Politik sekarang ini adalah tawar-menawar. Aroma itu sangat kental jelang pilkada. Koalisi adalah pembungkusnya. Dalam Pilgub Bali, wacana koalisi mulai berembus. Adakah koalisi itu pembungkus dari persekongkolan untuk menggolkan sesorang, demi uang? Adakah wacana koalisi itu sebagai bentuk menjaga Bali dan memunculkan figur pemersatu Bali?
KOALISI dalam pilgub bukan semata mengakomodasi kepentingan partai, namun lebih mengedepankan kepada komitmen menjaga keajegan Bali. Demikian pernyataan Drs. Dewa Rai Budiasa, Made Arimbawa, S.H. I Gusti Ketut Adhiputra, S.H., Wisnumurti, Dr. Kartini dan Ketut Erawan, M.A.
Ketua Fraksi PDI-P DPRD Bali Arimbawa berpendapat, idealnya koalisi pada pilgub hendaknya lebih mengutamakan pengelolaan Bali ke depan ketimbang kepentingan antarparpol. Aspek menjaga Bali itu lebih ditekankan kepada menjaga adat dan budaya, tata ruang dan lingkungannya, termasuk nilai kearifan lokal. ''Jangan sampai ada orang mendadak kepingin menjadi calon, padahal tak kenal apa sesungguhnya yang diinginkan rakyat Bali,'' katanya.
Menurut Rai Budiasa, koalisi antarparpol besar menjamin kondisi Bali lebih kondusif. Kondisi aman dan kondusif itu tak hanya diperlukan di kalangan pariwisata, tetapi Bali keseluruhan. Selain itu koalisi ini harus melahirkan pemimpin yang mampu menjaga Bali.
Arimbawa mengakui kondisi Bali saat ini masih memprihatinkan. Prihatin masih banyaknya pengangguran dan kemiskinan, tercabiknya kawasan suci seperti Loloan Tukad Yeh Poh serta aspek otonomi daerah di kabupaten lebih menonjolkan target meraih pendapatan ketimbang menjaga kelestarian alam dan budaya Bali. Selain itu, koordinasi antardaerah sangat lemah sehingga kerap terjadi tumpang tindih dalam penanganan masalah tertentu seperti pendatang.
Atas dasar itu, mulai saat ini perlu dicermati dan dianalisis figur-figur calon pemimpin Bali yang bisa berkoalisi. Adalah wajar figur yang mampu menyatukan semua komponen termasuk aspek penjagaan Bali mendapat dukungan luas masyarakat.
Ketua KPU Bali A.A. Gede Oka Wisnumurti, M.Si. menyatakan wacana koalisi merupakan momen positif untuk membangun persamaan persepsi dalam melahirkan pemimpin Bali yang ideal. Koalisi parpol juga diharapkan banyak pihak bisa menjadi atmosfir terbangunnya harmonisasi dan stabilitas Bali.
Ia berharap koalisi parpol akan mempersempit ruang terjadinya gangguan stabilitas wilayah karena pesta politik. Elite parpol haruslah memiliki tanggung jawab moral untuk tetap menjaga stabilitas Bali. ''Koalisi parpol akan membuat penjaringan figur yang berkualitas sebagai pemimpin Bali akan lebih efektif. Parpol haruslah bisa memberikan alternatif pilihan figur yang berkualitas kepada pemilih di Bali,'' ujarnya.
Dalam kaitannya dengan Pilgub Bali 2008, koalisi parpol idealnya berangkat dari agenda politik yang sama, yakni terpilihnya pemimpin yang ideal dan terjaga stabilitas Bali. ''Parpol yang membangun koalisi juga harus konsisten. Umumnya koalisi pecah karena masuknya kepentingan pragmatis ekonomis. Ke depan untuk membangun pencitraan yang positif di kalangan politisi, pengelolaan pesta politik hendaknya tetap berangkat dari keinginan untuk membangun Bali,'' sarannya.
Pengamat adat dan budaya Wayan P. Windia, S.H., M.Si. menilai keputusan politik yang diambil elite politik ke depan harus benar-benar berpihak pada kepentingan krama Bali. Dalam konteks pilkada termasuk agenda politik lainnya, kader parpol hendaknya membangun kekuatan politik demi terbangunnya atmosfir harmonisasi Bali, bukan semata berlatar obsesi untuk berkuasa. ''Saya berharap elite parpol benar-benar bisa menjadi pengawal Bali yang ideal. Masalahnya, kebijakan politik dan strategi penyelamatan Bali lahir dari politisi yang dipercaya menduduki jabatan politik,'' ujarnya.
Wakil Ketua DPRD Bali I Gusti Ketut Adhiputra, S.H. menyambut hangat pemikiran tersebut. Sebab, dari koalisi itu pemimpin yang lahir kelak tak akan terlalu pusing harus memikirkan balas jasa. ''Yang pasti hasil koalisi ini akan membuat pemimpin terpilih lebih banyak bisa membela kepentingan rakyat,'' jelasnya.
Bukan hanya Adhiputra yang mendukung koalisi parpol. Rekannya yang juga Wakil Ketua DPRD Bali, Purwa Arsana, S.T., bahkan melihat banyak manfaat dari koalisi ini. Selain hemat biaya, tak perlu banyak janji, juga figur yang lahir bisa lebih fokus pada tugasnya pada pembangunan yang berorientasi pada rakyat, bukan pada partai. ''Apalagi kalau ini dilakukan parpol besar,'' tambahnya.
Karena itu, ia berharap ke depan koalisi yang terbentuk mampu membawa Bali lebih baik dalam berbagai suasana. Soal model koalisi, baik Adhiputra maupun Purwa Arsana tampaknya tak terlalu mempermasalahkannya. Yang penting bagaimana koalisi itu bisa membawa kesejahteraan dan keharmonisan bagi seluruh rakyat.
Pengamat lingkungan Dr. Ni Luh Kartini, M.S. menyatakan pemimpin Bali ke depan harus belajar dari reaksi alam yang mulai melakukan perlawanan terhadap keserakahan manusia. ''Pemimpin Bali ke depan harus banyak belajar dari hukum sekala-niskala. Jangan menjadi pemimpin Bali yang terkutuk karena keserakahan untuk mendapat dana pelicin atau egoisme yang kuat,'' sarannya.
Terhadap wacana koalisi, ia berharap pilihan figur diarahkan kepada tokoh yang benar-benar punya komitmen dan keikhlasan mengabdi pada Bali. Koalisi janganlah diarahkan pada bagi-bagi kursi kekuasaan antarparpol. ''Sebagai orang Bali saya berharap calon pemimpin yang ditawarkan parpol memiliki kedekatan selera dengan krama Bali. Tokoh yang dicalonkan bukan karena kemampuannya membayar kendaraan politik,'' ujarnya.
Pengamat politik UGM Dr. Ketut Putra Erawan, M.A. juga meminta politisi lokal segera melakukan pemetaan terhadap permasalahan kekinian dan yang akan datang dihadapi Bali. Bali yang dilaporkan makin menyempit dan bopeng, menurutnya, adalah masalah serius yang harus diatasi. Perimbangan investasi fisik dengan beban alam Bali haruslah dikaji. ''Pemetaan masalah yang ada akan mempermudah parpol mencarikan figur yang sekiranya mampu mengatasi masalah Bali ke depan,'' ujarnya. (tim BP)
Sumber:Balipost