Saturday, September 08, 2007

Pilkada Gianyar: Tjok Ace Menang Konvensi Golkar


Gianyar, Tjokorda Artha Ardana Sukawati alias Tjok Ace akhirnya menang telak dalam konvensi Golkar melawan Anak Agung Netra, Sabtu (1/9). Ketua PHRI Bali ini meraih suara 81 sedangkan sisanya lagi 19 buat Netra.

Acara yang dihadiri oleh pengurus DPP Golkar, DPD Golkar Bali serta DPD Golkar Gianyar serta ormas lainnya ini sempat diselingi gelak tawa, lantaran masing-masing Cabup Golkar melontarkan lelucon - lelucon menarik.

Acara yang dimulai pukul 10.00 Wita ini, akhirnya ditutup dengan kemenangan buat Tjok Ace. Dalam kesempatan tersebut, Tjok Ace sempat mengucapkan terima kasih kepada saudaranya yakni Tjok Ibah sebagai Ketua DPD Golkar Gianyar, lantaran kebesaran jiwanya tak mengikuti konvensi, hingga membuat dirinya menang dalam hajatan tersebut.

“ Mari sama -sama membuat Gianyar ini lebih baik, “ katanya. Sementara itu, seperti diketahui bahwa dalam Konvensi Golkar, DPP Golkar memiliki hak suara sebesar 20 persen, DPD Golkar Bali 30 persen, DPD Golkar Gianyar 20 persen dan organisasi sayap 10 persen. (Art)

Sumber: www.beritabali.com 

Posted by at 21:00:12 | Permanent Link | Comments (0) |

Winasa Isyaratkan Gandeng Alit Putra

Negara, Bupati Jembrana, I Gede Winasa yang mencalonkan diri menjadi kandidat Gubernur Bali dari kubu PDI Perjuangan pada Pilgub Bali 2008 nampaknya akan menggandeng Ketua DPD Partai Demokrat Bali, IGB. Alit Putra.

Hal tersebut terungkap ketika Winasa dan Alit Putra bertemu dalam satu meja saat peringatan hari lahirnya Partai Kebangkitan Bangsa di Pondok Pesantren Nurul Ikhlas, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara. Selain Winasa dan Alit Putra, Ketua DPW PKB, HS. Abdul Wahab pun tampak hadir pada acara tersebut.

Winasa yang dikonfirmasi mengatakan pertemuannya dengan Ketua DPD Partai Demokrat yang juga akan mencalonkan diri sebagai kandidat Calon Gubernur itu hanyalah dalam rangka menghadiri undangan PKB. Terkait kemungkinan koalisi setelah pertemuan tersebut, Winasa tidak menampiknya.

“Tidak ada yang tidak mungkin dalam politik, termasuk menggunakan kendaraan lain. Kalau nantinya terjadi koalisi, hal itu mungkin saja terjadi,” ujar Winasa.

Sementara Alit Putra pun menyampaikan hal yang senada dengan Winasa. Hanya saja Alit Putra menambahkan kemungkinan koalisi tesebut haruslah melalui pembicaan dan diskusi-diskusi yang lebih jauh.

Untuk sekedar diketahui, Winasa sebelumnya mengatakan akan berjuang melalui PDI Perjuangan untuk merebut kursi Bali 1 dan akan bertandem dengan Alit Kelakan yang juga Wakil Gubernur Bali. Sementara Alit Putra masih mencari-cari kendaraan dan sedang menjajaki kemungkinan di Koalisi Bali Dwipa dan kemungkinan untuk menjadi calon dari jalur independen.(pas)

Sumber: www.beritabali.com 

Posted by at 20:02:30 | Permanent Link | Comments (4) |

Tuesday, August 07, 2007

I Gede Winasa, Ketua DPC PDIP dan Bupati Jembrana

Prof Dr drg I Gede Winasa, 57, terkenal sebagai Bupati yang memiliki kebijakan pro-rakyat. Dengan kebijakannya itu pula, Bupati Jembrana ini meraih berbagai penghargaan, selain juga mengantongi tujuh rekor Muri (Museum Rekor Indonesia).

Salah satu kebijakan Gede Winasa yang menggelemungkan reputasinya di kancah nasional bahkan internasional adalah program pendidikan gratis dan kesehatan gratis. Tak heran jika Ketua DPC PDIP Jembrana ini disebut-sebut sebagai salah satu kandidat terkuat untuk perebutkan posisi Gubernur Bali 2008-2013. Bahkan, Winasa termasuk di antara 20 tokoh Bali yang masuk bursa DPP Partai Golkar untuk disurvei LSI, buat penjaringan Calon Gubernur dari Partai Beringin. Selain masuk bursa di LSI Partai Golkar, Winasa juga muncul di Koalisi Bali Dwipa (KBD)---koalisi enam partai gurem yang hendak mengajukan Calon Gubernur Bali. Dan, tentu saja, Winasa juga menjadi kandidat unggulan dalam Rakerdasus di partainya untuk memilih Calon Gubernur Bali dari PDIP. Mana yang akan dipilih Winasa?

Sejak awal, Winasa tak mau naik kendaraan lain untuk maju ke Pilgub Bali 2008, selain partainya sendiri. Buat Winasa, logikanya seorang Ketua DPC PDIP ya maju ke Pilgub dengan kendaraan PDIP. Karena itu, Winasa tak ingin maju ke Konvensi Golkar maupun naik kendaraan KBD. "Kita sudah punya kendaraan sendiri, kok bingung pinjam kendaraan orang lain," kata Winasa kepada NusaBali di ruang kerjanya belum lama ini. Kendati demikian, Winasa mengaku tidak keberatan namanya masuk survei LSI versi Golkar. Dia pun menghargai Golkar yang telah memasukkan namanya. Hanya saja, Winasa tak ingin mengikuti Konvensi Golkar, karena sudah punya kendaraan bernama PDIP. Winasa mengaku khawatir ada tuntutan kompensasi khusus yang harus dibayar kepada banyak pihak yang menawarinya untuk naik kendaraan politik itu. "Jangan-jangan yang menawari kendaraan akan meminta kompensasi. Kalau begitu 'kan lebih baik naik kendaraan sendiri," terang pemegang Rekor Muri sebagai Bupati dengan prosentase perolehan suara terbanyak dalam Pilkada langsung ini. Yang pasti, Winasa memang getol ingin maju ke Pilgub Bali. Dia bukan sekadar ingin maju ke Pilgub, tapi 'mau' jadi Gubernur Bali. Niatnya itu dilandasi kenyataan di mana kondisi Bali amburadul pasca dua kali diguncang ledakan bom. Winasa pun ingin mengubah Bali ke arah yang lebih baik.

Winasa tak ingin membuat rasa keadilan dan kesejahteraan rakyat yang hanya dinikmati masyarakat Jembrana saja. Dia ingin berbuat serupa untuk masyarakat Bali secara keseluruhan. "Saya ingin menjadikan Bali lebih dari sekarang. Jika dengan semagat perubahan, Bali akan lebih baik daripada Jembrana sekarang ini. Sebab, sumber daya manusia dan sumber daya alam Bali lebih baik daripada Jembrana," terang Bpati yang juga Sekjen Badan Koordinasi Kabupetan Se-Indonesia ini. Knsep yang ditawarkan Winasa untuk mengubah Bali terbilang sangat sederhana, tapi jika tidak dilandasi kemauan kuat hal itu sulit terwujud. Jika terpilih jadi Gubernur, Winasa akan membuat kebijakan pendidikan gratis dan kesehatan gratis. "Dengan kekayaan alam Bali sekarang, pendidikan dan kesehatan sebetulnya bisa dibuat gratis," terang suami dari Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari ini.

Karenanya, yang pertama-tama akan dilakukan Winasa agar masyarakat Bali merasakan keadilan dan sejahtera adalah mengurangi beban hidup masyarakat. "Kalau beban dasar masyarakat, yakni pendidikan dan kesehatan sudah dikurangi, masyarakat akan sejahtera kok," katanya. Winasa juga ingin meramu sektor-sektor lain di luar pariwisata, yang bisa dikembangkan di Bali. Misalnya, pertainan dan peternakan. Winasa mencontohkan subak, yang menjadi kekayaan Bali. Menurut Winasa, harus dilakukan konservasi terhadap subak. "Jika subak dikonservasi, bisa menjadi penunjang pariwisata. Sebab, orang hanya bisa melihat subak di Bali. Jadi, petani mendapatkan imbas dari pariwisata," terang Winasa, yang bersama Ratna Ani Lestari, menyandang Rekor Muri sebagai Suami-Istri Bupati Pertama di Indonesia. Karena Bali sebagai pulau internasional, maka perubahan yang akan dilakukan Winasa adalah terlebih dulu memulihkan kepercayaan turis yang akan berkunjung. "Jangan sampai kita bilang di media Bali aman, tapi malah muncul ancaman teror. Karena itu, ciptakan rasa aman terlebih dulu, pariwisata otomatis akan tumbuh pesat," katanya.

Sektor lain yang juga akan dikembangkan Winasa adalah peternakan. Bali selama ini dikenal dengan sapi Bali yang kualitas dagingnya sangat bagus. "Orang Australia itu 'kan suka dengan steak, kenapa kita tak berdayakan steak sapi Bali? Bisa kok sapi Bali digunakan steak. Jadi, peternak Bali juga akan mendapatkan keuntungan dari imbas pariwisata." Ditambahkan Winasa, jika dirinya menjadi Gubernur Bali, maka akan diupayakan program yang mampu meramu semua sector, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia di Bali. Hal itu akan terintegrasi dengan hingar bingar pariwisata. Soal investor, Winasa tidak akan kelabakan. Sebab, dirinya cukup dikenal oleh investor 'saudara tua' alias Jepang.

Menurut Winasa, sekarang investor mau datang ke Bali jika semua hal sudah terpenuhi. Paling utama adalah rasa aman dan kepastian hukum. Sementara, untuk pengembangan sektor industri, Winasa tetap berpegang pada komitmen membangun sebuah Industri yang bebas polusi. Jika membangun industri yang menyebabkan polusi, Bali akan hancur. "Kalau Bali hancur, apa yang akan kita wariskan untuk anak cucu kita?" ujarnya seraya menyebut. Winasa juga siap berjuang memerangi kemiskinan di Bali, dengan meningkatkan pendapatan per kapita seluruh warga Bali. Pemerataan kehidupan yang digagas ini sekaligus untuk menghilangkan sebuah stigma pariwisata Bali sekarang, yang hanya dinikmati warga di Badung, Denpasar, dan Gianyar.

Winasa menginginkan nantinya imbas pariwisata bisa dinikmati masyarakat yang berada di ujung timur (Karangasem) hingga ujung utara (Buleleng). Winasa mengaku yakin bisa mewujudkan gagasan-gagasannya yang gilang gemilang tentang mngubah Bali ke depan itu. "Saya yakin seyakin-yakinnya kalau Bali ke depan akan berubah. Jangan sampai Bali mengalami stagnasi setelah diguncang dua kali ledakan bom." Mengenai pertarungan secara politis untuk maju ke Pilgub Bali 2008, Winasa mengaku sudah siap lahir batin, dengan semangat untuk membangun Bali secara ikhlas tanpa adanya prasangka. "Saya hanya ingin mengubah Bali menjadi lebih baik, tak ada kepentingan lain," dokter gigi bergelar professor ini. 

BIODATA: Nama Lengkap: Prof Dr drg I Gede Winasa Kelahiran : Denpasar, 9 Maret 1950 Nama Istri : Ratna Ani Lestari Anak : 4 Orang Q I Gede Ngurah Patriana Krisna Q Kadek Danendra Pramarta Krisna Q Ni Komang Ayu Marina Krisna Q Ni Ketut Ayu Dena Wintari Krisna RIWAYAT PENDIDIKAN Q SDN 1 Tegalcangkring 1962 Q SMPN 1 Penyaringan 1965 Q SMAN 1 Negara 1968 Q Fakultas Kedokteran Gigi Unair 1978 Q Geriatric Training, School of Dentistry, Hiroshima, University, Jepang, 1989-1990 Q Visiting Scientist, School of Dentistry, Tokushima University, Jepang 1991 Q Research Student in The Field of Danture Stomatis School of Dentistry, Hiroshima University, Jepang 1991 Q Short Training, Procedure of Candida Check School of Dentistry, Hiroshima University, Jepang 1993 Q Ilmu Kedokteran, Progran Doktor Pasca Sarjana Unair 1995 RIWAYAT PEKERJAAN Q Dokter Gigi Puskesmas Benculuk, Banyuwangi 1978 Q Dokter Gigi RSUD Bangli 1979-1980 Q Sekretaris Sekolah Pemgatur Rawat Gigi Kanwil Depkes Bali 1981 Q Kasi Evaluasi Kanwil Depkes Bali 1981-1987 Q Dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar 1983 Q Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Univetsitas Mahasaraswati Denpasar 1983-1992 Q Pemimpin Redaksi Majalah Kesehatan Gigi Indonesia 1993 Q Presiden Komisaris Patria Grup 1993 Q Guru Besar Ilmi Kesehatan Gigi Masyarakat pada FKG Universitas Mahasaraswati Denpasar 1999-sekarang JABATAN Q Bupati Jembrana 2000-2005 dan 2005-2010 Q Ketua DPC PDIP Jembrana

Sumber: NusaBali 

Posted by at 06:09:31 | Permanent Link | Comments (0) |

Alit Putra Incar Posisi Independen

Para kandidat gubernur mulai bermanuver. Malahan kandidat sekaliber I Gusti Bagus Alit Putra (AY) dikabarkan akan menerapkan jurus tak…tik…bom…dalam pertarungan Pilkadal 2008 mendatang.

Taktik itu diambil setelah dicueki Koalisi Bali Dwipa (KBD), Partai Demokrat (PD) sibuk mencari celah bagaimana agar I Gusti Alit Putra (AP) yang juga ketua Partai Demokrat (PD) Bali bisa bertarung di ajang pemilihan gubernur (Pilgub) 2008 mendatang.

Kepada koran ini kemarin, Wakil Ketua DPD PD Bidang OKK Made Mudarta menyatakan, kemungkinan AP diarahkan maju melalui jalur independen jika gagal bertarung melaluyi KBD. "Peluang maju melalui KBD memang belum ditutup 100 persen. Tapi kita juga harus mempertimbangkan banyaknya peluang yang bias diincar agar Pak Alit bisa tetap maju," ujar Mudarta.

Salah satu yang disasar adalah kursi independen dan konvensi Partai Golkar. Tapi kalau melalui konvensi Partai Golkar, versi Mudarta, kemungkinan berat karena Golkar pasti akan mempertimbangkan kadernya sendiri. Jadi kemungkinan paling besar adalah melalui jalur independen dan KBD. "Untuk itu kita terus mengikatkan komunikasi dengan KBD," sebutnya.

Lalu kapan keputusan partai diambil maju tidaknya melalui jalur independen? Kata Mudarta kemungkinan besar pasca pelantikan pengurus kecamatan di Buleleng 19 Agustus mendatang. "Tapi itu juga belum final. Kita masih mempertimbangkan banyak kemungkinan," urainya.

Ketika ditanya apakah niat Alit Putra maju tidak justru melecehkan partai, Mudarta mengatakan tidak. Dia malah berdalih Partai sudah mempertimbangkan masak-masak skenario itu. Tapi apa bentuk skenarionya, Mudarta menolak menjelaskan.

Yang menarik, kuat kemungkinan posisi independen yang diincar, mengingat tingginya cost politik yang harus ditanggung calon kalau maju melalui gabungan parpol. "Yang penting Pak Alit bisa maju dulu. Soal bagaimana proses berikutnya, tak masalah. Lha wong kita punya jaringan sampai ke bawah," pungkasnya sembari mengatakan posisi di KBD tetap menjadi pilihan.(mus)

 

Sumber: Radar Bali

Posted by at 06:06:45 | Permanent Link | Comments (0) |

Calon Independen: Ary Suta Pertanyakan Dukungan

Dosen S3 Universitas Indonesia Dr. Putu Ary Suta belum memastikan maju Pilkada Bali sebagai bakal calon independen.

''Kalau saya maju siapa yang mendukung,'' katanya kepada wartawan usai dialog ''Prospek dan Tantangan Sistem Demokrasi atas Terbukanya Calon Independen pada Pilkada'', Jumat (3/8) kemarin di Hotel Nikki Denpasar.Ketua KNPI Bali I Gede Indriawan Karna, S.H. menyatakan dialog ini diharapkan mampu mencarikan solusi bagi calon perorangan yang akan maju pada Pilkada Bali.

ArySuta mengatakan peluang terbukanya calon independen karena kepercayaan terhadap parpol makin menurun.Terlebihlagi ketika melihat saat pencalonan dirinya sebelumnya. Ketikadukungan telah diraih dari 55 PAC, ternyata masih ada hak prerogatif.

Karenaitu, kehadirannya dalam dialog ini lebih banyak memberikan pencerahan soal manusia unggul.Menurutnya, 80 persen manusia bisa dimotivasi asalkan dipimpin orang yang benar. Sisanya 5 persen sulit dimotivasi, 2-5 persen (satria) bisa menjadi pemimpin. ''Kalau Bali tak maju jangan salahkan rakyatnya, mampukah pemimpinnya memotivasi rakyatnya,'' ucapnya.

Diakui, manusia Indonesia jauh tertinggal teknologi dengan negara lain. Padahal, setiap manusia dituntut memiliki daya saing tinggi. Selainitu agar manusia Bali bermanfaat, dia harus mampu memberikan nilai tambah bagi lingkungan.

Diaberharap manusia Bali dalam bersaing jangan melakukan kampanye negatif.Bersainglahmencari nilai-nilai dengan prestasi dan tonjolkan kejujuran sebagai ciri keunggulan orang Bali.Cirikeunggulan manusia cerdas lainnya berani mengakui perbedaan dan mampu mendayagunakan secara maksimal potensi tenaga, pikiran dan artanya.

Sementaraitu, pengamat politik Drs. Nyoman Wiratmaja, M.Si.mengatakan di balik peluang terbukanya calon independen, masih terbuka jurang dalam yang sangat lebar serta belum ada jembatan yang dibuat untuk dilalui Adasemangat membuat jembatan, tetapi modelnya belum jelas. ''Revisi UU 32/2004 seperti apa, membuat perpu atau aturan lain,'' katanya.

Soalpolitik uang, diakui Wiratmaja, ''uang perahu'' mungkin sangat berkurang.Namun politik uang untuk menarik simpati massasangat membengkak.

Ketua KPU Bali Drs. AA Oka Wisnumurthi, M.Si. juga mengakui belum bisa melaksanakan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang calon perorangan itu karena belum ada ketentuannya (029/*)

Sumber : Balipost 

Posted by at 06:00:37 | Permanent Link | Comments (0) |

Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma, Dirut TPI

Nama Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma, 58, mendadak jadi pembicaraan masyarakat Bali dan para elite parpol. Hal ini berkaitan dengan kemunculannya sebagai salah satu kandidat Gubernur Bali, yang oleh sejumlah kalangan disebut-sebut memiliki kans besar bersaing dengan tokoh-tokoh lainnya.

Selain muncul dalam perbincangan kader PDIP, pensiunan jenderal bintang dua TNI kelahiran Desa Tamanbali, Bangli, 10 Mei 1949, ini juga masuk bursa di DPP Partai Golkar untuk disurvei LSI guna penjaringan Calon Gubernur Partai Golkar melalui ajang Konvensi. Dalam survei LSI versi Golkar, Suwisma bersaing dengan 20 kandidat lainnya, baik dari kalangan independen, kader parpol, maupun kader Golkar sendiri. Termasuk di antaranya Komjen Made Mangku Pastika, tokoh independen dan jenderal bintang tiga polisi yang juga jadi rivalnya dalam penjaringan Calon Gubernur PDIP. Tapi, siapkah Suwisma maju ke Pilgub Bali dengan kendaraan politik Partai Golkar, melalui proses Konvensi? Soal Konvensi ini, Suwisma enggan menjawab. Saat ini, dia sedang getol gerilya untuk berebut kendaraan PDIP guna maju ke Pilgub Bali. "Yang terpenting, bagaimana nanti kepemimpinan itu bisa mendapatkan sokongan yang kuat dari masyarakat," kelit Suwisma tanpa mau menyebut pasti ikut atau tidak dalam Konvensi Golkar.

Keengganan Suwisma soal ikut Konvensi Golkar ini bisa ditafsirkan macam-macam. Jika lolos Rakerdasus PDIP, otomatis dia akan maju ke Pilgub sebagai Calon Gubernur PDIP. Sebaliknya, jika ternyata gagal di Rakerdasus PDIP, bisa jadi Suwisma bakal ikut Konvensi Golkar. Soalnya, memang Rakerdasus PDIP yang digelar lebih dulu. Ditemui NusaBali di Wisma Bali Center, Jalan Tukad Pakerisan Denpasar, beberapa waktu lalu, Suwisma mengatakan kemunculannya sebagai salah satu Balon Gubernur adalah keterpanggilan untuk ngayah dan mayadnya demi kemajuan Bali. "Saya merasa terpanggil untuk bisa berbuat lebih banyak bagi kesejahteraan masyarakat Bali. Jadi bukan atas keinginan yang bersifat pribadi terhadap jabatan tertentu," ujar lulusan Akademi Militer tahun 1971 ini. Suwisma mengatakan, banyak hal yang mesti ditingkatkan untuk dapat secara optimal mendorong kemajuan Bali, baik di bidang politik, pariwisata, maupun keamanan. Di bidang pariwisata, misalnya, putra Bangli ini mengatakan perlunya memberi jaminan keamanan yang lebih baik kepada para wisatawan. "Sehingga, tamu yang datang ke sini akan merasa aman. Mau pergi ke mana saja tak akan khawatir jadi korban kejahatan," katanya.

Tak kalah penting adalah kenyamanan dan kebersihan yang mesti terus ditingkatkan. Dengan demikian, setiap wisatawan akan merasa betah dan memiliki cerita tersendiri setiap mengingat Bali. "Jika hal ini bisa dicapai, maka tujuan Bali sebagai daerah pariwisata bener-benar akan bisa dicapai. Begitu orang akan menginjakkan kaki di Bali, pikiran mereka sudah terasa jernih dan tenang. Beban utang sebesar apa pun sepertinya hilang," seloroh mantan anggota DPR RI Fraksi TNI/Polri ini. Sama halnya dengan sektor pertanian. Bagi Suwisma, penguatan sektor ini menjadi tantangan tersendiri yang mestinya bisa digarap lebih maksimal. Sebab, Bali memiliki potensi pertanian menjanjikan jika digarap secara tepat sasaran. Di samping revitalisasi pertanian, juga bisa menyelamatkan lingkungan serta budaya Bali yang dijiwai oleh agama Hindu. "Konsepsi ini mesti menjadi dasar dan arah pembangunan ke depan," jelas tokoh yang kini menjabat sebagai Direktur Utama Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) ini. Nah, untuk melakukan ini, pemimpin Bali nantinya mesti bisa merangkul seluruh komponen masyarakat. "Tidak bisa bergerak sendiri-sendiri, harus bergerak bersama secara sinergis antara pemerintah, tokoh masyarakat, hingga LSM," kata Suwisma. Mantan Panglima Divisi I Kostrad ini juga mengatakan pentingnya meletakkan dasar-dasar pembangunan Bali yang berkelanjutan. Dengan demikian, apa yang dilakukan pemimpin Bali ke depan merupakan sebuah kesinambungan kerja.

Namun demikian, di setiap periode kepemimpinan harus tetap ada target dan sasaran yang ingin dicapai. "Salah satu yang saya anggap paling penting adalah meletakkan dasar-dasar konsep pembangunan Bali hingga 2020 nanti," terangnya. Sehubungan hal tersebut, Suwisma memiliki tiga langkah strategis yang hendak diwujudkan: menciptakan masyarakat Bali yang damai, sejahtera, dan maju. "Tiga hal ini adalah tahapan yang mesti dicapai. Dengan kedamaian inilah kemudian bisa muncul stabilitas untuk mewujudkan kesejahteraan. Dan, jika kesejahteraan ini bisa tercapai, maka masyarakat Bali akan bisa berpikir tentang kompetisi untuk maju." Dalam hal ini, Suwisma mengatakan pengtingnya penguasaan teknologi di era persaingan. Sebab, teknologi bisa mendorong efektivitas dan efisiensi kerja.7 lit BIODATA Nama Lengkap: Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma Kelahiran : Bangli, 10 Mei 1949 Nama Istri : Ir Rataya B Kentjanawathy Anak : 3 Orang Q Lettu Inf Sang Ngurah Wikrama Wirapathy Q Sang Ngurah Wiranggana Adityapathy Q Sang Ngurah Wiratama Satriapathy PENDIDIKAN Q SD Tamanbali, Bangli Q SMPN Bangli Q SMAN Denpasar Q Akademi Militer Magelang (1971) ORGANISASI/JABATAN Q Ketua PB Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) Q Ketua Pusat Terjun Payung PB FASI Q Ketua Umum PB Pertina Q Ketua Badan Internal Audit KONI Pusat Q Dirut Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) Q Komisaris Global TV Q Komisaris PT Gajah Tunggal JABATAN MILITER Q Komandan Kompi Parako Kopassus Q Wakil Komandan Kopassus Q Komandan Korem 043/Garuda Hitam Lampung Q Komandan Sekolah Calon Perwira Q Panglima Divisi I Kostrad Q Panglima Kodam VI/Tanjung Pura-Kalimantan Q Kepala Staf Kostrad Q Asisten Teritorial Kasad Q Asisten Teritorial Kasum TNI Q Anggota DPR RI Fraksi TNI/Polri

 

Sumber : NusaBali 

Posted by at 05:57:17 | Permanent Link | Comments (0) |

I Wayan Wita, Akademisi & Mantan Rektor Unud

Prof Dr dr I Wayan Wita SpJP, 59, selama ini dikenal sebagai seorang akademisi. Selain menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Unud, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah ini juga sempat menjabat Rektor Unud periode 2001-2005. Jabatannya saat ini sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Ikayana (Ikatan Alumi Universitas Udayana), menjadikan Wayan Wita cukup populer di kalangan masyarakat.

Tak heran jika nama Wayan Wita termasuk di antara 20 tokoh Bali yang masuk bursa DPP Partai Golkar untuk disurvei LSI, guna diikutkan Konvensi buat menjaring Calon Gubernur dari Partai Beringin. Selain masuk survei LSI versi Golkar, Wita juga menjadi salah satu kandidat independen yang bakal maju ke Rakerdasus guna memilih Calon Gubernur dari PDIP. Partai mana yang akan dipilih Wita untuk maju ke Pilgub Bali 2008-2013? Ternyata, Wita komit dengan pendiriannya untuk maju ke perebutan kursi Bali 1 melalui kendaraan politik PDIP. Artinya, Wita tidak akan ikut Konvensi Golkar, apa pun hasil survei LSI nantinya. Kendati begitu, Wita sangat menghargai Golkar yang telah memasukkan namanya dalam survei LSI. Hanya saja, sejak awal dia tak punya rencana untuk maju ke Pilgub Bali dengan kendaraan politik Partai Golkar. "Saya sudah memilih bergabung dengan PDIP, ya sebisa mungkin saya harus konsisten," ujar tokoh sepuh kelahiran Badung, 7 Desember 1948 ini.

Lepas soal nantinya bisa nyalon Gubernur melalui PDIP, Wita sudah punya visi khusus untuk membangun Bali ke depan. Pemikiran Wita ini tidak harus terkotak karena perbedaan partai. Salah satu keinginannya adalah memajukan bidang pendidikan. "Keinginan saya memajukan pendidikan. Dalam hal ini, bagaimana memberikan dasar berpikir dan bertindak," kata Wita kepada NusaBali, Senin (6/8). Ibarat memberikan cara menangkap ikan, menurut Wita, yang penting bukannya memberi alat penangkap ikan (kail), apalagi memberi ikan yang sudah tertangkap. Tapi, dalam bentuk yang lebih konkrit, bagaimana caranya menangkap ikan. Nah, terkait memajukan pendidikan ini, menurut Wita, adalah bagaimana menggunakan semua saluran pendidikan yang ada. Termasuk pendidikan tradisional semisal pasraman, maupun pendidikan yang berbasis modern IT.

Dalam lembaga pendidikan tersebut diberikan pemahaman, apa yang harus dan bisa dilakukan peserta didik dengan melihat kondisi realitas sekitarnya. Wita mengambil contoh tradisi peribadatan. Orang beribadah itu untuk ungkapan rasa syukur. Meski demikian, mengapa orang berlomba-lomba membuat banten yang glamour? Ukuran besar dan jenis buah pun harus serba bagus, impor lagi. "Yang muncul adalah kesan konsumtif, pamer, bukannya rasa syukur kepada Tuhan," katanya. Padahal, ungkapan rasa syukur tidak perlu upakara yang wah. Tapi, bisa dengan sederhana sesuai kemampuan. Menurut Wita, pemahaman semacam ini harusnya sudah diajarkan di pasraman-pasraman. Pun, demikian dengan sekolah yang berbasis teknologi modern. "Hanya karena orang menyebut sekarang zaman modern, orang berlomba belajar IT. Padahal, tidak semua yang menyangkut IT bisa memberi faedah ke masyarakat," imbuhnya. Ditambahkan Wita, pelajaran menangkap ikan akan melahirkan dialektika antara kondisi yang ideal dengan realitas yang ada. Sehingga, melahirkan sesuatu yang baru, yang kreatif dan dinamis, serta pastinya memberi manfaat kepada masyarakat. Selain bidang pendidikan, Wita juga ingin mengembangkan bidang kesehatan. "Saya tidak akan mengusulkan program-program yang spektakuler yang sifatnya baru. Tetapi, yang paling penting adalah meneruskan program yang sudah diluncurkan, yakni program yang memiliki prospek bagus," terang Wita. Wita mencontohkan program 3 M (menguras, mengubur, menutup) sebagai langkah penanggulangan demam berdarah. Kalau program ini dijalankan, tentu penyakit demam berdarah dapat dicegah.

Permasalahan sekarang, program pencegahan yang bagus tersebut tidak berjalan. "Makanya, saya berkeinginan merevitalisasi program-program kesehatan yang memiliki prospek bagus. Harapannya, dengan bangkitnya kembali program tersebut, mampu mencegah timbulnya penyakit," tandas Wita. Dalam kajian kesehatan, pencegahan penyakit memang lebih penting daripada penanganan penyakit. Dengan pencegahan, biaya kesehatan yang dikeluarkan lebih murah. Pencegahan penyakit demam berdarah, misalnya, lima kali lebih murah dibanding dengan pengobatannya. Ada satu pilar lagi yang ingin diwujudkan Wita dalam membangun Bali ke depan: perekonomian. Dan, perekonomian yang ingin dikembangkannya tetap berbasis pertanian dan pariwisata. Hanya saja, Wita ingin meningkatkan nilai ekonomi dari dua sektor tersebut. "Selama ini, jualan sektor pariwisata dan pertanian Bali merupakan produk mentah, belum dipoles, sehingga nilai ekonomisnya rendah. Misalnya, tari kecak apabila dikemas dalam pertujunkan yang eksklusif, tentu nilai ekonominya lebih tinggi." Selain meningkatkan mutu jualan pariwisata dan pertanian, Wita juga punya obsesi menjadikan Bali sebagai kota wisata intelektual. Dengan adanya fasilitas hotel, tempat hiburan, dan universitas, seharusnya dapat disatukan menjadi produk baru, yaitu wisata intelektual. "Kalau kota semacam Jogjakarta bisa menjadi kota pendidikan, Bali tentu juga bisa menirunya, bahkan mengunggulinya. Bayangkan, kalau konferensi internasional, workshop internasional, dan lomba ilmiah internasional dilakukan di Bali. Setelah membahas tetek bengek intelektual, mereka bisa rileks dibuai pesona Bali, tapa saling melengkapi," jelas Wita.

Wita sendiri merupakan satu dari sekian tokoh non-kader yang ngebet ingin ngayah sebagai Gubernur Bali. Selain Wita, ada nama-nama seperti Made Mangku Pastika, Wayan Sudirta, Sang Nyoman Suwisma, hingga Budi Argawa. Wita sangat ingin mengikuti jejak dua pendahulunya, Prof Dr Ida Bagus Mantra dan Prof dr Ida Bagus Oka, mantan Rektor Unud yang sama-sama terpilih menjadi Gubernur Bali. "Sampai saat ini, dua mantan Rektor Unud yang pernah menjabat sebagai Gubernur Bali adalah Prof Dr IB Mantra dan Prof Dr IB Oka," ujar Wita seusai dilantik menjadi Ketua Ikayana perioda 2006-2011 menggantikan Prof I Nyoman Suparta, beberapa waktu lalu. Bahkan, kata Wita, IB Mantra dan IB Oka sampai 20 tahun menjabat Gubernur Bali sejak era 1970-an. Mereka itulah yang melecut motivasi Wita ingin menawarkan secuil pengalamannya sebagai mantan rektor untuk bisa berbagi pengalaman memimpin Bali. Untuk itu, Wita jelas-jelas mematok target sebagai Bali 1, bukan Bali 2 (Wakil Gubernur).

Posisinya sebagai Ketua Ikayana juga dianggap Wita sebagai salah satu kekuatan untuk maju ke Pilgub Bali. Soalnya, Ikayana kini punya anggota lebih dari 44.000 orang, yang tersebar di seluruh Bali, bahkan luar Bali. Ditegaskan Wita, ada empat syarat untuk pemimpin Bali: hindari pemimpin Bali dengan profesional tiruan, mengelola perubahan yang kekal, hindari bekerja sendiri, dan siap gagal. "Gagal bukan berati berakhir, karena seperti buku saya bahwa saya memimpin Unud berawal dari kegagalan," katanya. 7 cr14 BIODATA Nama Lengkap: Prof Dr dr I Wayan Wita SpJP Kelahiran : Badung, 7 Desember 1948 Nama Istri : Ni Ketut Gadung SST Anak : 2 Orang Q Ni Wayan Eka Ciptasari Q I Made Putra Swi Antara RIWAYAT ORGANISASI Q Ketua Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Resi (MGPSSR) Provinsi Bali 2004-2009 Q Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Udayana (Ikayana) 2006-2011 Q Ketua IV (Bidang Sosial Budaya) Pengurus Pusat PHDI 2006-2011 RIWAYAT PEKERJAAN Q Pembantu Dekan I Fakultas Kedokteran Unud 1994-1998 Q Pembantu Rektor I Unud 1998-2001 Q Rektor Unud 2001-2005 Q Kepala Instalasi Pelayanan Jantung Terpadu RS Sanglah (2005- sekarang)

Sumber : NusaBali 

Posted by at 05:55:22 | Permanent Link | Comments (0) |

Saturday, August 04, 2007

Pilgub Bali: Winasa Gandeng Alit Kelakan

Negara, Teka-teki calon pendamping Bupati Jembrana, Prof. Dr. I Gede Winasa untuk maju ke suksesi Bali-1 akhirnya mulai terkuak. Wakil Gubernur Bali, Alit Kalakan, disebut-sebut akan mendampingi Winasa untuk maju ke Pilgub Bali tahun 2008 mendatang.

Wakil Ketua Bidang Komunikasi dan Informasi DPC PDI-P Jembrana, Ketut Suardi, mengatakan saat ini Winasa telah mantap akan bertandem dengan Alit Kelakan untuk maju ke Pilgub Bali 2008 mendatang. “Winasa akan mencantumkan nama Alit Kelakan sebagai pendampingnya pada formulir pendaftaran,” jelas Suardi.

Sementara, Winasa yang dikonfirmasi oleh Beritabali.com tidak menampik dirinya akan maju ke Rakerdasus PDI-P Bali dengan Alit Kelakan. “Mudah-mudahan saya akan maju dengannya (Alit Kelakan). Saya akan mengembalikan formulir paling terakhirnya,” tandas Winasa. (eka)

 

Sumber : www.beritabali.com
Posted by at 13:16:59 | Permanent Link | Comments (0) |

Alit Putra Maju Lewat Jalur Independen

Negara, Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengijinkan para calon pemimpin daerah maju melalui jalur independen, rupanya membawa angin segar bagi beberapa tokoh masyarakat dan elit partai yang akan berlaga pada Pilkada Bali 2008 mendatang.

Ketua DPD Partai Demokrat Bali, I Gusti Bagus Alit Putra disebut-sebut sebagai salah satu elit partai yang akan maju melalui jalur independen. Meskipun Partai Demokrat Bali telah berkoalisi dengan beberapa partai gurem lain di Koalisi Bali Dwipa, rupanya belum membuat Alit Putra yakin akan menjadi calon Gubernur Bali yang akan disokong oleh Koalisi Bali Dwipa ini.

Alit Putra yang dikonfirmasi oleh Beritabal.com Kamis siang, saat melantik DPAC Partai Demokrat se-Jembrana, tidak menampik hal tersebut. Menurut Alit Putra, saat ini pihaknya sedang menjajaki kemungkinan untuk maju ke Pilkada Bali 2008 melalui Koalisi Bali Dwipa.

“Kalau memang nanti di (koalisi) Bali Dwipa saya tidak mendapat kesempatan, bukan tidak mungkin saya akan maju melalui jalur independen. Saat ini kami sedang menunggu peraturan tentang calon independen, dan kalau memang memungkinkan kenapa tidak?” kata Alit Putra. (eps)

Sumber: www.beritabali.com 

Posted by at 13:13:51 | Permanent Link | Comments (0) |

Tuesday, April 17, 2007

Pilkada Buleleng: Ray Yusha Lolos, Dharma Wijaya Kandas

Pertarungan Koalisi Udayana (KU) pengusung pasangan calon bupati (cabup)/calon wakil bupati (cawabup) Gede Dharma Wijaya-IB Djodhi vs Koalisi Bukit Sinunggal (KBS) yang menjagokan paket Jro Nyoman Ray Yusha/Putu Febriantari dalam memperebutkan keabsahan dukungan DPC PNIM Buleleng, mencapai klimaks. Rapat pleno KPUD Buleleng sebagai penyelenggara gong demokrasi Pilkada Buleleng, Senin (16/4), memutuskan dukungan yang sah dari PNIM adalah untuk paket Ray Yusha/Febriantari.

Dengan begitu, KPUD mencoret duet Dharma Wijaya/Djodhi untuk maju ke coblosan Pilkada Buleleng, 12 Juni 2007 depan, setelah melalui verifikasi persyaratan pencalonan karena suara gabungan parpol yang tergabung di KU tidak memenuhi batas minimal 15 persen. Itu berarti, hanya empat pasangan cabup/cawabup yang ditetapkan resmi akan bertempur di Pilkada Buleleng: Putu Bagiada/Made Arga Pynatih (PDIP), Nyoman Sugawa Korry/Luh Kerthianing (Golkar), Made Westra/Ketut Englen (Koalisi Kebangsaan), dan Ray Yusha/Febri (KBS). Atas hasil rapat pleno KPUD yang menggugurkan duet Dharma Wijaya/Jodhi ini, kubu KU akan menempuh jalur huku Kepastian duet lanang-istri Ray Yusha/Febri menyandang status pasangan cabup/cawabup tetap, setelah diputuskan melalui sidang pleno KPUD Buleleng di Singaraja, Senin pagi.

Selain Ray Yusha/Febri, KPUD juga menetapkan tiga pasangan lainnya, yang disebut di atas. Keempat pasangan calon dimaksud pun berhak mengikuti tahapan Pilkada berikutnya. Sementara, gagalnya duet Dharma Wijaya/Djodhi karena dipandang oleh KPUD ada persyaratan adminsitrasi yang kurang. Sidang pleno yang dihadiri total lima personel KPUD Buleleng itu dihelat ketika perhatian publik tertuju kepada aksi demo di gedung DPRD Buleleng, Senin pagi sekitar pukul 08.00 Wita terkait batalnya pelantikan Wabup Buleleng Gede Wardana sebagai Bupati Buleleng menggantikan Putu Bagiada yang mencalonkan diri kembali sebagai cabup Buleleng.

Dari informasi yang dirangkum NusaBali, sidang pleno yang berlangsung tertutup itu berjalan cukup sengit. Kelima personel KPUD yang menghelat rapat pleno itu, masing-masing Wayan Rideng (ketua) dan empat anggotanya yakni dr Ida Ketut Adika, Made Yota, Nyoman Sutawan Bendesa, dan IGA Candra Kusuma. Sengitnya rapat, akibat adanya perbedaan pendapat yang tidak kunjung bisa dituntaskan terkait persyaratan administrasi antara duet Ray Yusha/Febri vs Dharma Wijaya/Jodhi. Kondisi itulah yang mengakibatkan terjadinya dua kubu, di mana Rideng, Yota, Sutawan, dan Candra menganggap persyaratan administrasi Ray Yusha/Febri lengkap. Sementara, Adika berpendapat persyaratan Ray Yusha/Febri belum sempurna, yakni ijazah SD-nya. Kendati demikian, rapat pleno akhirnya diakhiri di mana empat personel KPUD menandatangani surat penetapan yang menyatakan Ray Yusha/Febri lolos ditetapkan sebagai cabup/cawabup bersama tiga pasangan calon lainnya. Sedangkan duet Dharma Wijaya/Djodhi dinyatakan gugur.

Hasil rapat pleno itu sendiri baru akan diumumkan secara resmi KPUD Buleleng, Selasa (17/4) ini. Usai rapat pleno, kelima personel KPUD langsung meninggalkan kantor KPUD. Entah kemana mereka perginya. Padahal, saat itu banyak masyarakat yang datang ke KPUD ingin mengetahui hasil rapat pleno dimaksud. Rideng yang dihubungi melalui ponselnya, tidak aktif. Sedangkan dua anggota lainnya dihubungi melalui ponselnya, aktif namun tidak diangkat. Banyak pihak yang menanti kehadiran personel KPUD Buleleng. Sekitar pukul 14.00 Wita, saat kantor KPUD mulai sepi, tiba-tiba muncul Adika. "Saya baru saja makan dari rumah, kalau yang lainnya tidak tahu, mungkin ke Denpasar.," ujar Andika. Adika membenarkan bila paginya telah dihelat rapat pleno. Dia juga membenarkan bila duet Ray Yusha/Febri dengan tiga pasangan calon lainnya ditetapkan sebagai cabup/cawabup, sementara Dharma Wijaya/Djodi gugur. Selain itu, Adika juga membenarkan dirinya tidak ikut menandatangani surat penetapan pasangan cabup/cawabup. "Karena ada persyaratan adminsitrasi yang belum dikonfirmasi, ini ada ketidakadilan," ungkap Adika. Andika kemudian memaparkan, dirinya akan tetap bersikukuh pada sikapnya bahwa verifikasi salah satu persyaratan administrasi duet Ray Yusha/Febri harus disempurnakan dulu. Artinya, persyaratan administrasi Ray Yusha berupa ijazah SD harus diverifikasi. Hingga kemarin, kata Adika, KPUD Buleleng belum melakukan verifikasi terhadap ijazah SD milik Ray Yusha. Dari situlah, Adika melihat adanya ketidakadilan di tubuh KPUD. Betapa tidak, dualisme kepengurusan DPC PNIM yang menjadi bagian persoalan di tubuh KU dan KBS diverifikasi hingga ke Jakarta. Namun ijazah SD Ray Yusha yang nota bene verifikasinya di wilayah Bali, belum juga dilakukan KPUD hingga berakhirnya batas verifikasi, Minggu (15/4). "Di situ ketidakadilannya," sergah Adika. Ketika ditanya apakah jika salah satu personel KPUD tidak ikut tanda tangan dalam rapat pleno penetapan pasangan cabup/cawabup akan berdampak sah-tidaknya hasil pleno, Adika mengatakan tidak tahuDia hanya mengatakan, KPUD harus memverifikasi dulu salah satu persyaratan administrasi Ray Yusha.

Soal ijazah SD milik Ray Yusha ini, juru bicara (jubir) KBS Gede Harja Astawa pernah mengatakan, ijazah di SDN Tajun lulusan tahun 1962 itu terbakar sekitar tahun 1977. Tahun itu pula Ray Yusha mendatangi SDN Tajun untuk minta surat pengganti ijazah dan permintaannya dikabulkan. Dalam ijazah pengganti itulah terdapat sedikit perbedaan nama, di mana nama saat ini Nyoman Ray Yusha, namun sebelumnya Made Raiyusa. Perbedaan nama itu yang belum lama ini diperbaiki menjadi Nyoman Ray Yusha. Kemarin, Harja Astawa yang dihubungi terpisah mengatakan, dirinya belum tahu adanya rapat pleno di KPUD Buleleng yang menetapkan jagonya lolos sebagai salah satu dari empat cabup/cawabup Buleleng. "Saya belum tahu ada rapat pleno itu," ujar Harja.

Menurut Harja, bila benar KPUD sudah menggelar rapat pleno dimana duet Ray Yusha/Febri lolos, menunjukan sudah lengkapnya pelbagai persyaratan administrasi jagonya. Namun, bila sampai ada pihak yang menyatakan salah satu persyaratan administrasi Ray Yusha belum diverifikasi dan harus tetap diverifikasi, hal itu salah besar dan kesannya tendensius. Pasalnya, jadwal verifikasi sudah berakhir pada Minggu. "KPU tidak lakukan lagi verifikasi karena jadwalnya sudah habis dan tidak bisa diperpanjang," ujar Harja. Harja mengatakan, kalau mau bicara keadilan soal verifikasi, buktinya persoalan pemberhentian Putu Bagiada dari BNI yang dipersoalkan Keluarga Besar Marhaen (KBM) Buleleng yang diadukan ke KPUD Buleleng, hingga kini tidak diverifikasi. Selain itu, Harja juga mengatakan, apapun keputusan yang ditetapkan dalam rapat pleno KPUD, sudah final. Bila sampai hasil rapat pleno diubah lagi, bukan tidak mungkin masyarakat akan marah.

Sumber: Nusabali 

Posted by at 09:07:19 | Permanent Link | Comments (0) |
1 2