Saturday, October 13, 2007

Calon Gubernur Idola Perempuan

Dengan argumentasi beragam mereka juga menulis nama bakal calon yang tidak akan mereka pilih. Mereka pun sudah memiliki pilihan, sosok perempuan yang pantas digadang-gadang menjadi pemimpin nomor satu di Bali.

Mereka adalah 4188 orang perempuan di Bali yang mengembalikan lembaran jajak pendapat yang diedarkan Koran Tokoh selama bulan Agustus 2007. Beragam pekerjaan/profesi responden.

Mereka berdomisili merata di delapan kabupaten dan satu kota di Bali. Sebagian besar (51 %) berasal dari Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, daerah tempat tinggal sebagian besar bakal calon.

Yang disodorkan dalam lembaran jajak pendapat adalah nama bakal calon yang pernah dipublikasikan media massa di Bali, baik yang menyatakan diri akan menjadi bakal calon maupun yang disebut-sebut/dicalonkan pihak lain. Namun, dibuka kesempatan bagi responden untuk menulis calon lain yang selama ini belum terpublikasikan media massa.

Kualitas (31 %) dan jujur (27%) adalah dasar pertimbangan terbanyak mereka dalam memilih nama bakal calon tertentu. Diasumsikan dasar pertimbangan tersebut sebagai prasyarat yang mereka usulkan agar dipenuhi tiap kandidat.

Pertimbangan/persyaratan yang menempati peringkat berikutnya adalah berwibawa, keluarganya harmonis, peduli terhadap Bali, dan kaya. Ada beberapa petimbangan/persyaratan lainnya, misalnya merakyat/dikenal luas dan berpengalaman sebagai pejabat pemerintah.

Tidak teruraikan memang, apa yang dimaksudkan kualitas. Parameter kualitas bisa bermacam-macam. Dalam dunia politik praktis, juga belum ditemukan parameter kualitas yang terukur, baku, dan seragam. Faktor kepentingan sering berpengaruh dominan dalam menentukan tolok ukur kualitas figur.

Dalam manajemen kualitas (total quality control) dapat kita temukan aspek-aspek yang menentukan bahwa sesuatu itu berkualitas. Ada enam aspeknya.

Di antaranya, mencakup aspek moral, pelayanan, disiplin, dan produk serta proses yang ditempuh dalam melahirkan produk yang berkualitas. Apakah aspek-aspek seperti itu juga tergambar di benak responden ketika mereka memilih pertimbangan/persyaratan kualitas bagi bakal calon gubernur Bali?

Pilihan yang dapat dikategorikan sebagai rasional tersebut ditulis responden yang sebagian besar bekerja/berprofesi sebagai ibu rumah tangga, karyawati perusahaan swasta, dan pegawai negeri sipil yang masing-masing berjumlah di atas 24% dari jumlah reponden.

Ini bisa dijadikan tengara bahwa rata-rata responden tersebut adalah berpendidikan formal (PNS dan karyawati perusahaan swasta) atau memiliki wawasan/pendidikan memadai meskipun mereka sehari-hari hanya berkutat dalam lingkungan pekerjaan domestik (lingkungan rumah tangga).

Pekerjaan/profesi responden lainnya, mahasiswi (9%), siswi (minimal kelas 3 SMA, 8%), pembantu rumah tangga (2%), dan TNI/Polri (0,9%).

Uniknya, lebih dari satu bakal calon mendapat dukungan besar dari responden tertentu dan ditempatkan di kolom ‘calon yang dipilih’, tetapi dengan jumlah yang relatif banyak mereka juga ditempatkan sebagai figur ‘yang tidak akan dipilih’ oleh responden tertentu lainnya.

Uniknya lagi, tiap bakal calon yang disodorkan namanya dalam lembaran jajak pendapat (14 orang) mendapat suara dukungan dan tertera dalam kolom ‘calon yang dipilih’, dan nama tiap bakal calon tersebut juga bertengger dalam kolom ‘yang tidak akan dipilih’ oleh responden lainnya.

Relatif sedikit (11%) responden yang mengisi kolom siapa figur dari kalangan perempuan yang pantas menjadi gubernur Bali. Sebagian responden menulis ‘tidak ada’ atau ‘belum ada’, dan sebagian lagi mengosongkan kolom tersebut.

Yang mengisinya, menulis nama yang beragam. Setelah dijumlah, sungguh fantastis, terdapat 38 nama figur perempuan yang dianggap pantas menjadi gubernur Bali pada masa-masa mendatang. Yang memilih Megawati Sukarnoputri tepat untuk menjadi gubernur Bali juga ada, sebanyak 9 responden.

Apa pun metodenya, tiap jajak pendapat pasti tidak luput dari sisi kekurangan atau perilaku subjektif. Oleh karena itu dalam hasil jajak pendapat Koran Tokoh ini tidak disebutkan perolehan suara masing-masing kandidat, tetapi mereka digolongkan dalam peringkat kelompok.

Kelompok perolehan suara bakal calon gubernur Bali idola perempuan di Bali (nama berdasarkan abjad, bukan berdasarkan perolehan suara) adalah sebagai berikut:
Kelompok I : Budi Argawa, Budi Suryawan, Mangku Pastika, Puspayoga, Winasa. Kelompok II: Alit Putra, Jro Gde Karang, Sudirta, Suwisma, Wita. Kelompok III: Adi Wiryatama, Alit Yudha, Dhamantra, Oka Ratmadi.

Lima figur perempuan yang dianggap pantas menjadi gubernur dan memperoleh suara terbesar (nama berdasarkan abjad, bukan berdasarkan perolehan suara):
Dayu Agung Mas, TIA Kusuma Wardani, Mardhani Rata, Nyoman Masni, L.K. Suryani. – wid/wah – Litbang Koran Tokoh.

Sumber : Tabloid Tokoh
Posted by at 19:09:09 | Permanent Link | Comments (0) |

Tuesday, August 07, 2007

Sementara Winasa Unggul, Disusul Pastika


Denpasar, Belum ada sebulan sejak diluncurkan 27 Juli lalu, pengunjung www.Beritabali.com sudah mencapai 1.700 pengunjung. Dari angka itu ada 593 pengunjung yang mengikuti polling Gubernur Pilihan Pengunjung. Untuk sementara Winasa unggul dengah meraih suara 60%.

Fasilitas polling yang disediakan di portal berita ini bertujuan untuk mengetahui aspirasi pengunjung, untuk kali pertama menyajikan polling tentang Siapa Gubernur Pilihan Pengunjung? Hingga berita ini dionlinekan jumlah pengisi polling sudah mencapai 593 suara.

Sementara peringkat pertama perolehan suara terbanyak diraih Gede Winasa yang saat ini menjabat Bupati Jembrana dengan 60% suara, disusul Mangku Pastika, mantan Kapolda Bali dengan 20% suara, dan berikutnya Cok Budi Suryawan dan Wayan Sudirta meraih prosentase yang sama yaitu 4%.

Siapa Gubernur Bali pilihan Anda? Ikuti Pollingnya di www.beritabali.com
Posted by at 06:02:55 | Permanent Link | Comments (0) |

Monday, February 19, 2007

Soal Hasil ''Polling'' Cagub

Sekalipun polling cagub bukan satu-satunya barometer, anggota DPD-RI Wayan Sudirta yang unggul dengan 24,10% suara dalam polling ramai-ramai didorong maju oleh sejumlah politisi maupun akademisi. Setelah I.B. Suryatmaja (Deperda PDI-P dan Wakil Ketua DPRD Bali), kini giliran Ngakan Kuta Parwata yang Ketua DPRD Bangli dan Ketua DPC PDI-P Bangli serta Dr. Made Titib, dosen senior IHDN Denpasar yang dikenal sebagai ahli Weda sama-sama mendorong mantan advokat vokal ini maju ke bursa cagub. Apalagi dengan UU No. 32/2004, semua parpol harus terbuka terhadap tokoh nonpartai sepanjang tokoh bersangkutan memperoleh dukungan luas di masyarakat.

Sudirta mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas dukungan tersebut. Sepakat dengan Suryatmaja, Ngakan Kuta pun menilai Sudirta sangat pas bila masuk melalui pintu PDI-P. Selain karena PDI-P mengantongi kemenangan di atas 50% pada Pemilu 2004, sosok Sudirta serta KORdEM koalisi 18 eksponen ormas, LSM dan tokoh masyarakat yang mengusungnya pada pemilihan DPD merupakan sinergi mutualistis yang saling memperkuat.

Sementara dilihat dari kapasitas pribadi, dengan track record yang bagus dalam visi perjuangan, Sudirta yang antikorupsi serta pro pada masyarakat marjinal sejalan dengan visi PDI-P untuk memihak wong cilik. Tata ruang, lingkungan serta budaya Bali harus dijaga dan itu memerlukan pemimpin yang lurus.

Doktor Made Titib, ahli Weda yang juga dosen di IHDN, selain melihat hasil polling tersebut menyatakan figur Sudirta memang punya track record yang bagus. Sehingga dikenal sebagai tokoh daerah maupun nasional. Kalau bicara soal pemimpin, masyarakat Bali membutuhkan figur yang punya komitmen untuk memperhatikan orang miskin dan masalah pendidikan.

"Aneh, Bali yang pulaunya kecil dan merupakan pulau internasional kok masih banyak penduduk yang buta aksara dan miskin," katanya. Yang lebih memprihatinkan, sambung Titib, kini semakin langka pemimpin yang sensitif pada kemiskinan. ''Jadi, kita perlu pemimpin yang berani turun ke masyarakat sekaligus mengingatkan kita semua agar menyeimbangkan aspek ritual dan aspek kemanusiaan,'' katanya. (r/*)

Sumber: Balipost

Posted by at 16:52:47 | Permanent Link | Comments (0) |