Prof Dr dr I Wayan Wita SpJP, 59, selama ini dikenal sebagai seorang akademisi. Selain menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Unud, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah ini juga sempat menjabat Rektor Unud periode 2001-2005. Jabatannya saat ini sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Ikayana (Ikatan Alumi Universitas Udayana), menjadikan Wayan Wita cukup populer di kalangan masyarakat.
Tak heran jika nama Wayan Wita termasuk di antara 20 tokoh Bali yang masuk bursa DPP Partai Golkar untuk disurvei LSI, guna diikutkan Konvensi buat menjaring Calon Gubernur dari Partai Beringin. Selain masuk survei LSI versi Golkar, Wita juga menjadi salah satu kandidat independen yang bakal maju ke Rakerdasus guna memilih Calon Gubernur dari PDIP. Partai mana yang akan dipilih Wita untuk maju ke Pilgub Bali 2008-2013? Ternyata, Wita komit dengan pendiriannya untuk maju ke perebutan kursi Bali 1 melalui kendaraan politik PDIP. Artinya, Wita tidak akan ikut Konvensi Golkar, apa pun hasil survei LSI nantinya. Kendati begitu, Wita sangat menghargai Golkar yang telah memasukkan namanya dalam survei LSI. Hanya saja, sejak awal dia tak punya rencana untuk maju ke Pilgub Bali dengan kendaraan politik Partai Golkar. "Saya sudah memilih bergabung dengan PDIP, ya sebisa mungkin saya harus konsisten," ujar tokoh sepuh kelahiran Badung, 7 Desember 1948 ini.
Lepas soal nantinya bisa nyalon Gubernur melalui PDIP, Wita sudah punya visi khusus untuk membangun Bali ke depan. Pemikiran Wita ini tidak harus terkotak karena perbedaan partai. Salah satu keinginannya adalah memajukan bidang pendidikan. "Keinginan saya memajukan pendidikan. Dalam hal ini, bagaimana memberikan dasar berpikir dan bertindak," kata Wita kepada NusaBali, Senin (6/8). Ibarat memberikan cara menangkap ikan, menurut Wita, yang penting bukannya memberi alat penangkap ikan (kail), apalagi memberi ikan yang sudah tertangkap. Tapi, dalam bentuk yang lebih konkrit, bagaimana caranya menangkap ikan. Nah, terkait memajukan pendidikan ini, menurut Wita, adalah bagaimana menggunakan semua saluran pendidikan yang ada. Termasuk pendidikan tradisional semisal pasraman, maupun pendidikan yang berbasis modern IT.
Dalam lembaga pendidikan tersebut diberikan pemahaman, apa yang harus dan bisa dilakukan peserta didik dengan melihat kondisi realitas sekitarnya. Wita mengambil contoh tradisi peribadatan. Orang beribadah itu untuk ungkapan rasa syukur. Meski demikian, mengapa orang berlomba-lomba membuat banten yang glamour? Ukuran besar dan jenis buah pun harus serba bagus, impor lagi. "Yang muncul adalah kesan konsumtif, pamer, bukannya rasa syukur kepada Tuhan," katanya. Padahal, ungkapan rasa syukur tidak perlu upakara yang wah. Tapi, bisa dengan sederhana sesuai kemampuan. Menurut Wita, pemahaman semacam ini harusnya sudah diajarkan di pasraman-pasraman. Pun, demikian dengan sekolah yang berbasis teknologi modern. "Hanya karena orang menyebut sekarang zaman modern, orang berlomba belajar IT. Padahal, tidak semua yang menyangkut IT bisa memberi faedah ke masyarakat," imbuhnya. Ditambahkan Wita, pelajaran menangkap ikan akan melahirkan dialektika antara kondisi yang ideal dengan realitas yang ada. Sehingga, melahirkan sesuatu yang baru, yang kreatif dan dinamis, serta pastinya memberi manfaat kepada masyarakat. Selain bidang pendidikan, Wita juga ingin mengembangkan bidang kesehatan. "Saya tidak akan mengusulkan program-program yang spektakuler yang sifatnya baru. Tetapi, yang paling penting adalah meneruskan program yang sudah diluncurkan, yakni program yang memiliki prospek bagus," terang Wita. Wita mencontohkan program 3 M (menguras, mengubur, menutup) sebagai langkah penanggulangan demam berdarah. Kalau program ini dijalankan, tentu penyakit demam berdarah dapat dicegah.
Permasalahan sekarang, program pencegahan yang bagus tersebut tidak berjalan. "Makanya, saya berkeinginan merevitalisasi program-program kesehatan yang memiliki prospek bagus. Harapannya, dengan bangkitnya kembali program tersebut, mampu mencegah timbulnya penyakit," tandas Wita. Dalam kajian kesehatan, pencegahan penyakit memang lebih penting daripada penanganan penyakit. Dengan pencegahan, biaya kesehatan yang dikeluarkan lebih murah. Pencegahan penyakit demam berdarah, misalnya, lima kali lebih murah dibanding dengan pengobatannya. Ada satu pilar lagi yang ingin diwujudkan Wita dalam membangun Bali ke depan: perekonomian. Dan, perekonomian yang ingin dikembangkannya tetap berbasis pertanian dan pariwisata. Hanya saja, Wita ingin meningkatkan nilai ekonomi dari dua sektor tersebut. "Selama ini, jualan sektor pariwisata dan pertanian Bali merupakan produk mentah, belum dipoles, sehingga nilai ekonomisnya rendah. Misalnya, tari kecak apabila dikemas dalam pertujunkan yang eksklusif, tentu nilai ekonominya lebih tinggi." Selain meningkatkan mutu jualan pariwisata dan pertanian, Wita juga punya obsesi menjadikan Bali sebagai kota wisata intelektual. Dengan adanya fasilitas hotel, tempat hiburan, dan universitas, seharusnya dapat disatukan menjadi produk baru, yaitu wisata intelektual. "Kalau kota semacam Jogjakarta bisa menjadi kota pendidikan, Bali tentu juga bisa menirunya, bahkan mengunggulinya. Bayangkan, kalau konferensi internasional, workshop internasional, dan lomba ilmiah internasional dilakukan di Bali. Setelah membahas tetek bengek intelektual, mereka bisa rileks dibuai pesona Bali, tapa saling melengkapi," jelas Wita.
Wita sendiri merupakan satu dari sekian tokoh non-kader yang ngebet ingin ngayah sebagai Gubernur Bali. Selain Wita, ada nama-nama seperti Made Mangku Pastika, Wayan Sudirta, Sang Nyoman Suwisma, hingga Budi Argawa. Wita sangat ingin mengikuti jejak dua pendahulunya, Prof Dr Ida Bagus Mantra dan Prof dr Ida Bagus Oka, mantan Rektor Unud yang sama-sama terpilih menjadi Gubernur Bali. "Sampai saat ini, dua mantan Rektor Unud yang pernah menjabat sebagai Gubernur Bali adalah Prof Dr IB Mantra dan Prof Dr IB Oka," ujar Wita seusai dilantik menjadi Ketua Ikayana perioda 2006-2011 menggantikan Prof I Nyoman Suparta, beberapa waktu lalu. Bahkan, kata Wita, IB Mantra dan IB Oka sampai 20 tahun menjabat Gubernur Bali sejak era 1970-an. Mereka itulah yang melecut motivasi Wita ingin menawarkan secuil pengalamannya sebagai mantan rektor untuk bisa berbagi pengalaman memimpin Bali. Untuk itu, Wita jelas-jelas mematok target sebagai Bali 1, bukan Bali 2 (Wakil Gubernur).
Posisinya sebagai Ketua Ikayana juga dianggap Wita sebagai salah satu kekuatan untuk maju ke Pilgub Bali. Soalnya, Ikayana kini punya anggota lebih dari 44.000 orang, yang tersebar di seluruh Bali, bahkan luar Bali. Ditegaskan Wita, ada empat syarat untuk pemimpin Bali: hindari pemimpin Bali dengan profesional tiruan, mengelola perubahan yang kekal, hindari bekerja sendiri, dan siap gagal. "Gagal bukan berati berakhir, karena seperti buku saya bahwa saya memimpin Unud berawal dari kegagalan," katanya. 7 cr14 BIODATA Nama Lengkap: Prof Dr dr I Wayan Wita SpJP Kelahiran : Badung, 7 Desember 1948 Nama Istri : Ni Ketut Gadung SST Anak : 2 Orang Q Ni Wayan Eka Ciptasari Q I Made Putra Swi Antara RIWAYAT ORGANISASI Q Ketua Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Resi (MGPSSR) Provinsi Bali 2004-2009 Q Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Udayana (Ikayana) 2006-2011 Q Ketua IV (Bidang Sosial Budaya) Pengurus Pusat PHDI 2006-2011 RIWAYAT PEKERJAAN Q Pembantu Dekan I Fakultas Kedokteran Unud 1994-1998 Q Pembantu Rektor I Unud 1998-2001 Q Rektor Unud 2001-2005 Q Kepala Instalasi Pelayanan Jantung Terpadu RS Sanglah (2005- sekarang)
Sumber : NusaBali