Pilkada Buleleng: Koalisi Udayana Ancam Golkar
Skenario Partai Golkar untuk membonceng Partai Demokrat untuk tarung Pilkada Buleleng, 12 Juni 2007 depan, urung jadi kenyataan. Pasalnya, Partai Demokrat justru membentuk koalisi baru bertajuk 'Koalisi Udayana' dengan menggandeng tiga partai gurem sempalan Pandawa Bersatu, yakni PNBK, PNIM, PPIB, plus Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI). Calon bupati dari Koalisi Udayana tiada lain Gede Dharma Wijaya.
Koalisi Udayana ini merupakan poros kekuatan baru yang dibentuk setelah bubarnya Koalisi Pandawa Bersatu (Partai Pelopor, PNIM, PNBK, PIB, dan PKB). Tapi, PNIM, PIB, dan PNBK kemudian menarik Partai Demokrat dan PPDI untuk gabung dalam Koalisi Udayana, yang rencananya baru dideklarasikan pada 14 Maret 2007 depan. Kendati pendeklarasian belum dilakukan, namun penandatanganan kesepakatan pembentukan Koalisi Udayana dilaksanakan di Pantai Penimbangan, Singaraja, Sabtu (3/3). Penandatanganan kesepakatan dilakukan para petinggi kelima partai. Semula, PPDI tidak akan ikut bergabung di Koalisi Udayana. Namun secara tiba-tiba, saat penandatanganan kesepakatan kemarin, PPDI tiba-tiba masuk di dalamnya. Kehadiran Koalisi Udayana ini tidak bisa diremehkan, karena mereka mempunyai total suara mencapai 19,45 persen (9 kursi di DPRD Buleleng). Angka 19,45 persen suara ini berimbang dengan kekuatan Partai Golkar, yang bermodalkan 20 persen suara (9 kursi di DPRD Buleleng). Tentunya, hal ini bisa menjadi ancaman bagi Partai Golkar, yang semula menjadi kekuatan terbesar kedua setelah PDIP. Tantangan Partai Golkar yang mengusung Nyoman Sugawa Korry sebagai calon bupati, bukan saja datang dari Koalisi Udayana.
Tantangan juga muncul dari Koalisi PKPB-PKB, yang memiliki sekitar 19 persen suara dan telah resmi mengusng Made Westra sebagai calon bupati. Sebelumnya, sempat muncul skenario di mana Partai Golkar akan membonceng Partai Demokrat untuk menambah kekuatan di Pilkada Buleleng 2007. Indikasinya, dari lima tokoh yang diisukan masuk nominasi sebagai calon wakil bupati Partai Golkar guna mendampingi Sugawa Korry, terdapat nama Gede Dharma Wijaya yang notabene merupakan Ketua Partai Demokrat Buleleng. Dharma Wijaya disebut-sebut sebagai kandidat kuat guna bersaing dengan Luh Kerthianing (kader Partai Pelopor) dan Gede Wardana (tokoh Kosgoro) untuk mendampingi Sugawa Korry. Dengan mengusung Dharma Wijaya di posisi calon wakil bupati, Partai Golkar juga mendekati tiga partai gurem lainnya, yakni PNBK, PNIM, dan PIB. Bahkan, Sekretaris PNIM Buleleng, Gede Arbadana, sempat menyatakan partainya tetap akan berkoalisi dengan Demokrat. Koalisi ini sangat menyokong bilamana kembali membentuk koalisi dengan Partai Golkar untuk mengusung kandidat, termasuk Dharma Wijaya sebagai cawabup. Arbadana menegaskan, pendekatan sebenarnya sudah dilakukan antara Partai Golkar dan Dharma Wijaya. Hanya saja, sejauh ini belum ada kepastian. Namun, dengan lahirnya Koalisi Udayana, skenario Partai Golkar praktis berantakan. Koalisi Udayana sendiri sudah menyatakan siap bertarung mengusung paket cabup dan cawabup. Hanya saja, hingga Sabtu kemarin, Koalisi Udayana belum menetapkan calon wakil bupat. Tapi, Koalisi Udayana dipastikan akan mengusung Dharma Wijaya sebagai calon bupati.
Rencananya, Koalisi Udayana ini akan dideklarasikan pada 14 Maret di Gedung Kesenian, Jalan Udayana Singaraja, sehingga diberi nama Koalisi Udayana. Koalisi akan dideklarasikan bersamaan dengan diumumkannya paket cabup/cawabup. Menurut Juru Bicara Koalisi Udayana, Dewa Kadek Astawa, sebenarnya koalisi baru ini sudah mempunyai cawabup untuk mendampingi Dahrma Wijaya. "Tapi, kami tidak akan menyebut nama tokohnya saat ini. Nanti akan kami umumkan ketika Koalisi Udayana secara resmi dideklarasikan," ujar Astawa saat konferensi pers di Singaraja kemarin. Menurut informasi, cawabup pendamping Dharma Wijaya di Koalisi Udayana adalah Ida Bagus Jodi---yang juga hadir dalam penandatangan kesepakatan kemarin. Astawa pun tidak membantah kemungkinan Jodi diusung sebagai cawabup. "Ya benar sekali, cawabup kita ada di depan mata kita. Tapi, saat ini kami tidak mau menyebutkan namanya dulu," ujar Astawa seolah mengisyaratkan nama Jodi. Ditegaskan Astawa, Koalisi Udayana sangat siap untuk tarung memenangkan jagonya di Pilkada Buleleng, 12 Juni 2007. Calon bupati Koalisi Udayana, Dharma Wijaya, pun menyatakan kesiapannya. Bahkan, dia siap meladeni tantangan Sugawa Korry untuk debat publik. "Kalau perlu, setiap hari ada debat publik, saya siap. Ini penting untuk pembelajaran politik ke depan," tegas Dharma Wijaya. Sementara itu, kubu Partai Golkar yang terancam oleh kehadiran Koalisi Udayana, tak mau kalah. Sabtu kemarin, Sugawa Korry justru mengeluarkan jurus baru dengan mengambil tiga tokoh sebagai kandidat calon wakil bupatinya. Ketiganya dianggap cukup bisa diterima semua lapisan masyarakat: Luh Kerthianing (aktivis perempuan yang Ketua Partai Pelopor Buleleng), Wayan Nuaria (Kepala Desa Sambirenteng), dan Gede Pasek Suardika (pengacara). Korry mengambil ketiga nama ini dengan perhitungan politik yang cermat. Selain sudah disesuaikan dengan Juklak 005 DPP Partai Golkar, ketiga nama ini diyakini mampu menyokong dan sekaligus memangkas kekuatan lawannya. Kerthianing, misalnya, adalah tokoh perempuan yang cukup berpengaruh. Pertimbangan gender menjadi aspek kajian khusus bagi Korry untuk mengusulkan Kerthianing sebagai cawabup. Tapi, yang lebih mengagetkan lagi, Korry mengusulkan Wayan Nuaria (Kades Sambirenteng, Kecamatan Tejakula), sebagai cawabup. Sejauh ini, Nuaria juga cukup punya gaung karena menjabat sebagai Ketua Forum Kepala Desa dan Lurah (Forkomdeslu) Kecamatan Tejakula. Nuaria juga mendudki posisi Wakil Ketua Forkomdeslu Kabupaten Buleleng. Jurus Korry ini sekaligus bisa diartikan untuk mengoreksi kekuatan Putu Bagiada, calon bupati dari PDIP. Selama ini, Bagiada sebagai tokoh incumbent (Bupati Buleleng) mempunyai hubungan dekat dengan para Kades, termasuk dengan Forkomdeslu. Buktinya, saat pelantikan beberapa PAC PDIP, Bagiada selalu dikawal oleh sekawanan Kades yang tergabung dalam Forkomdeslu.
Dengan diambilnya Nuaria, Korry berusaha memangkas kekuatan Bagiada di luar PDIP. Keputusan Korry menyodorkan nama Pasek Suardika juga bukannya tanpa peryimbangan politik. Pasek adalah kader Partai Demokrat, sehingga diharapkan jadi penetrasi ancaman Dharma Wijaya dari Koalisi Udayana. Di lain sisi, Bagiada bersama PDIP-nya terus merapatkan barisan untuk menghadapi Pilkada Buleleng 2007. Setelah road show ke berbagai pelosok membentuk PAC, Sabtu kemarin, PDIP menyelenggarakan kompetisi sepakbola Moncong Putih Cup I yang diikuti 20 klub se-Buleleng, di Stadion Mayor Metra Singaraja. Bagiada tidak membantah kalau kompetisi sepakbola ini berhubungan erat dengan langkah politik PDIP untuk memenangkan setiap perhelatan demokrasi. "Yah, ini memang untuk menumbuhkan prestasi olahraga masyarakat, tapi saya akui kompetisi sepakbola juga tidak jauh dari riak-riak politik sebagai upaya untuk memenangkan Pilkada dan perhelatan demokrasi lainnya," ujar Bagiada. Bukan tanggung-tanggung, dalam acara pembukaan kompetisi sepakbola di Singaraja kemarin, Bagiada dikawal sejumlah petinggi PDIP se-Bali. Bahkan, ikut hadir fungsionaris DPP Partai Golkar Gusti Ayu Sukmadewi Djaksa, selain juga I Gede Winasa (Ketua DPC PDIP Jembrana), Dewa Putu Wardana (Ketua DPC PDIP Gianyar), dan Made Sumer (Ketua DPD PDIP Bali). Ketua DPD II Partai Golkar Buleleng, Luh Tiwik Ismarheningrum, juga hadir sebagai undangan.
Sumber: Nusabali
