali juga akan mendapatkan keuntungan dari imbas pariwisata." Ditambahkan Winasa, jika dirinya menjadi Gubernur Bali, maka akan diupayakan program yang mampu meramu semua sector, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia di Bali. Hal itu akan terintegrasi dengan hingar bingar pariwisata. Soal investor, Winasa tidak akan kelabakan. Sebab, dirinya cukup dikenal oleh investor 'saudara tua' alias Jepang.

Menurut Winasa, sekarang investor mau datang ke Bali jika semua hal sudah terpenuhi. Paling utama adalah rasa aman dan kepastian hukum. Sementara, untuk pengembangan sektor industri, Winasa tetap berpegang pada komitmen membangun sebuah Industri yang bebas polusi. Jika membangun industri yang menyebabkan polusi, Bali akan hancur. "Kalau Bali hancur, apa yang akan kita wariskan untuk anak cucu kita?" ujarnya seraya menyebut. Winasa juga siap berjuang memerangi kemiskinan di Bali, dengan meningkatkan pendapatan per kapita seluruh warga Bali. Pemerataan kehidupan yang digagas ini sekaligus untuk menghilangkan sebuah stigma pariwisata Bali sekarang, yang hanya dinikmati warga di Badung, Denpasar, dan Gianyar.

Winasa menginginkan nantinya imbas pariwisata bisa dinikmati masyarakat yang berada di ujung timur (Karangasem) hingga ujung utara (Buleleng). Winasa mengaku yakin bisa mewujudkan gagasan-gagasannya yang gilang gemilang tentang mngubah Bali ke depan itu. "Saya yakin seyakin-yakinnya kalau Bali ke depan akan berubah. Jangan sampai Bali mengalami stagnasi setelah diguncang dua kali ledakan bom." Mengenai pertarungan secara politis untuk maju ke Pilgub Bali 2008, Winasa mengaku sudah siap lahir batin, dengan semangat untuk membangun Bali secara ikhlas tanpa adanya prasangka. "Saya hanya ingin mengubah Bali menjadi lebih baik, tak ada kepentingan lain," dokter gigi bergelar professor ini. 

BIODATA: Nama Lengkap: Prof Dr drg I Gede Winasa Kelahiran : Denpasar, 9 Maret 1950 Nama Istri : Ratna Ani Lestari Anak : 4 Orang Q I Gede Ngurah Patriana Krisna Q Kadek Danendra Pramarta Krisna Q Ni Komang Ayu Marina Krisna Q Ni Ketut Ayu Dena Wintari Krisna RIWAYAT PENDIDIKAN Q SDN 1 Tegalcangkring 1962 Q SMPN 1 Penyaringan 1965 Q SMAN 1 Negara 1968 Q Fakultas Kedokteran Gigi Unair 1978 Q Geriatric Training, School of Dentistry, Hiroshima, University, Jepang, 1989-1990 Q Visiting Scientist, School of Dentistry, Tokushima University, Jepang 1991 Q Research Student in The Field of Danture Stomatis School of Dentistry, Hiroshima University, Jepang 1991 Q Short Training, Procedure of Candida Check School of Dentistry, Hiroshima University, Jepang 1993 Q Ilmu Kedokteran, Progran Doktor Pasca Sarjana Unair 1995 RIWAYAT PEKERJAAN Q Dokter Gigi Puskesmas Benculuk, Banyuwangi 1978 Q Dokter Gigi RSUD Bangli 1979-1980 Q Sekretaris Sekolah Pemgatur Rawat Gigi Kanwil Depkes Bali 1981 Q Kasi Evaluasi Kanwil Depkes Bali 1981-1987 Q Dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar 1983 Q Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Univetsitas Mahasaraswati Denpasar 1983-1992 Q Pemimpin Redaksi Majalah Kesehatan Gigi Indonesia 1993 Q Presiden Komisaris Patria Grup 1993 Q Guru Besar Ilmi Kesehatan Gigi Masyarakat pada FKG Universitas Mahasaraswati Denpasar 1999-sekarang JABATAN Q Bupati Jembrana 2000-2005 dan 2005-2010 Q Ketua DPC PDIP Jembrana

Sumber: NusaBali 

Posted by at 06:09:31 | Permanent Link | Comments (0) |

Alit Putra Incar Posisi Independen

Para kandidat gubernur mulai bermanuver. Malahan kandidat sekaliber I Gusti Bagus Alit Putra (AY) dikabarkan akan menerapkan jurus tak…tik…bom…dalam pertarungan Pilkadal 2008 mendatang.

Taktik itu diambil setelah dicueki Koalisi Bali Dwipa (KBD), Partai Demokrat (PD) sibuk mencari celah bagaimana agar I Gusti Alit Putra (AP) yang juga ketua Partai Demokrat (PD) Bali bisa bertarung di ajang pemilihan gubernur (Pilgub) 2008 mendatang.

Kepada koran ini kemarin, Wakil Ketua DPD PD Bidang OKK Made Mudarta menyatakan, kemungkinan AP diarahkan maju melalui jalur independen jika gagal bertarung melaluyi KBD. "Peluang maju melalui KBD memang belum ditutup 100 persen. Tapi kita juga harus mempertimbangkan banyaknya peluang yang bias diincar agar Pak Alit bisa tetap maju," ujar Mudarta.

Salah satu yang disasar adalah kursi independen dan konvensi Partai Golkar. Tapi kalau melalui konvensi Partai Golkar, versi Mudarta, kemungkinan berat karena Golkar pasti akan mempertimbangkan kadernya sendiri. Jadi kemungkinan paling besar adalah melalui jalur independen dan KBD. "Untuk itu kita terus mengikatkan komunikasi dengan KBD," sebutnya.

Lalu kapan keputusan partai diambil maju tidaknya melalui jalur independen? Kata Mudarta kemungkinan besar pasca pelantikan pengurus kecamatan di Buleleng 19 Agustus mendatang. "Tapi itu juga belum final. Kita masih mempertimbangkan banyak kemungkinan," urainya.

Ketika ditanya apakah niat Alit Putra maju tidak justru melecehkan partai, Mudarta mengatakan tidak. Dia malah berdalih Partai sudah mempertimbangkan masak-masak skenario itu. Tapi apa bentuk skenarionya, Mudarta menolak menjelaskan.

Yang menarik, kuat kemungkinan posisi independen yang diincar, mengingat tingginya cost politik yang harus ditanggung calon kalau maju melalui gabungan parpol. "Yang penting Pak Alit bisa maju dulu. Soal bagaimana proses berikutnya, tak masalah. Lha wong kita punya jaringan sampai ke bawah," pungkasnya sembari mengatakan posisi di KBD tetap menjadi pilihan.(mus)

 

Sumber: Radar Bali

Posted by at 06:06:45 | Permanent Link | Comments (0) |

Cari Gubernur, Bukan Gubernur Jenderal

SEMENTARA itu pentolan PDIP kemarin terus menggelorakan cagub/wagub kader tulen. Fraksi PDIP DPRD Bali bahkan telah mencetuskan paket calon gubernur/wagub nanti adalah tokoh yang memang kader banteng. "Secara aklamasi FPDIP mendukung calon dari kader," jelas Made Arjaya.

Menurutnya, banyak alasan yang melatarbelakangi dipilihnya kader. Selain banyak kader PDIP yang mumpuni, juga karena PDIP sudah lama dibuat menderita oleh pemerintahan Orde Baru. Karena itulah saatnya kini kader menyuarakan hati untuk bersatu dan memberi tempat terhormat bagi kadernya sendiri. "Kita nyari gubernur, bukan gubernur jendaral," sintilnya kepada cagub jenderal (Mangku Pastika dan Suwisma).

Menurut Arjaya, F PDIP Bali siap mempengaruhi PAC, DPC dan Fraksi PDIP di Kabupaten/Kota untuk meluruskan niat dan mendukung kader ke pilgub. "Rekomendasi ini secepatnya akan kita serahkan ke Puri Satria yang menjadi ikon perjuangan PDIP," tandasnya.

Entah karena ada hembusan cagub/wagub kader tulen itu akhirnya Ketua DPD PDIP Tjok Ratmadi dan Wakil Ketua DPD PDIP Bidang Kaderisasi Usdek Maharipa, mengambil formulir di sekretariat DPD. Namun keduanya mewakilkan mengambil formulir. Tjot Ratmadi diambilkan ajudannya, Komang Suryana. Sedangkan Usdek diambilkan Nyoman Sugata, kader dari PAC Abiansemal.

Usdek Maharipa sendiri saat ditanya mengatakan dirinya maju lantaran mendapat dukungan dari PAC Mengwi dan Abiansemal. Termasuk dukungan resmi dari DPC PDIP Badung. "Yang jelas, saya maju untuk posisi Bali-2," akunya polos. Sementara Tjok Ratmadi mengatakan, keinginannya maju dengan jalan mengambil formulir tak lebih untuk mengantisipasi perkembangan melajunya calon dari non kader. Yang menarik, Tjok Ratmadi mengatakan, lebih tertarik kalau pasangan Bali 1 dan Bali 2 kombinasinya kader dan non kader. Tapi apakah keinginannya itu diamini atau tidak, diserahkan sepenuhnya ke DPP PDIP. Lalu bagaimana menyikapi pencalonan A.A Puspayoga, apakah nanti tidak malah menimbulkan perang keluarga ? Ditanya soal itu, Tjok Rat malah tertawa."Sing ada (tidak ada) perang keluarga. Itu tidak ada sangkut pautnya. Yang jelas, saya maju sebagai tanggung jawab kepada PDIP untuk bisa menang diajang Pilgub Bali mendatang,"pungkasnya.(mus)

Sumber: Radar Bali 

Posted by at 06:05:46 | Permanent Link | Comments (0) |

Sementara Winasa Unggul, Disusul Pastika


Denpasar, Belum ada sebulan sejak diluncurkan 27 Juli lalu, pengunjung www.Beritabali.com sudah mencapai 1.700 pengunjung. Dari angka itu ada 593 pengunjung yang mengikuti polling Gubernur Pilihan Pengunjung. Untuk sementara Winasa unggul dengah meraih suara 60%.

Fasilitas polling yang disediakan di portal berita ini bertujuan untuk mengetahui aspirasi pengunjung, untuk kali pertama menyajikan polling tentang Siapa Gubernur Pilihan Pengunjung? Hingga berita ini dionlinekan jumlah pengisi polling sudah mencapai 593 suara.

Sementara peringkat pertama perolehan suara terbanyak diraih Gede Winasa yang saat ini menjabat Bupati Jembrana dengan 60% suara, disusul Mangku Pastika, mantan Kapolda Bali dengan 20% suara, dan berikutnya Cok Budi Suryawan dan Wayan Sudirta meraih prosentase yang sama yaitu 4%.

Siapa Gubernur Bali pilihan Anda? Ikuti Pollingnya di www.beritabali.com
Posted by at 06:02:55 | Permanent Link | Comments (0) |

Calon Independen: Ary Suta Pertanyakan Dukungan

Dosen S3 Universitas Indonesia Dr. Putu Ary Suta belum memastikan maju Pilkada Bali sebagai bakal calon independen.

''Kalau saya maju siapa yang mendukung,'' katanya kepada wartawan usai dialog ''Prospek dan Tantangan Sistem Demokrasi atas Terbukanya Calon Independen pada Pilkada'', Jumat (3/8) kemarin di Hotel Nikki Denpasar.Ketua KNPI Bali I Gede Indriawan Karna, S.H. menyatakan dialog ini diharapkan mampu mencarikan solusi bagi calon perorangan yang akan maju pada Pilkada Bali.

ArySuta mengatakan peluang terbukanya calon independen karena kepercayaan terhadap parpol makin menurun.Terlebihlagi ketika melihat saat pencalonan dirinya sebelumnya. Ketikadukungan telah diraih dari 55 PAC, ternyata masih ada hak prerogatif.

Karenaitu, kehadirannya dalam dialog ini lebih banyak memberikan pencerahan soal manusia unggul.Menurutnya, 80 persen manusia bisa dimotivasi asalkan dipimpin orang yang benar. Sisanya 5 persen sulit dimotivasi, 2-5 persen (satria) bisa menjadi pemimpin. ''Kalau Bali tak maju jangan salahkan rakyatnya, mampukah pemimpinnya memotivasi rakyatnya,'' ucapnya.

Diakui, manusia Indonesia jauh tertinggal teknologi dengan negara lain. Padahal, setiap manusia dituntut memiliki daya saing tinggi. Selainitu agar manusia Bali bermanfaat, dia harus mampu memberikan nilai tambah bagi lingkungan.

Diaberharap manusia Bali dalam bersaing jangan melakukan kampanye negatif.Bersainglahmencari nilai-nilai dengan prestasi dan tonjolkan kejujuran sebagai ciri keunggulan orang Bali.Cirikeunggulan manusia cerdas lainnya berani mengakui perbedaan dan mampu mendayagunakan secara maksimal potensi tenaga, pikiran dan artanya.

Sementaraitu, pengamat politik Drs. Nyoman Wiratmaja, M.Si.mengatakan di balik peluang terbukanya calon independen, masih terbuka jurang dalam yang sangat lebar serta belum ada jembatan yang dibuat untuk dilalui Adasemangat membuat jembatan, tetapi modelnya belum jelas. ''Revisi UU 32/2004 seperti apa, membuat perpu atau aturan lain,'' katanya.

Soalpolitik uang, diakui Wiratmaja, ''uang perahu'' mungkin sangat berkurang.Namun politik uang untuk menarik simpati massasangat membengkak.

Ketua KPU Bali Drs. AA Oka Wisnumurthi, M.Si. juga mengakui belum bisa melaksanakan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang calon perorangan itu karena belum ada ketentuannya (029/*)

Sumber : Balipost 

Posted by at 06:00:37 | Permanent Link | Comments (0) |

Pilgub 2008: Pemilih Terbanyak di Buleleng

KabupatenBuleleng menjadi lumbung suara terbesar dalam Pilkada Bali 2008 mendatang.Berdasarkan data sementara, di wilayah ini terdapat 434.765 pemilih dari total pemilih terdaftar di Bali 5.590.679 orang. Sebaranpemilih kedua ada di wilayah Gianyar dengan jumlah pemilih 430 orang serta Denpasar menempati peringat tiga dengan jumlah pemilih 342. 570 orang.

Demikiandijelaskan Ketua KPUD Bali Drs. A.A. Oka Wisnumurti, M.Si., Jumat (3/8) kemarin. Ia mengatakan  pemetaan pemilih sementara ini diolah dari data pemilu sebelumnya. Untukkepentingan verifikasi data pemilih ini pihaknya sedang melakukan pemutahiran data penduduk. ''KPUD melihat pemilih tercecer tetap menjadi sumber konflik yang rawan. Untuk itu, data pemilih yang ada terus akan dimatangkan,'' jelasnya.

Wisnumurtimengatakan, dari 9 wilayah kabupaten/kota, pemilih terendah ada di wilayah Bangli hanya 154.724 orang.Sedangkandi Klungkung terdapat 172.399 pemilih dan di Jembrana 188.514 pemilih. Berdasarkan data sementara ini, KPUD merancang akan membangun 5.967 tempat pemungutan suara dan membentuk 701 panitia pemungutan suara (PPS). Selebihnya, di Badung terdapat 269.876 pemilih, Tabanan

306.969 pemilih serta di Karangasem 290.540 orang pemilih.

Terkaitdengan payung hukum Pilgub Bali 2008, KPUD Bali mengaku masih dilematis.Anggota KPUD Bali Lanang Perbawa Sukawati, S.H., M.M. mengatakan pihaknya akan menunggu hasil revisi terbatas terhadap pasal-pasal UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. ''KPUD masih berada dalam posisi dilematis dalam menentukan payung hukum Pilgub Bali 2008,'' jelasnya.

MenurutLanang, kekosongan payung hukum ini akan menjadi potensi konflik yang sangat rawan. Terlebih belakangan ini banyak kandidat akan tersisih dalam perebutan kendaraan politis. Akibatnya, jalur independen yang telah diputuskan Mahkamah Konstitusi akan dilirik. Jika KPUD tak bisa mewadahi keinginann ini, akan terjadi beda persepsi yang bisa memicu konflik. ''KPUD Bali berharap revisi terbatas bisa dituntaskan sesuai agenda di DPR. Setidaknyakami berharap menjelang pendaftaran Pilgub, ketentuan tentang calon independen memiliki kepastian,'' ujarnya. (044)

Sumber: Balipost 

Posted by at 05:58:52 | Permanent Link | Comments (0) |

Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma, Dirut TPI

Nama Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma, 58, mendadak jadi pembicaraan masyarakat Bali dan para elite parpol. Hal ini berkaitan dengan kemunculannya sebagai salah satu kandidat Gubernur Bali, yang oleh sejumlah kalangan disebut-sebut memiliki kans besar bersaing dengan tokoh-tokoh lainnya.

Selain muncul dalam perbincangan kader PDIP, pensiunan jenderal bintang dua TNI kelahiran Desa Tamanbali, Bangli, 10 Mei 1949, ini juga masuk bursa di DPP Partai Golkar untuk disurvei LSI guna penjaringan Calon Gubernur Partai Golkar melalui ajang Konvensi. Dalam survei LSI versi Golkar, Suwisma bersaing dengan 20 kandidat lainnya, baik dari kalangan independen, kader parpol, maupun kader Golkar sendiri. Termasuk di antaranya Komjen Made Mangku Pastika, tokoh independen dan jenderal bintang tiga polisi yang juga jadi rivalnya dalam penjaringan Calon Gubernur PDIP. Tapi, siapkah Suwisma maju ke Pilgub Bali dengan kendaraan politik Partai Golkar, melalui proses Konvensi? Soal Konvensi ini, Suwisma enggan menjawab. Saat ini, dia sedang getol gerilya untuk berebut kendaraan PDIP guna maju ke Pilgub Bali. "Yang terpenting, bagaimana nanti kepemimpinan itu bisa mendapatkan sokongan yang kuat dari masyarakat," kelit Suwisma tanpa mau menyebut pasti ikut atau tidak dalam Konvensi Golkar.

Keengganan Suwisma soal ikut Konvensi Golkar ini bisa ditafsirkan macam-macam. Jika lolos Rakerdasus PDIP, otomatis dia akan maju ke Pilgub sebagai Calon Gubernur PDIP. Sebaliknya, jika ternyata gagal di Rakerdasus PDIP, bisa jadi Suwisma bakal ikut Konvensi Golkar. Soalnya, memang Rakerdasus PDIP yang digelar lebih dulu. Ditemui NusaBali di Wisma Bali Center, Jalan Tukad Pakerisan Denpasar, beberapa waktu lalu, Suwisma mengatakan kemunculannya sebagai salah satu Balon Gubernur adalah keterpanggilan untuk ngayah dan mayadnya demi kemajuan Bali. "Saya merasa terpanggil untuk bisa berbuat lebih banyak bagi kesejahteraan masyarakat Bali. Jadi bukan atas keinginan yang bersifat pribadi terhadap jabatan tertentu," ujar lulusan Akademi Militer tahun 1971 ini. Suwisma mengatakan, banyak hal yang mesti ditingkatkan untuk dapat secara optimal mendorong kemajuan Bali, baik di bidang politik, pariwisata, maupun keamanan. Di bidang pariwisata, misalnya, putra Bangli ini mengatakan perlunya memberi jaminan keamanan yang lebih baik kepada para wisatawan. "Sehingga, tamu yang datang ke sini akan merasa aman. Mau pergi ke mana saja tak akan khawatir jadi korban kejahatan," katanya.

Tak kalah penting adalah kenyamanan dan kebersihan yang mesti terus ditingkatkan. Dengan demikian, setiap wisatawan akan merasa betah dan memiliki cerita tersendiri setiap mengingat Bali. "Jika hal ini bisa dicapai, maka tujuan Bali sebagai daerah pariwisata bener-benar akan bisa dicapai. Begitu orang akan menginjakkan kaki di Bali, pikiran mereka sudah terasa jernih dan tenang. Beban utang sebesar apa pun sepertinya hilang," seloroh mantan anggota DPR RI Fraksi TNI/Polri ini. Sama halnya dengan sektor pertanian. Bagi Suwisma, penguatan sektor ini menjadi tantangan tersendiri yang mestinya bisa digarap lebih maksimal. Sebab, Bali memiliki potensi pertanian menjanjikan jika digarap secara tepat sasaran. Di samping revitalisasi pertanian, juga bisa menyelamatkan lingkungan serta budaya Bali yang dijiwai oleh agama Hindu. "Konsepsi ini mesti menjadi dasar dan arah pembangunan ke depan," jelas tokoh yang kini menjabat sebagai Direktur Utama Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) ini. Nah, untuk melakukan ini, pemimpin Bali nantinya mesti bisa merangkul seluruh komponen masyarakat. "Tidak bisa bergerak sendiri-sendiri, harus bergerak bersama secara sinergis antara pemerintah, tokoh masyarakat, hingga LSM," kata Suwisma. Mantan Panglima Divisi I Kostrad ini juga mengatakan pentingnya meletakkan dasar-dasar pembangunan Bali yang berkelanjutan. Dengan demikian, apa yang dilakukan pemimpin Bali ke depan merupakan sebuah kesinambungan kerja.

Namun demikian, di setiap periode kepemimpinan harus tetap ada target dan sasaran yang ingin dicapai. "Salah satu yang saya anggap paling penting adalah meletakkan dasar-dasar konsep pembangunan Bali hingga 2020 nanti," terangnya. Sehubungan hal tersebut, Suwisma memiliki tiga langkah strategis yang hendak diwujudkan: menciptakan masyarakat Bali yang damai, sejahtera, dan maju. "Tiga hal ini adalah tahapan yang mesti dicapai. Dengan kedamaian inilah kemudian bisa muncul stabilitas untuk mewujudkan kesejahteraan. Dan, jika kesejahteraan ini bisa tercapai, maka masyarakat Bali akan bisa berpikir tentang kompetisi untuk maju." Dalam hal ini, Suwisma mengatakan pengtingnya penguasaan teknologi di era persaingan. Sebab, teknologi bisa mendorong efektivitas dan efisiensi kerja.7 lit BIODATA Nama Lengkap: Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma Kelahiran : Bangli, 10 Mei 1949 Nama Istri : Ir Rataya B Kentjanawathy Anak : 3 Orang Q Lettu Inf Sang Ngurah Wikrama Wirapathy Q Sang Ngurah Wiranggana Adityapathy Q Sang Ngurah Wiratama Satriapathy PENDIDIKAN Q SD Tamanbali, Bangli Q SMPN Bangli Q SMAN Denpasar Q Akademi Militer Magelang (1971) ORGANISASI/JABATAN Q Ketua PB Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) Q Ketua Pusat Terjun Payung PB FASI Q Ketua Umum PB Pertina Q Ketua Badan Internal Audit KONI Pusat Q Dirut Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) Q Komisaris Global TV Q Komisaris PT Gajah Tunggal JABATAN MILITER Q Komandan Kompi Parako Kopassus Q Wakil Komandan Kopassus Q Komandan Korem 043/Garuda Hitam Lampung Q Komandan Sekolah Calon Perwira Q Panglima Divisi I Kostrad Q Panglima Kodam VI/Tanjung Pura-Kalimantan Q Kepala Staf Kostrad Q Asisten Teritorial Kasad Q Asisten Teritorial Kasum TNI Q Anggota DPR RI Fraksi TNI/Polri

 

Sumber : NusaBali 

Posted by at 05:57:17 | Permanent Link | Comments (0) |

I Wayan Wita, Akademisi & Mantan Rektor Unud

Prof Dr dr I Wayan Wita SpJP, 59, selama ini dikenal sebagai seorang akademisi. Selain menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Unud, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah ini juga sempat menjabat Rektor Unud periode 2001-2005. Jabatannya saat ini sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Ikayana (Ikatan Alumi Universitas Udayana), menjadikan Wayan Wita cukup populer di kalangan masyarakat.

Tak heran jika nama Wayan Wita termasuk di antara 20 tokoh Bali yang masuk bursa DPP Partai Golkar untuk disurvei LSI, guna diikutkan Konvensi buat menjaring Calon Gubernur dari Partai Beringin. Selain masuk survei LSI versi Golkar, Wita juga menjadi salah satu kandidat independen yang bakal maju ke Rakerdasus guna memilih Calon Gubernur dari PDIP. Partai mana yang akan dipilih Wita untuk maju ke Pilgub Bali 2008-2013? Ternyata, Wita komit dengan pendiriannya untuk maju ke perebutan kursi Bali 1 melalui kendaraan politik PDIP. Artinya, Wita tidak akan ikut Konvensi Golkar, apa pun hasil survei LSI nantinya. Kendati begitu, Wita sangat menghargai Golkar yang telah memasukkan namanya dalam survei LSI. Hanya saja, sejak awal dia tak punya rencana untuk maju ke Pilgub Bali dengan kendaraan politik Partai Golkar. "Saya sudah memilih bergabung dengan PDIP, ya sebisa mungkin saya harus konsisten," ujar tokoh sepuh kelahiran Badung, 7 Desember 1948 ini.

Lepas soal nantinya bisa nyalon Gubernur melalui PDIP, Wita sudah punya visi khusus untuk membangun Bali ke depan. Pemikiran Wita ini tidak harus terkotak karena perbedaan partai. Salah satu keinginannya adalah memajukan bidang pendidikan. "Keinginan saya memajukan pendidikan. Dalam hal ini, bagaimana memberikan dasar berpikir dan bertindak," kata Wita kepada NusaBali, Senin (6/8). Ibarat memberikan cara menangkap ikan, menurut Wita, yang penting bukannya memberi alat penangkap ikan (kail), apalagi memberi ikan yang sudah tertangkap. Tapi, dalam bentuk yang lebih konkrit, bagaimana caranya menangkap ikan. Nah, terkait memajukan pendidikan ini, menurut Wita, adalah bagaimana menggunakan semua saluran pendidikan yang ada. Termasuk pendidikan tradisional semisal pasraman, maupun pendidikan yang berbasis modern IT.

Dalam lembaga pendidikan tersebut diberikan pemahaman, apa yang harus dan bisa dilakukan peserta didik dengan melihat kondisi realitas sekitarnya. Wita mengambil contoh tradisi peribadatan. Orang beribadah itu untuk ungkapan rasa syukur. Meski demikian, mengapa orang berlomba-lomba membuat banten yang glamour? Ukuran besar dan jenis buah pun harus serba bagus, impor lagi. "Yang muncul adalah kesan konsumtif, pamer, bukannya rasa syukur kepada Tuhan," katanya. Padahal, ungkapan rasa syukur tidak perlu upakara yang wah. Tapi, bisa dengan sederhana sesuai kemampuan. Menurut Wita, pemahaman semacam ini harusnya sudah diajarkan di pasraman-pasraman. Pun, demikian dengan sekolah yang berbasis teknologi modern. "Hanya karena orang menyebut sekarang zaman modern, orang berlomba belajar IT. Padahal, tidak semua yang menyangkut IT bisa memberi faedah ke masyarakat," imbuhnya. Ditambahkan Wita, pelajaran menangkap ikan akan melahirkan dialektika antara kondisi yang ideal dengan realitas yang ada. Sehingga, melahirkan sesuatu yang baru, yang kreatif dan dinamis, serta pastinya memberi manfaat kepada masyarakat. Selain bidang pendidikan, Wita juga ingin mengembangkan bidang kesehatan. "Saya tidak akan mengusulkan program-program yang spektakuler yang sifatnya baru. Tetapi, yang paling penting adalah meneruskan program yang sudah diluncurkan, yakni program yang memiliki prospek bagus," terang Wita. Wita mencontohkan program 3 M (menguras, mengubur, menutup) sebagai langkah penanggulangan demam berdarah. Kalau program ini dijalankan, tentu penyakit demam berdarah dapat dicegah.

Permasalahan sekarang, program pencegahan yang bagus tersebut tidak berjalan. "Makanya, saya berkeinginan merevitalisasi program-program kesehatan yang memiliki prospek bagus. Harapannya, dengan bangkitnya kembali program tersebut, mampu mencegah timbulnya penyakit," tandas Wita. Dalam kajian kesehatan, pencegahan penyakit memang lebih penting daripada penanganan penyakit. Dengan pencegahan, biaya kesehatan yang dikeluarkan lebih murah. Pencegahan penyakit demam berdarah, misalnya, lima kali lebih murah dibanding dengan pengobatannya. Ada satu pilar lagi yang ingin diwujudkan Wita dalam membangun Bali ke depan: perekonomian. Dan, perekonomian yang ingin dikembangkannya tetap berbasis pertanian dan pariwisata. Hanya saja, Wita ingin meningkatkan nilai ekonomi dari dua sektor tersebut. "Selama ini, jualan sektor pariwisata dan pertanian Bali merupakan produk mentah, belum dipoles, sehingga nilai ekonomisnya rendah. Misalnya, tari kecak apabila dikemas dalam pertujunkan yang eksklusif, tentu nilai ekonominya lebih tinggi." Selain meningkatkan mutu jualan pariwisata dan pertanian, Wita juga punya obsesi menjadikan Bali sebagai kota wisata intelektual. Dengan adanya fasilitas hotel, tempat hiburan, dan universitas, seharusnya dapat disatukan menjadi produk baru, yaitu wisata intelektual. "Kalau kota semacam Jogjakarta bisa menjadi kota pendidikan, Bali tentu juga bisa menirunya, bahkan mengunggulinya. Bayangkan, kalau konferensi internasional, workshop internasional, dan lomba ilmiah internasional dilakukan di Bali. Setelah membahas tetek bengek intelektual, mereka bisa rileks dibuai pesona Bali, tapa saling melengkapi," jelas Wita.

Wita sendiri merupakan satu dari sekian tokoh non-kader yang ngebet ingin ngayah sebagai Gubernur Bali. Selain Wita, ada nama-nama seperti Made Mangku Pastika, Wayan Sudirta, Sang Nyoman Suwisma, hingga Budi Argawa. Wita sangat ingin mengikuti jejak dua pendahulunya, Prof Dr Ida Bagus Mantra dan Prof dr Ida Bagus Oka, mantan Rektor Unud yang sama-sama terpilih menjadi Gubernur Bali. "Sampai saat ini, dua mantan Rektor Unud yang pernah menjabat sebagai Gubernur Bali adalah Prof Dr IB Mantra dan Prof Dr IB Oka," ujar Wita seusai dilantik menjadi Ketua Ikayana perioda 2006-2011 menggantikan Prof I Nyoman Suparta, beberapa waktu lalu. Bahkan, kata Wita, IB Mantra dan IB Oka sampai 20 tahun menjabat Gubernur Bali sejak era 1970-an. Mereka itulah yang melecut motivasi Wita ingin menawarkan secuil pengalamannya sebagai mantan rektor untuk bisa berbagi pengalaman memimpin Bali. Untuk itu, Wita jelas-jelas mematok target sebagai Bali 1, bukan Bali 2 (Wakil Gubernur).

Posisinya sebagai Ketua Ikayana juga dianggap Wita sebagai salah satu kekuatan untuk maju ke Pilgub Bali. Soalnya, Ikayana kini punya anggota lebih dari 44.000 orang, yang tersebar di seluruh Bali, bahkan luar Bali. Ditegaskan Wita, ada empat syarat untuk pemimpin Bali: hindari pemimpin Bali dengan profesional tiruan, mengelola perubahan yang kekal, hindari bekerja sendiri, dan siap gagal. "Gagal bukan berati berakhir, karena seperti buku saya bahwa saya memimpin Unud berawal dari kegagalan," katanya. 7 cr14 BIODATA Nama Lengkap: Prof Dr dr I Wayan Wita SpJP Kelahiran : Badung, 7 Desember 1948 Nama Istri : Ni Ketut Gadung SST Anak : 2 Orang Q Ni Wayan Eka Ciptasari Q I Made Putra Swi Antara RIWAYAT ORGANISASI Q Ketua Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Resi (MGPSSR) Provinsi Bali 2004-2009 Q Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Udayana (Ikayana) 2006-2011 Q Ketua IV (Bidang Sosial Budaya) Pengurus Pusat PHDI 2006-2011 RIWAYAT PEKERJAAN Q Pembantu Dekan I Fakultas Kedokteran Unud 1994-1998 Q Pembantu Rektor I Unud 1998-2001 Q Rektor Unud 2001-2005 Q Kepala Instalasi Pelayanan Jantung Terpadu RS Sanglah (2005- sekarang)

Sumber : NusaBali 

Posted by at 05:55:22 | Permanent Link | Comments (0) |

Alit Yudha Minta Etika Politik Dijaga

MEMANASNYAsuhu politik di internal Golkar Bali ketika menanggapi pemberitaan di media massa yang mengunggulkan I Gusti Ngurah Alit Yudha sebagai hasil survai LSI untuk pilgub Bali, ditanggapi santai oleh Mantan Ketua DPD Partai Golkar Bali ini. ''Apapun bisa terjadi, segala sesuatunya sebaiknya dicerna dengan damai dan wajar,'' ujarnya, Kamis (2/8) kemarin.

Ditambahkanputra pahlawan revolusi I Gusti Ngurah Rai ini, untuk menghadapi pujian atau kritikan harus bisa bersikap sama dan wajar. Ia berpendapat bahwa tidak baik mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. ''Lelasan makresekan kadenang macan, kumis macan kadenang jambot jangkrik (kadal berisik dikira harimau, kumis harimau dikira jambot jengkrik, red),'' seloroh Alit Yudha memberikan ilustrasi dalam bahasa Bali.

Ditanyasikapnya tentang hingar-bingar bursa calon Gubernur Bali, tokoh Puri Carangsari ini mengatakan bahwa dirinya sudah memilih untuk berada di tengah-tengah masyarakat dari desa ke desa.''Pilihan saya sudah jelas,'' ungkapnya sembari mengatakan dirinya memang tidak ingin dimasukkan ke dalam daftar LSI. ''Saya sudah bicara pada teman-teman di DPP Golkar,'' tegasnya.

Bilakemudian ada dukungan terhadap satu nama dari beberapa DPD II Partai Golkar Kabupaten maupun pengurus Golkar Bali secara terbuka untuk maju ke Pilgub Bali, menurutnya wajar saja. Namun, hal itu akan melecehkan mekanisme demokrasi yang telah dipilih oleh Partai Golkar. ''Golkar tidak boleh melecehkan putra-putra terbaik Bali yang telah diusung melalui mekanisme LSI,'' katanya serius.Menurutnya, kendatipun sistem LSI dilakukan secara tertutup, akan tetapi masyarakat telah mengetahui tokoh-tokoh yang dibawa namanya ke Jakarta (DPP).

Seharusnya elite Golkar Bali menjaga etika politik dalam menempatkan diri.Terlebihlagi di antara tokoh-tokoh tersebut sebagian besar adalah putra-putra terbaik Bali dari tokoh partai politik maupun dari kalangan independen, ''Bila sejumlah nama tokoh Bali sudah dimasukkan dalam daftar survai LSI, maka tidak etis jadinya bila ada DPD II tergiring untuk mendukung hanya satu calon,'' ungkapnya.

Menurut Alit Yudha, hal-hal serupa itu boleh saja dilakukan di internal partai saja. ''Berbeda halnya kalau itu hanya sekadar dagelan politik jika yang disurvai hanya kader-kader sendiri,'' katanya. ''Ini semua saya lakukan sebagai wujud kecintaan kepada partai yang pernah kita kawal bersama,'' tegas Alit Yudha. (r/*)

 

Sumber: Balipost 

Posted by at 05:51:21 | Permanent Link | Comments (0) |
1 2